Madani International Film Festival 2026 Perluas Ruang Seni lewat Gerakan Rimpang

Madani International Film Festival 2026 Perluas Ruang Seni lewat Gerakan Rimpang

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 October 2026, Madani International Film Festival 2026 memasuki penyelenggaraan edisi kesembilan dengan membawa cakupan program yang semakin luas. Panitia telah memilih 108 karya film dari 29 negara untuk ditampilkan kepada publik. Ragam karya tersebut mempertemukan perspektif, pengalaman, dan bahasa sinema dari berbagai wilayah, sekaligus membuka kesempatan bagi penonton untuk melihat persoalan kemanusiaan, kebudayaan, serta kehidupan sosial melalui sudut pandang yang beragam.

Selain program film, festival ini menyiapkan 15 sesi diskusi melalui program Ideas. Sesi-sesi tersebut dirancang sebagai ruang pertukaran gagasan yang mempertemukan pembuat film, seniman, peneliti, komunitas, dan masyarakat umum. Dengan demikian, Madani 2026 tidak hanya berfokus pada pemutaran film internasional, tetapi juga berupaya membangun pertemuan yang memungkinkan lahirnya dialog, pengetahuan, dan kolaborasi baru.

Perluasan tersebut menandai langkah festival untuk bergerak melampaui batas-batas presentasi sinema. Melalui gagasan Gerakan Rimpang, Madani International Film Festival 2026 mengembangkan ruang seni yang terhubung dengan berbagai disiplin, termasuk sastra, musik, pertunjukan, seni rupa, dan kerja-kerja berbasis komunitas. Pendekatan ini menempatkan festival sebagai ekosistem kebudayaan, bukan sekadar rangkaian agenda pemutaran film.

Pengumuman program Madani 2026 disampaikan dalam konferensi pers yang berlangsung di Teater Wahyu Sihombing, Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Senin. Penyampaian tersebut menjadi penanda awal bagi rangkaian kegiatan festival sekaligus memperkenalkan arah pengembangannya kepada publik. Dengan jumlah karya dan agenda diskusi yang telah disiapkan, edisi kali ini diharapkan dapat memperluas akses terhadap film bermutu serta memperkuat peran festival sebagai ruang pertemuan lintas disiplin seni.

Tema “Rimpang” menjadi landasan utama Madani International Film Festival 2026. Inayah Wahid menjelaskan bahwa tema ini merupakan kelanjutan dari gagasan “Misykat” yang diangkat pada penyelenggaraan sebelumnya. Jika “Misykat” berbicara tentang ceruk-ceruk cahaya, “Rimpang” menggambarkan harapan agar ceruk tersebut tidak berhenti sebagai titik-titik yang terpisah. Cahaya itu diharapkan berkembang menjadi jaringan yang lebih besar, saling terhubung, dan memiliki akar yang kuat.

Rimpang dipahami melalui gambaran tanaman seperti jahe. Ketika jahe dipotong, tanaman tersebut masih dapat tumbuh kembali apabila bagian yang tersisa ditanam. Kemampuan untuk bertumbuh dari bagian yang tidak utuh menjadi gambaran penting dalam tema festival tahun ini. Rimpang tidak bergantung pada satu bagian atau satu pusat saja, melainkan dapat terus hidup dan berkembang dari bagian-bagian yang tetap dipelihara.

Gagasan tersebut berkaitan dengan kegigihan inisiatif warga Jakarta dalam mempertahankan ruang seni independen. Ruang-ruang itu tetap diupayakan untuk hadir dan berjalan meskipun berhadapan dengan keterbatasan anggaran, komitmen, serta sumber daya. Seperti rimpang yang dapat kembali tumbuh setelah dipotong, inisiatif seni juga menunjukkan daya tahan ketika sebagian dukungan atau fasilitas tidak lagi tersedia.

Melalui tema ini, festival menempatkan keberlanjutan ruang seni pada jaringan inisiatif yang tumbuh dari warga. Ceruk-ceruk cahaya yang sebelumnya menjadi gagasan “Misykat” dihubungkan dengan harapan akan terbentuknya jaringan yang lebih luas dan berakar kuat. Makna “Rimpang” dengan demikian bertumpu pada kemampuan untuk bertahan, menumbuhkan kembali gagasan, serta menjaga ruang seni independen tetap hidup di tengah keterbatasan yang dihadapi.

