Machfudhoh Aly Ubaid Berpulang, Jenazah Dimakamkan di Tambakberas

Machfudhoh Aly Ubaid Berpulang, Jenazah Dimakamkan di Tambakberas

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 October 2026, Kabar duka datang dari keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, dan Nahdlatul Ulama. Hj. Machfudhoh Aly Ubaid telah berpulang pada Ahad, 4 Oktober 2026, sekitar pukul 22.30 WIB. Almarhumah mengembuskan napas terakhir di kediamannya yang berada di kawasan Kalibata, Jakarta.

Kepergian Hj. Machfudhoh Aly Ubaid menjadi kehilangan mendalam bagi keluarga besar Bahrul Ulum Tambakberas. Nama almarhumah selama ini memiliki keterkaitan erat dengan lingkungan pesantren tersebut, yang berada di Jombang. Kabar wafatnya juga menjadi duka bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama, mengingat posisi almarhumah sebagai mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Informasi mengenai wafatnya Hj. Machfudhoh Aly Ubaid disampaikan sebagai kabar duka bagi berbagai pihak yang berada dalam lingkungan Bahrul Ulum dan Nahdlatul Ulama. Almarhumah wafat di rumahnya di Kalibata pada malam hari, meninggalkan duka bagi keluarga besar yang memiliki hubungan dengan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas serta organisasi Nahdlatul Ulama.

Sebagai mustasyar PBNU, Hj. Machfudhoh Aly Ubaid menempati posisi dalam jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Karena itu, kabar berpulangnya almarhumah tidak hanya dirasakan oleh keluarga besar Bahrul Ulum Tambakberas, tetapi juga oleh keluarga besar NU. Wafatnya almarhumah pada Ahad malam, 4 Oktober 2026, di kediamannya di kawasan Kalibata, Jakarta, menjadi kabar duka yang menyelimuti kedua lingkungan tersebut.

Machfudhoh Aly Ubaid dikenal sebagai putri sulung pasangan KH Abdul Wahab Chasbullah dan Nyai Hj. Sa’diyah. Dalam sejumlah keterangan mengenai keluarga, almarhumah juga disebut dengan nama Rahmah binti Abdul Majid. Penyebutan nama tersebut menjadi bagian dari identitas yang melekat pada sosoknya, terutama dalam lingkungan keluarga dan jaringan pesantren yang memiliki hubungan dengan perjalanan hidupnya.

Hubungan Machfudhoh Aly Ubaid dengan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tidak hanya berkaitan dengan latar belakang keluarganya. Almarhumah tercatat sebagai alumnus Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Keterangan ini menempatkannya sebagai bagian dari keluarga besar pesantren, baik melalui hubungan keluarga maupun pengalaman pendidikan yang pernah dijalaninya di lingkungan tersebut.

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas menjadi salah satu lingkungan penting dalam keterkaitan sosial dan pendidikan almarhumah. Sebagai alumnus, Machfudhoh Aly Ubaid memiliki hubungan dengan para alumni dan komunitas yang terbentuk dari lembaga pendidikan tersebut. Hubungan itu juga tercermin dalam keterlibatannya pada organisasi alumni, sebagaimana disampaikan oleh H. Abdurrahman.

Menurut keterangan H. Abdurrahman, Machfudhoh Aly Ubaid merupakan wakil pengurus pusat Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum. Posisi tersebut menunjukkan adanya peran almarhumah dalam lingkup organisasi yang menghimpun para lulusan Bahrul Ulum. Informasi mengenai jabatan ini sekaligus memperjelas hubungan kelembagaan almarhumah dan jaringan alumni pesantren.

Dengan demikian, identitas Machfudhoh Aly Ubaid mencakup kedudukannya sebagai putri sulung KH Abdul Wahab Chasbullah dan Nyai Hj. Sa’diyah, serta keterkaitannya dengan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sebagai alumnus. Nama Rahmah binti Abdul Majid dan keterangan tentang perannya sebagai wakil pengurus pusat Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum melengkapi informasi faktual mengenai keluarga serta hubungan almarhumah dengan lingkungan pesantren.

