KOTA PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Jumlah titik panas di Sumatera Selatan mencapai 3.762 titik pada 6 Oktober 2026, berdasarkan data Sistem Monitoring Karhutla (Sipongi) Kementerian Kehutanan. Angka tersebut menjadi jumlah hotspot harian tertinggi sepanjang 2026. Rekor ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan catatan sebelumnya, sekaligus menempatkan Sumatera Selatan dalam kondisi yang perlu mendapat perhatian serius terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
Data Sipongi mencatat rekor sebelumnya berada pada angka 3.059 titik, yang terpantau pada 1 Oktober 2026. Dengan demikian, jumlah terbaru bertambah 703 titik dalam rentang lima hari. Kenaikan tersebut menggambarkan meluasnya indikasi area panas yang terdeteksi satelit di berbagai wilayah Sumsel. Perkembangan ini juga meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan munculnya asap karhutla yang dapat bergerak menuju kawasan permukiman, termasuk Palembang, bergantung pada arah dan kecepatan angin.
Hotspot merupakan titik panas yang terpantau melalui satelit dan dapat menjadi indikasi adanya kebakaran hutan dan lahan. Namun, setiap titik tetap memerlukan pemeriksaan lapangan karena deteksi satelit juga dapat dipengaruhi oleh sumber panas lain atau kondisi permukaan tertentu. Verifikasi tersebut penting untuk menentukan apakah titik panas berkaitan dengan kebakaran aktif, sekaligus memastikan langkah penanganan dilakukan secara tepat.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, menyampaikan bahwa jumlah 3.762 titik tersebut merupakan rekor tertinggi sepanjang 2026. Keterangan itu menegaskan bahwa catatan pada 6 Oktober telah melampaui rekor 1 Oktober. BPBD dan unsur terkait perlu menggunakan informasi tersebut sebagai dasar untuk memperkuat pemantauan, mempercepat verifikasi lapangan, serta mengantisipasi dampak lanjutan terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Rekor ini menjadi peringatan bahwa ancaman karhutla di Sumatera Selatan masih memerlukan respons terkoordinasi.
Sebaran titik panas di Sumatera Selatan menunjukkan konsentrasi yang kuat pada lahan gambut. Dari total 3.762 titik yang terpantau, sebanyak 2.805 titik berada di lahan gambut, sedangkan 957 titik lainnya terdeteksi di lahan mineral. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa wilayah bergambut menjadi area yang paling rentan terhadap munculnya titik panas, terutama ketika cuaca kering, suhu meningkat, dan sumber air permukaan berkurang. Kondisi ini juga dapat memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan apabila tidak segera ditangani.
Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi, yakni 2.197 titik. Angka tersebut terdiri atas 1.786 titik di lahan gambut dan 411 titik di lahan mineral. Dominasi OKI cukup menonjol dibandingkan kabupaten lain, sehingga pemantauan dan pencegahan kebakaran perlu diprioritaskan di kawasan ini. Luasnya area gambut serta aktivitas pemanfaatan lahan menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam pengendalian potensi karhutla.
Posisi berikutnya ditempati Musi Banyuasin dengan 860 titik panas, yang meliputi 654 titik di lahan gambut dan 206 titik di lahan mineral. Banyuasin mencatat 294 titik, terdiri atas 216 titik pada lahan gambut dan 78 titik pada lahan mineral. Sementara itu, Muara Enim memiliki 190 titik, dengan rincian 149 titik di lahan gambut serta 41 titik di lahan mineral. Data tersebut menunjukkan bahwa titik panas tersebar di beberapa wilayah, meskipun jumlahnya tidak merata.
Menurut Sudirman, empat daerah tersebut mencatat angka tertinggi dibandingkan wilayah lain di Sumatera Selatan. Kabupaten atau daerah lainnya berada pada kisaran puluhan titik. Perbedaan jumlah ini menegaskan pentingnya strategi penanganan yang disesuaikan dengan kondisi tiap wilayah, khususnya di daerah dengan konsentrasi titik panas dan hamparan gambut yang luas.
