JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 October 2026, Raffi Ahmad mengingatkan generasi muda agar tidak memasuki dunia investasi hanya karena mengikuti tren atau mengalami fear of missing out (FOMO). Menurutnya, keputusan menempatkan dana di pasar keuangan harus didasarkan pada tujuan yang jelas, bukan semata-mata keinginan untuk mengikuti pilihan orang lain. Pesan tersebut disampaikan Raffi di Jakarta pada Kamis (8/10/2026).
Dalam kesempatan itu, Raffi hadir dalam kapasitasnya sebagai utusan khusus presiden bidang pembinaan generasi muda dan pekerja seni. Ia menilai anak muda memiliki peluang besar untuk membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini. Namun, peluang tersebut perlu diiringi dengan pengetahuan yang memadai agar investasi tidak berubah menjadi keputusan impulsif yang berpotensi menimbulkan kerugian.
Selain menetapkan tujuan, pemahaman terhadap instrumen yang dipilih juga menjadi bagian penting sebelum dana ditempatkan. Setiap produk keuangan memiliki karakteristik, tingkat likuiditas, potensi imbal hasil, serta risiko yang berbeda. Karena itu, generasi muda perlu mempelajari cara kerja saham, reksa dana, obligasi, deposito, atau instrumen lainnya sebelum mengambil keputusan.
Raffi juga mengingatkan pentingnya memperhitungkan risiko sesuai kemampuan finansial. Dana investasi sebaiknya tidak mengganggu kebutuhan pokok, kewajiban, dan dana darurat. Dengan pendekatan tersebut, investasi dapat dilakukan secara lebih terencana dan disiplin, sekaligus mengurangi kemungkinan keputusan yang dipengaruhi tekanan tren sesaat. Bagi anak muda, langkah awal yang bijak bukan mencari keuntungan tercepat, melainkan membangun pemahaman dan kebiasaan mengelola uang secara bertanggung jawab.
Raffi Ahmad mengimbau calon investor pemula agar tidak terburu-buru menempatkan dana hanya karena mengikuti tren atau melihat keberhasilan orang lain. Sebelum memilih instrumen, masyarakat perlu meluangkan waktu untuk mempelajari cara kerja produk tersebut, tujuan penggunaannya, biaya yang mungkin dikenakan, serta potensi keuntungan dan kerugiannya. Pengetahuan dasar menjadi bekal penting agar keputusan investasi dibuat berdasarkan pertimbangan yang matang, bukan semata-mata karena rasa takut tertinggal atau dorongan sesaat.
Ia menekankan bahwa masyarakat sebaiknya tidak menanamkan dana pada sesuatu yang belum dipahami. Apabila informasi mengenai suatu produk masih membingungkan, calon investor dapat mencari penjelasan dari pendamping, penasihat, atau tenaga profesional yang memiliki reputasi baik dan dapat dipercaya. Sumber informasi juga perlu diperiksa secara kritis, terutama ketika terdapat tawaran keuntungan tinggi, janji hasil cepat, atau ajakan untuk segera menyetor dana tanpa penjelasan yang memadai. Sikap berhati-hati dapat membantu mengurangi risiko salah mengambil keputusan.
Pemahaman terhadap risiko perlu berjalan bersama dengan penilaian atas kondisi keuangan pribadi. Setiap instrumen memiliki tingkat risiko, karakteristik, likuiditas, dan jangka waktu yang berbeda. Produk dengan potensi imbal hasil lebih tinggi umumnya juga dapat mengalami penurunan nilai yang lebih besar, sedangkan instrumen yang lebih stabil belum tentu memberikan hasil maksimal dalam waktu singkat. Karena itu, pilihan investasi harus disesuaikan dengan pendapatan, kebutuhan dana, tanggungan, dana darurat, serta kemampuan seseorang menerima kemungkinan kerugian.
Raffi juga mendorong investor pemula untuk bersikap rasional dan konsisten dalam belajar. Mereka tidak perlu memaksakan diri mengikuti pilihan yang sedang populer apabila produk tersebut tidak sesuai dengan tujuan dan profil keuangannya. Dengan memahami produk terlebih dahulu, mengukur risikonya, dan menentukan jangka waktu secara realistis, keputusan investasi dapat dilakukan secara lebih disiplin. Pendekatan tersebut membantu masyarakat membangun kebiasaan finansial yang sehat serta menghindari keputusan impulsif yang berpotensi menimbulkan kerugian.
