JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 October 2026, Usaha kuliner milik Nunung di Solo, Jawa Tengah, tengah menghadapi penurunan omzet yang sangat tajam. Dalam dua hingga tiga bulan terakhir, pemasukan dari warung makan tersebut disebut merosot dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini menjadi perhatian karena usaha itu selama ini menjadi salah satu kegiatan utama Nunung dalam menjalankan bisnis makanan.
Warung yang dikelolanya masih tetap beroperasi dan tidak mengalami penutupan. Namun, suasana di lokasi kerap berubah secara mendadak. Pada waktu-waktu tertentu, warung tersebut terlihat sepi pengunjung, padahal sebelumnya mampu menarik pelanggan untuk menikmati hidangan yang disediakan. Berkurangnya jumlah pembeli kemudian berdampak langsung terhadap omzet harian dan membuat keberlangsungan usaha menjadi sorotan.
Nunung diketahui telah beberapa tahun fokus mengembangkan bisnis makanan di Solo. Ia mengandalkan sajian khas Jawa yang dibuat menggunakan resep-resep lawas yang telah dikuasainya. Pilihan menu tersebut menjadi bagian dari identitas warung sekaligus upaya untuk mempertahankan cita rasa tradisional di tengah persaingan usaha kuliner.
Penurunan jumlah pelanggan itu tidak serta-merta membuat Nunung menghentikan aktivitasnya. Ia masih berusaha menjalankan warung dan mempertahankan menu yang selama ini menjadi andalan. Meski demikian, kondisi ketika tempat makan mendadak sepi menimbulkan pertanyaan, terutama karena penurunan tersebut berlangsung selama beberapa bulan dan berpengaruh besar terhadap pendapatan.
Situasi itu kemudian dikaitkan dengan cerita mengenai temuan bungkusan berisi tanah yang menarik perhatian. Pembahasan mengenai hal tersebut muncul bersamaan dengan sorotan terhadap warung Nunung yang mengalami penurunan omzet. Berbagai informasi terkait kondisi usaha tersebut pun menjadi perhatian publik, sementara warung tetap menjalankan kegiatan seperti biasa dan melayani pelanggan yang datang.
Nunung menceritakan bahwa ia beberapa kali menemukan benda yang dianggap mencurigakan di sekitar tempat usahanya. Menurut keterangannya, benda tersebut berupa bungkusan berisi tanah yang ia klaim sebagai tanah kuburan. Temuan itu disebut tidak hanya terjadi sekali, sehingga membuatnya merasa heran sekaligus khawatir terhadap kondisi warung makan yang dikelolanya.
Berdasarkan cerita Nunung, salah satu bungkusan ditemukan di halaman parkir. Benda lain disebut berada di area yang mengarah menuju halaman joglo warung. Ia mengaku tidak mengetahui bagaimana bungkusan tersebut bisa berada di lokasi itu. Nunung juga belum dapat memastikan apakah benda-benda tersebut sengaja dilempar oleh seseorang, diletakkan secara langsung, atau terbawa dengan cara lain.
Kepada awak media, Nunung menunjukkan foto sebuah bungkusan berwarna putih yang tampak kumal. Di dalam atau pada bagian yang terbuka dari bungkusan itu terlihat benda berwarna cokelat tua yang menyerupai tanah. Ia menyampaikan bahwa isi tersebut merupakan tanah kuburan, tetapi keterangan itu masih berdasarkan klaim dan pengamatannya, bukan hasil pemeriksaan atau verifikasi pihak berwenang.
Penemuan bungkusan-bungkusan tersebut kemudian dikaitkan Nunung dengan suasana warung yang mendadak sepi. Namun, hubungan benda yang ditemukan dan berkurangnya pengunjung belum dapat dipastikan. Tidak ada informasi terverifikasi mengenai asal-usul bungkusan, pihak yang menaruhnya, maupun jenis tanah di dalamnya. Karena itu, cerita tersebut perlu dipahami sebagai kesaksian Nunung mengenai pengalaman di sekitar usahanya, sementara kepastian mengenai benda dan peristiwa yang menyertainya masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.