Perkembangan titik panas di Sumatera Selatan pada awal Oktober 2026 menunjukkan akumulasi yang perlu mendapat perhatian, bukan sekadar catatan rekor dalam satu hari. Berdasarkan data Sipongi, terdapat 15.775 hotspot yang terdeteksi di wilayah tersebut sepanjang 1–6 Oktober 2026. Angka ini mencerminkan tingginya konsentrasi titik panas hanya dalam enam hari pertama bulan berjalan.
Jika dibandingkan dengan catatan sepanjang September 2026, jumlah tersebut tergolong sangat besar. Pada bulan sebelumnya, Sipongi mencatat akumulasi 32.789 hotspot di Sumatera Selatan. Dengan demikian, capaian pada 1–6 Oktober telah mendekati setengah dari total titik panas selama September. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa pemantauan terhadap perkembangan hotspot perlu dilakukan secara berkelanjutan, dengan memperhatikan akumulasi harian dan bukan hanya angka tertinggi pada satu waktu.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menaruh perhatian terhadap tingginya jumlah titik panas tersebut karena sebagian besar terdeteksi di kawasan lahan gambut. Kondisi ini menjadi dasar penting bagi penguatan kewaspadaan dan pemantauan di wilayah yang memiliki karakteristik tersebut. Data persebaran hotspot juga perlu terus dicermati untuk melihat perubahan jumlah serta lokasinya dari waktu ke waktu.
Sudirman menilai tingginya jumlah hotspot menunjukkan bahwa potensi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan masih tinggi. Penilaian itu sejalan dengan besarnya akumulasi titik panas pada awal Oktober dibandingkan dengan total yang tercatat selama September. Oleh sebab itu, perkembangan data Sipongi menjadi salah satu indikator yang penting untuk mendukung perhatian BPBD terhadap situasi karhutla di Sumatera Selatan, khususnya pada wilayah lahan gambut.
Kualitas udara di Palembang pada Rabu pagi, 7 Oktober 2026, berada pada level bahaya akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemantauan partikulat halus PM2.5 menunjukkan konsentrasi yang sangat tinggi di sejumlah titik. Kondisi tersebut membuat udara tidak layak dihirup dalam waktu lama, khususnya oleh kelompok yang memiliki sensitivitas terhadap polusi.
Di Stasiun Pemantau Kualitas Udara Musi 2, konsentrasi PM2.5 mencapai tingkat tertinggi 564,2 mikrogram per meter kubik pada pukul 05.00 WIB. Angka itu kemudian berada di kisaran 478,4 mikrogram per meter kubik pada pukul 06.00 WIB dan masih tercatat 402,2 mikrogram per meter kubik satu jam setelahnya. Data tersebut memperlihatkan bahwa meskipun terjadi penurunan, paparan partikulat tetap berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Sementara itu, kondisi lebih parah tercatat di Stasiun Talang Betutu. Konsentrasi PM2.5 mencapai 723,8 mikrogram per meter kubik pada tengah malam, kemudian meningkat hingga 781 mikrogram per meter kubik pada pukul 02.00 WIB. Pada pukul 06.00 WIB, angkanya tercatat 470,2 mikrogram per meter kubik dan turun menjadi 388,4 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00 WIB. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis menyampaikan bahwa asap tersebut masih berasal dari karhutla di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan wilayah sekitarnya.
Sejumlah wilayah Palembang diselimuti asap dengan bau menyengat. Jarak pandang dan kenyamanan warga terganggu, sementara mata terasa perih, terutama ketika berada di luar ruangan atau berkendara. Warga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memakai masker yang mampu menyaring partikulat halus apabila harus keluar rumah. Aktivitas fisik berat di luar ruangan juga perlu dihindari, terutama oleh anak-anak, lansia, serta orang yang sensitif terhadap polusi udara.