Madani International Film Festival 2026 menggunakan dua jalur utama untuk memperoleh film yang akan dipertimbangkan dalam programnya. Jalur pertama berlangsung melalui pendaftaran terbuka di platform FilmFreeway. Mekanisme ini memungkinkan pembuat film dari berbagai latar belakang dan wilayah mengirimkan karya mereka secara langsung kepada panitia. Pada penyelenggaraan kali ini, pendaftaran tersebut menghimpun sekitar 1.500 karya. Jumlah itu menjadi sumber penting bagi tim seleksi untuk menilai beragam pendekatan sinematik, tema, serta perspektif yang ditawarkan para sineas.

Jalur kedua dilakukan melalui hunting atau pencarian mandiri. Melalui cara ini, tim festival secara aktif menelusuri film-film tertentu yang dinilai memiliki relevansi artistik dan sesuai dengan arah kurasi Madani. Direktur Festival Madani, Achmad Rifki, menjelaskan bahwa film Mesir berjudul “The Stories” karya Abu Bakar Shawky dipilih melalui jalur kurasi tersebut. Film yang disebut sebagai perwakilan Oscar 2027 itu ditetapkan sebagai film pembuka resmi dan akan ditayangkan di Metropole XXI. Pemilihannya menunjukkan bahwa proses kurasi tidak hanya bergantung pada karya yang masuk melalui pendaftaran, tetapi juga mencakup penemuan film yang dipandang penting untuk dihadirkan kepada penonton festival.

Hasil seleksi memperlihatkan cakupan geografis yang luas. Film-film yang terpilih berasal dari Iran di kawasan Asia Barat, Malaysia dan Indonesia di Asia Tenggara, serta Mauritania, Polandia, Selandia Baru, Irlandia, dan Bangladesh. Keragaman asal tersebut mempertemukan pengalaman sosial, tradisi budaya, dan bahasa sinematik dari berbagai kawasan dalam satu rangkaian program. Dengan menggabungkan pendaftaran terbuka dan pencarian mandiri, Madani dapat membangun seleksi yang lebih beragam sekaligus tetap terarah secara artistik. Dua jalur ini juga memberi ruang bagi karya yang telah menemukan jalannya melalui platform internasional maupun film yang dikenali secara khusus oleh tim festival.

Semangat “Rimpang” dalam Madani International Film Festival 2026 diterapkan melalui kerja sama yang membuka ruang pertemuan festival, inisiatif independen, dan berbagai platform seni di Jakarta. Alih-alih menempatkan festival sebagai kegiatan yang berdiri sendiri, Madani membangun jaringan kerja berbasis gotong royong, pertukaran gagasan, serta pemanfaatan sumber daya bersama. Salah satu wujudnya ialah penggunaan ruang bersama Jakarta Biennale di lantai 4 Gedung Trisno Soemardjo. Ruang tersebut menjadi titik temu bagi program, komunitas, dan penonton, sekaligus menunjukkan bahwa ekosistem seni dapat tumbuh melalui kolaborasi lintas organisasi.

Dukungan jaringan komunitas juga hadir melalui agenda pemutaran sinema alternatif yang diselenggarakan Majelis Sayur. Program ini menayangkan film-film hasil kurasi Efek Rumah Kaca dan memperluas akses terhadap karya yang tidak selalu hadir dalam jalur pemutaran arus utama. Keterlibatan Festival Film Jelek memperkaya jejaring tersebut. Festival ini digerakkan oleh para pemilik lapak kamera analog di Pasar Gembrong, Jakarta Timur, yang membawa pengalaman komunitas fotografi dan budaya pasar ke dalam perbincangan sinema. Pertemuan berbagai kelompok itu memperlihatkan bagaimana gagasan Rimpang bekerja secara organik, menyebar dari satu ruang ke ruang lain.

Rangkaian program Ideas melanjutkan semangat tersebut melalui sejumlah bentuk ekspresi. Efek Rumah Kaca menghadirkan “Pertunjukan Rimpang” dengan membawakan repertoar penuh dari album terbaru mereka. Komunitas Papua mempersembahkan tari kontemporer “Kisah Sagu”, yang mengkritik pergeseran pola konsumsi dan semakin terpinggirkannya pangan lokal. Di Galeri Foto Jurnalistik, Madani Talks menghadirkan Eric Sasono untuk membahas pemikiran Islam modernis Asrul Sani. Sementara itu, sesi “Ngariksa” mengajak publik membaca manuskrip kuno, sehingga hubungan arsip, pengetahuan, dan pengalaman masa kini dapat ditelusuri kembali melalui perjumpaan langsung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *