MADIUN, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 October 2026, Pupuk Indonesia (Persero) mendorong petani di wilayah Madiun Raya untuk mengoptimalkan penggunaan pupuk organik bersubsidi Petroganik. Imbauan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi pemupukan berimbang sekaligus menjaga keberlanjutan sistem pertanian. Pemanfaatan pupuk organik diharapkan tidak hanya mendukung pertumbuhan tanaman, tetapi juga membantu mempertahankan produktivitas lahan dalam jangka panjang.
Senior Manager Regional 3A Pupuk Indonesia, Wawan Arjuna, menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan “Media Gathering Regional 3” yang berlangsung di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, pada Jumat. Menurutnya, pemupukan perlu dilakukan secara seimbang dengan memperhatikan kebutuhan tanaman dan kondisi tanah. Karena itu, petani perlu memanfaatkan pupuk anorganik dan organik secara tepat sesuai rekomendasi serta karakteristik lahan.
Petroganik merupakan pupuk organik bersubsidi yang memiliki kandungan karbon organik minimal 15 persen. Kandungan tersebut berperan dalam membantu memperbaiki media tanah, termasuk mendukung peningkatan kualitas struktur dan kemampuan tanah dalam menunjang pertumbuhan tanaman. Penggunaannya dapat menjadi salah satu langkah untuk memulihkan kondisi lahan yang mengalami penurunan kesuburan akibat pemanfaatan secara terus-menerus.
Dengan demikian, pemupukan tidak semata-mata diarahkan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman selama satu musim tanam. Pemberian pupuk organik juga perlu dipandang sebagai investasi bagi kesehatan tanah dan kesinambungan produksi pertanian. Di wilayah Madiun Raya, penerapan pemupukan berimbang melalui pemanfaatan Petroganik diharapkan membantu petani menjaga kesuburan lahan, meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, serta mempertahankan kemampuan tanah untuk mendukung kegiatan budidaya pada musim-musim berikutnya.
Penguatan penggunaan pupuk organik menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian sekaligus mempertahankan kualitas tanah. Wawan menjelaskan bahwa sekitar 73 persen lahan pertanian di Indonesia membutuhkan tambahan bahan organik untuk memenuhi unsur hara tanah. Kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa pemupukan tidak hanya berfokus pada penyediaan unsur hara secara cepat, tetapi juga perlu memperhatikan kemampuan tanah dalam mempertahankan kesuburan dan mendukung pertumbuhan tanaman dalam jangka panjang. Bahan organik dapat membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya simpan air, serta mendukung aktivitas mikroorganisme yang bermanfaat bagi lahan pertanian.
Atas dasar itu, optimalisasi penyerapan Petroganik di Madiun Raya dinilai memiliki peran strategis. Wilayah Madiun Raya mencakup Kota Madiun, Kabupaten Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo, dan Pacitan. Kawasan ini memiliki basis pertanian yang luas dengan beragam komoditas, sehingga pemanfaatan pupuk organik secara tepat dapat mendukung kebutuhan lahan sekaligus memperkuat keberlanjutan produksi. Pupuk Indonesia mengapresiasi kesadaran petani di kawasan tersebut yang dinilai cukup tinggi dalam menggunakan Petroganik. Kesadaran ini menjadi modal penting agar pemupukan berimbang dan pemeliharaan kesuburan tanah dapat diterapkan secara konsisten.
Dukungan terhadap kebutuhan tersebut tercermin dari alokasi Petroganik untuk Madiun Raya yang mencapai sekitar sepertiga dari total alokasi pupuk tersebut di Jawa Timur. Besarnya alokasi menunjukkan potensi penyerapan yang kuat sekaligus kepercayaan terhadap peran pupuk organik dalam sistem pertanian setempat. Penggunaan Petroganik yang dilakukan secara berkelanjutan juga dikaitkan dengan kondisi kesuburan tanah yang disebut semakin baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dengan pengelolaan yang sesuai anjuran dan pemanfaatan berdasarkan kebutuhan lahan, Petroganik diharapkan terus membantu petani menjaga kualitas tanah, meningkatkan efisiensi pemupukan, dan mempertahankan produktivitas pertanian di seluruh Madiun Raya.