Nunung mengaku berada di percaya dan tidak percaya ketika mendengar dugaan mengenai bungkusan berisi tanah yang ditemukan di sekitar warung makannya. Ia mengatakan bahwa sejak awal tidak terbiasa mempercayai hal-hal semacam itu. Karena itu, temuan tersebut tidak langsung dianggap sebagai penyebab perubahan keadaan usaha. Nunung memilih melihat persoalan secara rasional, termasuk mengevaluasi pelayanan, menu, kebersihan, serta kondisi internal warung.
Meski demikian, suasana warung yang mendadak sepi membuatnya mulai menghubungkan temuan itu dengan menurunnya jumlah pengunjung. Ia menyadari bahwa perubahan tersebut terasa cukup berbeda dibandingkan sebelumnya. Namun, Nunung menegaskan bahwa dirinya tetap berusaha berpikir positif dan tidak ingin mengambil kesimpulan terburu-buru. Menurutnya, langkah yang lebih penting adalah membenahi berbagai hal di dalam usaha agar warung kembali nyaman dan dapat menarik pelanggan.
Kecurigaan itu semakin muncul setelah beberapa pelanggan menanyakan alasan warung selalu terlihat tutup. Pertanyaan tersebut membuat Nunung heran karena, menurut pengakuannya, warung tidak pernah berhenti beroperasi. Ia juga menceritakan pengalaman ketika tiga mobil telah diarahkan untuk parkir di sekitar warung, tetapi tiba-tiba berputar balik sebelum para penumpangnya masuk. Peristiwa itu tidak hanya terjadi sekali, melainkan berlangsung beberapa kali.
Rangkaian kejadian tersebut kemudian menjadi bahan pertimbangan bagi Nunung, meskipun ia tetap berhati-hati dalam menyikapinya. Ia tidak memastikan bahwa bungkusan tersebut berkaitan langsung dengan sepinya warung. Baginya, dugaan itu masih perlu dilihat bersama faktor lain yang mungkin memengaruhi minat pelanggan. Nunung pun memilih menjaga operasional usaha, memperbaiki kondisi tempat, dan mempertahankan sikap terbuka terhadap berbagai kemungkinan tanpa mengabaikan penjelasan yang masuk akal.
Menurut penuturan Nunung, perubahan suasana warung mulai terlihat setelah bungkusan berisi tanah yang ditemukan di area usaha tersebut dibuang. Sebelumnya, ia mengaku warung sempat mengalami penurunan jumlah pengunjung secara mendadak. Kondisi itu membuat aktivitas jual beli terasa jauh lebih sepi dibandingkan biasanya, meskipun makanan dan pelayanan tetap disiapkan seperti biasa. Setelah bungkusan tersebut disingkirkan, Nunung menyebut pengunjung perlahan kembali berdatangan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, warung kembali ramai dan didatangi cukup banyak pelanggan. Ia memandang perubahan itu sebagai pola yang berulang berdasarkan pengalaman yang diamatinya sendiri, bukan semata-mata peristiwa yang terjadi sekali.
Namun, sekitar satu minggu kemudian, Nunung mengatakan muncul kiriman lain dengan bentuk yang disebut serupa. Benda tersebut kembali ditemukan di sekitar warung dan kemudian dibuang. Ketika keadaan sedang sepi, para pegawai terkadang harus mencari bungkusan atau benda buangan itu hingga ke sudut-sudut area warung. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada kiriman lain yang tertinggal dan mengganggu aktivitas usaha. Cerita itu disampaikan Nunung sebagai pengalaman pribadi yang ia kaitkan dengan naik turunnya jumlah pelanggan. Meski demikian, penyebab pasti warung mendadak sepi maupun kembali ramai tidak dapat dipastikan hanya dari temuan tersebut.
Di luar kisah mengenai warung, perjalanan bisnis Nunung juga terus berkembang. Usaha yang pada awalnya dirintis di Solo itu kemudian meluas hingga memiliki cabang di sejumlah daerah di Indonesia. Perkembangan tersebut turut mencakup Jakarta melalui kerja sama dengan Vicky Prasetyo. Ekspansi itu berlangsung setelah Nunung sepenuhnya pulih dari penyakit kanker yang pernah dideritanya beberapa tahun lalu. Pemulihan tersebut menjadi salah satu titik penting yang memungkinkannya kembali beraktivitas dan menata usaha secara lebih luas. Dengan pengalaman itu, Nunung tidak hanya dikenal melalui kariernya di dunia hiburan, tetapi juga melalui kiprahnya dalam mengembangkan bisnis kuliner di berbagai wilayah.

