KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 October 2026, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Said Abdullah meminta seluruh kader partai merapatkan barisan untuk menghadapi Pemilu 2029. Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan konsolidasi internal yang dirangkaikan dengan bakti sosial di Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang pada Jumat (9/10). Pertemuan itu menjadi ruang untuk memperkuat koordinasi sekaligus menyatukan langkah seluruh struktur partai di daerah.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pengurus PDI Perjuangan dari berbagai tingkatan, mulai dari DPC, PAC, hingga ranting. Kehadiran struktur partai secara berjenjang menunjukkan pentingnya komunikasi yang teratur dalam mempersiapkan agenda politik mendatang. Konsolidasi juga menjadi kesempatan bagi para kader untuk menyamakan pemahaman mengenai arah perjuangan partai serta memperkuat hubungan kerja antarorganisasi.
Dalam pesannya, Said menekankan bahwa soliditas internal harus menjadi perhatian utama seluruh kader. Menurut dia, perbedaan pandangan yang mungkin muncul di dalam organisasi perlu dikelola melalui dialog dan keputusan bersama. Dengan demikian, setiap unsur partai dapat bekerja secara terkoordinasi, menjaga kedisiplinan organisasi, dan menjalankan tugas sesuai tanggung jawab masing-masing.
Said menilai kekompakan internal merupakan modal utama untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat sekaligus mengejar kemenangan politik pada Pemilu 2029. Kepercayaan publik, menurutnya, tidak hanya dibangun melalui kegiatan politik, tetapi juga melalui kehadiran partai dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Karena itu, bakti sosial yang digelar bersamaan dengan konsolidasi dipandang sebagai bagian dari upaya mendekatkan kader dengan warga.
Ia mendorong seluruh pengurus dan kader agar menjaga kesinambungan kerja organisasi di setiap wilayah. Struktur DPC, PAC, dan ranting diharapkan mampu memperkuat pelayanan politik, menyerap aspirasi warga, serta menyampaikan program partai secara konsisten. Langkah tersebut dinilai penting agar persiapan menuju Pemilu 2029 tidak berlangsung secara sporadis, melainkan melalui kerja bersama yang terencana dan berkelanjutan.
Said Abdullah mengingatkan agar konsolidasi kader PDI Perjuangan menjelang Pemilu 2029 tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Konsolidasi, menurutnya, harus menghasilkan kesamaan visi, sikap, dan langkah di seluruh tingkatan organisasi. Setiap kader perlu memahami arah perjuangan partai serta menjalankan tugas berdasarkan keputusan yang telah disepakati bersama.
Ia menilai keseragaman orientasi penting untuk mencegah partai terseret ke dalam konflik internal. Perbedaan pandangan seharusnya diselesaikan melalui mekanisme organisasi, bukan berkembang menjadi perselisihan terbuka, saling memfitnah, atau pembentukan faksi. Apabila dibiarkan, keadaan tersebut dapat mengganggu kerja politik, mengikis kepercayaan publik, dan mengancam keberlangsungan organisasi.
Said juga mengingatkan bahwa pertengkaran internal dapat berdampak langsung terhadap eksistensi PDI Perjuangan. Ketika energi kader habis untuk berkonflik, perhatian terhadap agenda rakyat dan konsolidasi elektoral akan terabaikan. Perselisihan yang tampil ke ruang publik pun berpotensi menimbulkan kesan bahwa organisasi tidak mampu mengelola perbedaan secara dewasa.
Karena itu, ia meminta seluruh struktur partai menjalankan keputusan dan arahan organisasi secara konsisten. Setiap instruksi perlu diterjemahkan dalam tindakan yang selaras, bukan ditafsirkan ulang berdasarkan kepentingan kelompok atau individu. Ia menekankan pentingnya satu komando agar tidak muncul tafsir berbeda yang dapat membingungkan kader dan melemahkan koordinasi. Dengan disiplin organisasi, soliditas diharapkan menjadi landasan bagi persiapan politik menuju Pemilu 2029.