H. Abdurrahman menyampaikan bahwa jenazah Machfudhoh Aly Ubaid diberangkatkan dari Jakarta menuju Jombang, Jawa Timur, pada Senin, 5 Oktober 2026. Proses pemberangkatan dilakukan sekitar pukul 02.30 WIB. Perjalanan tersebut menjadi tahap awal sebelum jenazah dipulangkan ke lingkungan pesantren dan keluarga besar di Jombang.

Setibanya di Jombang, jenazah direncanakan dimakamkan di kompleks pemakaman Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Berdasarkan keterangan Abdurrahman, pemakaman kemungkinan dilaksanakan setelah salat Asar. Waktu tersebut masih menyesuaikan dengan proses perjalanan, kedatangan jenazah, serta persiapan yang dilakukan oleh pihak keluarga dan pengelola pesantren.

Kompleks pemakaman Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas dipilih sebagai tempat peristirahatan terakhir karena memiliki keterkaitan erat dengan lingkungan keluarga dan tradisi keilmuan pesantren. Lokasi itu juga berada dalam satu kompleks dengan makam KH Abdul Wahab Chasbullah, yang dikenal sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama.

Keterangan mengenai perjalanan dan rencana pemakaman tersebut disampaikan untuk memberikan informasi kepada keluarga, kerabat, serta masyarakat yang hendak mengikuti proses penghormatan terakhir. Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui perkiraan waktu kedatangan jenazah sekaligus rencana pelaksanaan pemakaman di Tambakberas.

Abdurrahman juga meminta doa agar seluruh rangkaian proses pemulangan dan pemakaman berjalan lancar. Keluarga berharap masyarakat memberikan penghormatan secara tertib serta mendoakan almarhumah agar mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Rencana pemakaman setelah salat Asar tetap bergantung pada kondisi di lapangan dan perkembangan perjalanan dari Jakarta menuju Jombang.

H. Abdurrahman mengenang Hj. Machfudhoh Aly Ubaid sebagai sosok yang memiliki karakter kuat, sederhana, dan konsisten dalam mengabdikan diri kepada masyarakat. Menurutnya, almarhumah tidak hanya dikenal sebagai tokoh politik, tetapi juga sebagai pribadi yang mampu menjaga hubungan baik dengan berbagai lapisan masyarakat. Sikap terbuka dan kepeduliannya membuat banyak orang merasa dekat, terutama mereka yang pernah bekerja sama, berdiskusi, atau menerima nasihat darinya.

Meski telah memasuki usia senja, Hj. Machfudhoh Aly Ubaid tetap menunjukkan semangat tinggi dalam berorganisasi. Ia masih aktif memberikan perhatian terhadap berbagai kegiatan dan persoalan yang menyangkut kepentingan umat. Bagi H. Abdurrahman, semangat tersebut mencerminkan keteguhan almarhumah dalam menjalankan amanah. Usia tidak menjadi alasan untuk berhenti berkontribusi, selama masih ada kesempatan untuk memberikan manfaat bagi organisasi dan masyarakat.

Perhatian almarhumah juga ditujukan kepada generasi muda. Ia kerap menyampaikan nasihat mengenai pentingnya pendidikan, ketekunan dalam berorganisasi, serta penguatan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai keagamaan. Nasihat itu disampaikan dengan cara yang mudah diterima, sehingga menjadi bekal bagi anak-anak muda dalam menentukan sikap dan menjalani tanggung jawab. Kepeduliannya tidak berhenti pada kata-kata, tetapi tampak dalam kesediaannya mendengarkan serta membimbing mereka yang membutuhkan arahan.

H. Abdurrahman menyebut Hj. Machfudhoh Aly Ubaid sebagai pribadi yang tidak banyak mengeluh dalam menghadapi berbagai keadaan. Ia juga merangkul semua kalangan, bukan hanya orang-orang dari kelompok atas atau mereka yang berkecukupan, melainkan juga masyarakat bawah. Sikap tersebut menjadi pelajaran penting bagi para alumni yang pernah mengenal dan berinteraksi dengannya, terutama tentang ketulusan melayani, keluasan pergaulan, dan pentingnya tetap peduli kepada sesama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *