JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 October 2026, Survei Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) memotret peta awal elektabilitas partai politik menuju Pemilu 2029. Temuan utama survei tersebut menunjukkan bahwa pilihan masyarakat masih beragam. Belum terdapat satu partai politik yang sepenuhnya mendominasi preferensi responden, sementara sebagian masyarakat masih mempertimbangkan pilihan mereka.
Salah satu catatan penting dalam survei itu ialah sebanyak 22,5 persen responden tidak memberikan jawaban ketika ditanya mengenai partai politik yang akan dipilih. Angka tersebut menjadi indikator bahwa peta dukungan elektoral masih terbuka dan berpotensi mengalami perubahan seiring perkembangan isu politik, kinerja partai, serta munculnya figur atau agenda baru menjelang pemilu.
Peneliti LKPI, Irwan Ardiansyah, menyampaikan temuan tersebut di Jakarta pada Senin. Ia menjelaskan bahwa proporsi responden yang belum memberikan jawaban menunjukkan masih adanya kelompok masyarakat yang belum menentukan pilihan partai politik. Menurutnya, kondisi itu perlu dibaca sebagai bagian penting dari dinamika elektabilitas, bukan semata-mata sebagai ketiadaan preferensi.
Menurut LKPI, angka 22,5 persen memperlihatkan bahwa proporsi responden yang belum memilih atau belum menentukan jawaban masih cukup besar. Kelompok ini dapat menjadi sasaran pendekatan berbagai partai politik karena sikapnya belum terikat pada pilihan tertentu. Namun, perubahan pilihan tidak berlangsung secara otomatis dan akan dipengaruhi oleh kemampuan setiap partai dalam menyampaikan program, membangun kepercayaan, serta merespons kebutuhan masyarakat.
Temuan tersebut juga memperlihatkan bahwa hasil survei pada tahap ini belum dapat dipandang sebagai gambaran final mengenai hasil Pemilu 2029. Preferensi pemilih masih mungkin bergerak dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, angka elektabilitas perlu dibaca bersama tingkat keterkenalan partai, kecenderungan pemilih yang belum menentukan pilihan, dan perkembangan komunikasi politik yang berlangsung menjelang tahapan pemilu.
Survei LKPI memotret posisi elektabilitas partai politik dalam peta dukungan menuju Pemilu 2029. Berdasarkan hasil yang disajikan, Partai Gerindra menempati posisi teratas dengan elektabilitas sebesar 17,3 persen. Angka tersebut menjadi persentase tertinggi di partai politik yang tercantum dalam hasil survei.
Posisi berikutnya ditempati PDI Perjuangan dengan elektabilitas 16,8 persen. Dengan demikian, terdapat selisih 0,5 poin persentase Partai Gerindra dan PDI Perjuangan dalam hasil pengukuran LKPI. Kedua partai tersebut berada pada urutan teratas berdasarkan angka elektabilitas yang ditampilkan.
Data ini memberikan gambaran mengenai susunan peringkat dukungan partai politik pada saat survei dilakukan. Partai Gerindra tercatat memperoleh angka 17,3 persen, sedangkan PDI Perjuangan memperoleh 16,8 persen. Penyajian kedua angka tersebut menunjukkan posisi masing-masing partai secara langsung dalam daftar elektabilitas.
Hasil survei LKPI tersebut dapat dibaca sebagai potret tingkat elektabilitas partai pada periode pengumpulan data. Dalam urutan yang tersedia, Partai Gerindra berada di peringkat pertama, disusul PDI Perjuangan di peringkat kedua. Informasi ini mencatat posisi elektabilitas kedua partai tanpa mengubahnya menjadi penilaian lain atau kesimpulan mengenai hasil Pemilu 2029.
Hasil survei LKPI mencatat sejumlah partai politik lain dengan tingkat elektabilitas yang berada pada rentang 4,1 hingga 7,3 persen. Partai NasDem memperoleh angka tertinggi di kelompok yang tercantum dalam bagian ini, yakni 7,3 persen. Di bawahnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mencatat elektabilitas sebesar 6,2 persen, sedangkan Partai Golkar berada pada angka 6,1 persen. Data tersebut menggambarkan perolehan masing-masing partai sebagaimana tercatat dalam survei, tanpa mengubah ukuran persentase yang disampaikan.
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memperoleh elektabilitas 5,5 persen. Berikutnya, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sama-sama mencatat angka 4,3 persen. Kesamaan persentase itu menempatkan kedua partai pada tingkat perolehan yang identik dalam hasil survei. Partai Demokrat tercatat memperoleh elektabilitas 4,1 persen, atau menjadi angka terendah di partai-partai yang disebutkan secara individual pada kelompok ini.
Selain perolehan partai secara individual, survei juga mencantumkan kategori “partai lainnya” yang mencakup gabungan partai-partai di luar parlemen. Kelompok tersebut memperoleh elektabilitas sebesar 5,6 persen. Angka ini disajikan sebagai satu kategori gabungan, sehingga tidak merinci persentase masing-masing partai di dalamnya. Dengan demikian, daftar hasil survei pada bagian ini memuat angka untuk Partai NasDem, PKB, Golkar, PKS, PAN, PSI, dan Demokrat, serta perolehan kolektif partai di luar parlemen dalam kategori partai lainnya.
Survei LKPI dilaksanakan pada 8–20 September 2026 untuk memotret perkembangan peta elektabilitas partai politik menuju Pemilu 2029. Pengumpulan data mencakup 36 provinsi yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Cakupan tersebut dirancang untuk menghadirkan gambaran opini publik secara lebih luas, dengan mempertimbangkan keragaman karakteristik sosial, politik, dan demografis masyarakat di berbagai daerah.
Penelitian ini melibatkan 1.246 responden yang dipilih menggunakan metode multistage random sampling. Melalui metode tersebut, pemilihan responden dilakukan secara bertahap berdasarkan wilayah dan unit sampel yang telah ditentukan, sehingga setiap anggota populasi memiliki peluang untuk terpilih. Dengan tingkat kepercayaan 95 persen, survei ini memiliki margin of error kurang lebih 3,1 persen. Angka tersebut menjadi acuan dalam membaca perbedaan hasil, terutama ketika selisih elektabilitas antarpartai berada dalam rentang yang relatif berdekatan.
Wawancara dilakukan melalui dua saluran, yakni tatap muka dan panggilan telepon, dengan seluruh proses dipandu oleh pewawancara. Wawancara telepon diarahkan ke nomor ponsel virtual yang dihasilkan secara acak. Dalam pelaksanaannya, tingkat kontak melalui telepon selular mencapai 35 persen, sedangkan tingkat respons tercatat 33,1 persen. Data dari saluran ini digunakan untuk melengkapi jangkauan pengumpulan informasi dan menjangkau responden yang tidak ditemui melalui pendekatan langsung.
Adapun wawancara tatap muka mencapai tingkat pelaksanaan 64,4 persen, dengan tingkat respons sebesar 58,3 persen. Perpaduan kedua metode tersebut memungkinkan proses survei menjangkau responden dalam kondisi dan lokasi yang beragam. Seluruh angka, termasuk tingkat elektabilitas dan kecenderungan pilihan politik, perlu dipahami dalam konteks waktu pelaksanaan, jumlah responden, cakupan wilayah, metode pengambilan sampel, serta batas ketelitian yang menyertainya.