Selain membenahi kekompakan organisasi, Said Abdullah meminta kader PDIP memperkuat hubungan langsung dengan masyarakat. Konsolidasi internal, menurut dia, tidak akan cukup untuk mendukung target politik pada Pemilu 2029 apabila tidak disertai kehadiran yang nyata di tengah warga. Kader perlu memahami persoalan masyarakat, mendengarkan aspirasi mereka, serta membangun komunikasi yang terbuka dan berkelanjutan.
Said menekankan bahwa kepercayaan rakyat harus menjadi perhatian utama. Kepercayaan tersebut tidak lahir semata-mata dari kegiatan politik menjelang pemilu, melainkan dari interaksi yang konsisten dan kepedulian terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena itu, kader didorong untuk tidak menjaga jarak dengan warga dan menjadikan lingkungan sekitar sebagai ruang pengabdian politik.
Menurut Said, perhatian sederhana dapat memberikan makna besar bagi masyarakat. Menyapa warga, menanyakan kabar, atau hadir untuk mendengarkan keluhan dapat membuat seseorang merasa dihargai, meskipun pada saat itu ia tidak sedang membutuhkan bantuan. Sikap tersebut menunjukkan bahwa hubungan partai dan masyarakat tidak seharusnya dibangun hanya berdasarkan kebutuhan praktis atau kepentingan elektoral.
Pesan itu juga berkaitan dengan pandangan Said mengenai kedudukan rakyat dalam kehidupan bernegara. Rakyat merupakan pemilik kehormatan dan kedaulatan, sedangkan wakil rakyat menjalankan amanah untuk mewakili mereka. Oleh sebab itu, setiap kader dan anggota legislatif perlu menempatkan pelayanan kepada masyarakat sebagai tanggung jawab utama. Dalam kegiatan sosial yang dilakukan, bantuan disalurkan kepada 300 penerima manfaat, disertai santunan bagi 20 anak yatim. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian sekaligus sarana memperkuat hubungan langsung dengan masyarakat.
Said Abdullah mendorong konsolidasi kader PDI Perjuangan untuk menghadapi Pemilu 2029 dengan target politik yang lebih luas. Menurutnya, partai tidak cukup hanya berupaya memenangkan pemilihan legislatif. Konsolidasi juga harus diarahkan untuk menempatkan kader PDI Perjuangan sebagai kepala daerah di berbagai wilayah. Dengan demikian, kekuatan partai di tingkat legislatif dapat berjalan seiring dengan kepemimpinan eksekutif yang berasal dari internal partai.
Kabupaten Malang menjadi salah satu perhatian utama dalam target tersebut. Said menyoroti bahwa daerah itu hingga kini belum memiliki bupati yang berasal dari kader PDI Perjuangan. Ia menegaskan, partai tidak ingin terus-menerus hanya mendukung dan mencalonkan bupati yang bukan kader sendiri. Pernyataan itu menunjukkan pentingnya menyiapkan kader internal agar mampu tampil sebagai calon kepala daerah dan memperoleh dukungan politik dalam kontestasi mendatang.
Karena itu, Said meminta DPD dan seluruh jajaran PDI Perjuangan mulai menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk mewujudkan target tersebut. Persiapan itu mencakup konsolidasi organisasi serta penguatan kesiapan kader menghadapi proses politik menuju Pemilu 2029. Upaya tersebut diharapkan dapat memperbesar peluang partai untuk tidak hanya memenangkan kursi legislatif, tetapi juga menghasilkan kepala daerah dari kader sendiri.
Said turut menyoroti posisi gubernur Jawa Timur yang belum diisi oleh kader PDI Perjuangan. Ia berharap, pada kontestasi mendatang, partai dapat mengusung calon sendiri untuk posisi tersebut. Saat ini, kader PDI Perjuangan yang menjadi kepala daerah di Jawa Timur adalah duet Eri Cahyadi dan Armudji di Surabaya, Ipuk Fiestiandani di Banyuwangi, Hanindhito Himawan di Kabupaten Kediri, serta Mochamad Nur Arifin di Trenggalek.