Pada 2026, alokasi pupuk Petroganik secara keseluruhan mencapai 146.459 ton. Alokasi tersebut menjadi bagian dari dukungan pemerintah terhadap pemenuhan kebutuhan pupuk bersubsidi bagi petani di berbagai wilayah. Hingga 7 Oktober 2026, penyaluran Petroganik telah mencapai sekitar 68 persen, atau setara dengan 99.771 ton. Data ini menunjukkan perkembangan penyaluran berdasarkan alokasi yang telah ditetapkan untuk tahun berjalan.
Untuk wilayah Madiun Raya, pemerintah menetapkan alokasi Petroganik sebanyak 55.183 ton. Dari jumlah tersebut, realisasi penyerapan hingga periode pelaporan mencapai 61 persen, atau sebesar 33.732 ton. Angka alokasi dan penyerapan di Madiun Raya disampaikan secara terpisah untuk menggambarkan kebutuhan yang telah ditetapkan serta volume pupuk bersubsidi yang sudah ditebus atau disalurkan kepada petani di wilayah tersebut.
Perbedaan alokasi dan realisasi penyerapan menjadi dasar pemantauan penyaluran pupuk bersubsidi pada setiap wilayah. Pemantauan tersebut mencakup ketersediaan Petroganik sesuai alokasi, sekaligus penggunaan pupuk oleh petani dalam mendukung kegiatan pertanian. Informasi mengenai capaian ini juga menjadi bagian dari penyampaian perkembangan penyaluran pupuk bersubsidi selama 2026.
Wawan berharap petani terus mengoptimalkan penebusan pupuk bersubsidi, terutama Petroganik, pada musim tanam Oktober-Maret. Pengoptimalan penebusan diharapkan mendukung pemanfaatan pupuk sesuai kebutuhan kegiatan budidaya. Tujuan yang disampaikan adalah meningkatkan produktivitas pertanian serta menjaga keberlanjutan unsur hara tanah. Dengan demikian, penyaluran Petroganik tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan alokasi, tetapi juga pemanfaatannya dalam mendukung kegiatan pertanian dan kesuburan lahan.
Ketua KTNA Kabupaten Madiun, Suharno, menilai penggunaan Petroganik memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan lahan pertanian di Madiun Raya. Menurutnya, pupuk organik tersebut membantu mempertahankan kesuburan tanah sehingga lahan tetap produktif dan mampu mendukung panen yang melimpah. Penerapan Petroganik juga dinilai telah memberikan hasil optimal terhadap produktivitas pertanian, terutama karena kebutuhan unsur organik tanah dapat dipenuhi secara lebih terarah dan praktis.
Suharno menjelaskan, kepraktisan menjadi salah satu keunggulan Petroganik bagi petani. Pupuk ini berbentuk granul sehingga lebih mudah dibawa, disimpan, dan diaplikasikan di lahan. Kondisi tersebut berbeda dengan kebiasaan sebelumnya, ketika petani harus membawa kotoran sapi ke sawah untuk memenuhi kebutuhan bahan organik. Dengan bentuk granul, proses pemupukan dapat dilakukan secara lebih efisien tanpa mengurangi tujuan utama, yaitu memperbaiki kondisi tanah dan menjaga kemampuan lahan dalam menunjang pertumbuhan tanaman.
Berdasarkan hasil uji laboratorium, kandungan unsur hara atau bahan organik tanah di wilayah Madiun Raya saat ini hanya tersisa sekitar 2 hingga 2,5 persen. Suharno menilai angka tersebut masih sangat kurang untuk menjamin keberlanjutan produksi pertanian. Ia mengkhawatirkan, apabila tidak ada upaya perbaikan, dalam 10 tahun ke depan tanah dapat kehilangan produktivitasnya. Karena itu, pemberian Petroganik diharapkan mampu mengembalikan kesuburan tanah secara bertahap, menjaga lahan tetap sehat, serta mendukung hasil maksimal berbagai komoditas pertanian. Upaya tersebut sekaligus menjadi langkah penting agar produktivitas petani tetap terjaga dan panen dapat berlangsung secara berkelanjutan.

