JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 October 2026, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mendorong sektor industri untuk tumbuh lebih cepat dan meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Menurut dia, penguatan kinerja industri tidak hanya diperlukan untuk memperbesar nilai tambah di dalam negeri, tetapi juga untuk memperluas penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat.
Pernyataan tersebut menempatkan sektor industri sebagai salah satu penggerak utama pembangunan ekonomi. Sarmuji menilai, industri memiliki posisi strategis karena mampu menghubungkan berbagai kegiatan ekonomi, mulai dari pengolahan bahan baku, produksi barang, distribusi, hingga penyediaan jasa pendukung. Semakin kuat aktivitas industri, semakin besar pula dampaknya terhadap sektor lain.
Karena itu, peningkatan pertumbuhan industri perlu diikuti dengan penguatan kapasitas produksi, produktivitas, daya saing, serta penyerapan tenaga kerja. Pertumbuhan yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti pada peningkatan output, melainkan memberikan manfaat yang lebih luas melalui terbentuknya pekerjaan baru dan meningkatnya pendapatan masyarakat.
Ia menekankan bahwa tuntutan terhadap sektor industri kini semakin besar seiring kebutuhan ekonomi nasional untuk tumbuh secara berkelanjutan. Industri perlu mampu merespons perubahan pasar, memanfaatkan teknologi, serta menciptakan produk bernilai tambah tinggi. Langkah tersebut penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga mampu memperkuat perannya sebagai basis produksi.
Dorongan itu sekaligus menegaskan perlunya sinergi pemerintah, pelaku usaha, dunia pendidikan, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk menciptakan iklim usaha yang mendukung ekspansi industri, menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai kebutuhan, serta memastikan pertumbuhan sektor ini berlangsung inklusif.
Sektor industri nasional saat ini memberikan kontribusi sekitar 19 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa industri masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian, sekaligus memperlihatkan besarnya ruang yang dapat dikembangkan. Penguatan sektor ini penting karena industri tidak hanya menghasilkan nilai tambah, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, mendorong investasi, memperluas rantai pasok, dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Sarmuji berpandangan bahwa pemerintah perlu terus mencari terobosan agar sektor industri semakin kuat dan tidak mengalami perlambatan sebelum mencapai tingkat kematangan. Kebijakan yang dihasilkan perlu mampu menjawab tantangan biaya produksi, ketersediaan bahan baku, penguasaan teknologi, kualitas sumber daya manusia, serta kepastian investasi. Dengan demikian, pertumbuhan industri dapat berlangsung secara berkelanjutan dan memberi dampak lebih besar terhadap masyarakat.
Menurut Sarmuji, jabatan menteri berkaitan erat dengan kinerja dan tuntutan untuk memastikan kontribusi sektor industri terhadap perekonomian terus meningkat. Ukuran keberhasilan tidak cukup hanya dilihat dari berbagai program yang dijalankan, tetapi juga dari kemampuan pemerintah memperkuat kapasitas produksi, memperluas hilirisasi, serta menghubungkan industri besar dengan usaha kecil dan menengah.
Sejumlah negara maju memang mengalami penurunan kontribusi industri setelah mencapai fase ekonomi yang matang. Namun, kondisi tersebut tidak dapat langsung dijadikan acuan bagi Indonesia. Indonesia masih berada pada tahap yang membutuhkan penguatan sektor industri agar mampu naik kelas, menciptakan pekerjaan berkualitas, dan mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas mentah. Karena itu, pemerintah perlu menjaga momentum pertumbuhan melalui inovasi dan kebijakan yang konsisten. Sarmuji menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin industri layu sebelum waktunya, sehingga setiap hambatan harus segera diatasi sebelum mengganggu proses penguatan ekonomi nasional.
Pemerintah menargetkan kontribusi industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) meningkat hingga berada di atas 20 persen, bahkan diarahkan mencapai kisaran 25 persen. Sasaran tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperluas penciptaan lapangan kerja. Peningkatan kontribusi manufaktur dinilai penting karena sektor ini tidak hanya menghasilkan barang, tetapi juga menggerakkan rantai pasok, meningkatkan nilai tambah sumber daya, serta membuka peluang bagi tumbuhnya berbagai kegiatan ekonomi pendukung.
Sarmuji menilai sektor industri perlu tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Menurutnya, industri merupakan salah satu penggerak utama perekonomian sehingga laju pertumbuhannya tidak seharusnya hanya mengikuti atau berada pada tingkat yang sama dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Apabila industri mampu berkembang lebih cepat, kontribusinya terhadap PDB akan semakin besar dan dampaknya dapat dirasakan melalui peningkatan investasi, produktivitas, ekspor, serta penyerapan tenaga kerja. Pertumbuhan yang lebih kuat juga akan membantu memperkokoh struktur ekonomi agar tidak terlalu bergantung pada konsumsi dan komoditas primer.
Pernyataan tersebut disampaikan menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada 20 Oktober 2026. Dalam konteks itu, pemerintah masih mencari berbagai cara agar pertumbuhan industri dapat berlangsung lebih cepat. Upaya tersebut tidak diarahkan pada pencapaian pertumbuhan yang lebih rendah atau sekadar seimbang dengan pertumbuhan ekonomi, melainkan pada peningkatan kinerja yang melampaui laju nasional. Langkah yang dikaji mencakup penguatan iklim investasi, penyederhanaan regulasi, pengembangan sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan daya saing produk manufaktur. Dengan kebijakan yang tepat dan koordinasi antarlembaga, sektor industri diharapkan mampu menjadi fondasi pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Pengembangan industri di daerah memiliki peluang besar untuk mendorong pemerataan ekonomi. Kehadiran kegiatan industri tidak hanya memperluas basis perekonomian, tetapi juga dapat menghubungkan potensi daerah dengan kebutuhan pembangunan nasional. Daerah yang selama ini menjadi sumber daya bagi perekonomian nasional memiliki ruang untuk memperoleh manfaat yang lebih besar melalui pengolahan dan pengembangan industri yang dilakukan secara baik. Dengan demikian, nilai ekonomi yang berasal dari daerah dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat setempat.
Sarmuji memandang potensi tersebut dapat diwujudkan apabila pengembangan industri dilaksanakan secara tepat dan terarah. Industri di daerah perlu dipahami sebagai bagian penting dari kekuatan ekonomi nasional, bukan sekadar kegiatan produksi yang berlangsung di luar pusat pertumbuhan. Pengembangan yang baik dapat membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi, sekaligus memperkuat hubungan sumber daya, kegiatan usaha, dan kebutuhan tenaga kerja. Pendekatan ini juga memberi peluang agar pertumbuhan industri tidak hanya terkonsentrasi pada wilayah tertentu, melainkan dapat berkembang lebih merata sesuai potensi masing-masing daerah.
Penguatan industri di daerah juga berkaitan erat dengan penciptaan lapangan kerja. Ketika kegiatan industri tumbuh, kesempatan kerja dapat berkembang seiring meningkatnya aktivitas ekonomi di sekitarnya. Perkembangan tersebut pada akhirnya dapat memperbesar kontribusi industri terhadap produk domestik bruto serta meningkatkan peran daerah dalam perekonomian nasional. Karena itu, pengembangan industri, perluasan lapangan kerja, peningkatan kontribusi terhadap PDB, dan pemerataan ekonomi merupakan sasaran yang saling berkaitan. Kemajuan pada satu aspek dapat mendukung pencapaian aspek lainnya, sehingga pertumbuhan industri di daerah menjadi bagian penting dalam memperkuat ekonomi sekaligus memperluas manfaat pembangunan bagi masyarakat.