Raffi Ahmad mengingatkan anak muda agar tidak menjadikan dana kebutuhan sehari-hari sebagai modal investasi. Uang yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok harus tetap dipisahkan dari dana yang hendak dialokasikan untuk investasi. Menurut penekanan tersebut, investasi tidak boleh mengorbankan kemampuan seseorang untuk membiayai kehidupan sehari-hari, termasuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya mendasar dan tidak dapat ditunda.
Peringatan ini penting karena keputusan investasi seharusnya dibuat setelah kebutuhan hidup terpenuhi, bukan dengan mengambil dana yang masih diperlukan dalam waktu dekat. Ketika uang untuk hidup digunakan sebagai modal, seseorang dapat menghadapi tekanan keuangan apabila nilai investasi berubah atau dana tersebut belum dapat digunakan kembali sesuai kebutuhan. Kondisi itu juga berpotensi mendorong keputusan yang terburu-buru, terutama ketika investor merasa harus segera mengambil tindakan demi memenuhi pengeluaran yang sudah direncanakan.
Karena itu, setiap keputusan investasi perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing. Kemampuan pendapatan, kewajiban, kebutuhan rutin, serta ketersediaan dana yang benar-benar dapat dialokasikan perlu dipertimbangkan secara menyeluruh. Tidak semua orang memiliki keadaan finansial yang sama, sehingga keputusan yang sesuai bagi satu orang belum tentu tepat bagi orang lain.
Selain kondisi keuangan, karakter risiko juga menjadi pertimbangan penting. Seseorang perlu memahami sejauh mana dirinya mampu menghadapi perubahan nilai dan ketidakpastian tanpa mengganggu kebutuhan hidup. Investasi sebaiknya dilakukan dengan pertimbangan yang tenang dan tujuan yang jelas, bukan karena dorongan untuk mengikuti keputusan orang lain. Pesan Raffi tersebut menegaskan bahwa menjaga kestabilan kebutuhan pokok harus menjadi prioritas sebelum memikirkan pengalokasian dana untuk investasi.
Raffi Ahmad membedakan penghasilan dan kekayaan sebagai dua hal yang sering dianggap sama. Penghasilan adalah uang yang diterima secara berkala, misalnya gaji, honor, atau pendapatan dari pekerjaan dan usaha. Sementara itu, kekayaan mencakup kepemilikan aset yang memiliki nilai dalam jangka panjang, seperti properti, investasi, serta nilai kepemilikan dalam sebuah bisnis. Perbedaan ini penting dipahami agar anak muda tidak mengukur keberhasilan hanya dari besarnya uang yang masuk setiap bulan.
Menurut pandangan Raffi, keinginan untuk segera menyandang status kaya tidak perlu menjadi tekanan. Langkah yang lebih sehat adalah mengasah kemampuan, meningkatkan kualitas kerja, kemudian mengelola penghasilan secara bertahap. Ketika pendapatan bertambah, gaya hidup juga tidak semestinya langsung meningkat secara berlebihan. Pengeluaran tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan agar sebagian penghasilan dapat dialokasikan untuk tabungan, perlindungan finansial, dan pembelian aset.
Perubahan pola pikir tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian finansial. Generasi muda dapat mulai menyusun portofolio aset sesuai tujuan dan profil risikonya, meskipun dimulai dari nominal yang terbatas. Proses ini memerlukan kemauan untuk terus belajar, termasuk dari pengalaman lintas generasi, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang mengubah cara orang bekerja, berbisnis, dan berinvestasi.
Raffi juga menekankan bahwa kesuksesan membutuhkan proses. Kegagalan tidak selalu berarti akhir, melainkan dapat dipandang sebagai kondisi belum berhasil yang memberikan pelajaran untuk memperbaiki strategi. Karena itu, reputasi, karakter, kredibilitas, dan relasi merupakan fondasi karier serta bisnis yang lebih penting daripada hasil cepat. Aset finansial perlu dibangun bersamaan dengan kualitas diri, sebab kepercayaan dan kemampuan mempertahankan nilai akan menentukan keberlanjutan kekayaan yang diperoleh.





