JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 October 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama PT MRT Jakarta (Perseroda) memperkenalkan konsep desain transformasi kawasan Blok M fase ultimate. Rancangan tersebut dipaparkan di Blok M Hub, Jakarta Selatan, sebagai gambaran menyeluruh mengenai arah pengembangan kawasan pada tahap akhir revitalisasi. Konsep ini tidak sekadar menawarkan pembaruan tampilan fisik, tetapi juga merumuskan penataan ruang, konektivitas, serta aktivitas perkotaan agar Blok M dapat berfungsi lebih baik sebagai pusat mobilitas dan kegiatan publik.
Direktur Utama MRT Jakarta, Tuhiyat, menyampaikan bahwa konsep desain tersebut memuat lima transformasi utama. Lima agenda itu disusun untuk menjawab berbagai tantangan yang selama ini dihadapi kawasan, mulai dari kebutuhan integrasi antarmoda, kualitas ruang publik, kenyamanan pejalan kaki, hingga penguatan fungsi komersial dan sosial. Dengan pendekatan yang lebih terpadu, perubahan Blok M diarahkan untuk menciptakan kawasan yang mudah diakses, aktif sepanjang hari, dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan Jakarta.
Rancangan ultimate ini juga menegaskan posisi Blok M Hub sebagai bagian penting dari strategi pengembangan kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD). Revitalisasi tersebut sejalan dengan mandat PT MRT Jakarta untuk mengembangkan bisnis dan kawasan di sekitar jaringan MRT melalui pengelolaan aset serta ruang perkotaan secara terintegrasi. Karena itu, Blok M tidak hanya dipandang sebagai simpul transportasi, melainkan sebagai kawasan terpadu yang menghubungkan pergerakan orang, kegiatan ekonomi, ruang publik, dan layanan perkotaan. Lima agenda utama dalam konsep desain menjadi landasan untuk membentuk wajah baru Blok M yang lebih terhubung, inklusif, dan berkelanjutan.
Perubahan pertama dalam rencana revitalisasi kawasan Blok M adalah transformasi terminal menjadi fasilitas yang lebih modern dan terintegrasi. Langkah ini tidak semata-mata berkaitan dengan pembaruan tampilan, melainkan dengan upaya membentuk layanan yang lebih terhubung bagi masyarakat. Terminal diharapkan mampu menjadi bagian penting dari jaringan mobilitas kawasan, sehingga perpindahan pengguna dapat berlangsung secara lebih mudah, jelas, dan nyaman.
Integrasi tersebut diarahkan untuk memperbaiki keterhubungan antar layanan yang tersedia di sekitar terminal. Dengan hubungan yang lebih baik, pengguna dapat memperoleh pengalaman perjalanan yang lebih tertata ketika memasuki, berpindah, atau melanjutkan perjalanan dari kawasan Blok M. Perubahan ini juga mendukung mobilitas berbagai kelompok pengguna, termasuk mereka yang menjadikan kawasan tersebut sebagai tujuan maupun sebagai titik penghubung dalam aktivitas sehari-hari.
Perubahan kedua mencakup pengembangan kawasan mixed-use Blok M-Asean. Konsep ini menempatkan kawasan sebagai ruang yang lebih mudah diakses, inklusif, dan dinamis. Pengembangannya diarahkan untuk memperkuat hubungan berbagai aktivitas di kawasan, sehingga Blok M-Asean tidak berjalan sebagai ruang yang terpisah, tetapi menjadi lingkungan yang saling mendukung dan dapat digunakan oleh beragam kalangan.
Aspek aksesibilitas dan inklusivitas menjadi bagian penting dari arah perubahan tersebut. Kawasan yang lebih mudah dijangkau dapat membuka peluang interaksi yang lebih luas, sementara karakter yang inklusif membantu memastikan bahwa keberadaannya memberi manfaat bagi pengguna dengan kebutuhan dan latar belakang yang beragam. Pada saat yang sama, sifat dinamis Blok M-Asean diharapkan membuat kawasan tetap hidup, responsif, dan relevan terhadap perkembangan mobilitas serta aktivitas masyarakat. Kedua perubahan ini saling melengkapi: terminal yang terintegrasi memperkuat konektivitas layanan, sedangkan kawasan Blok M-Asean menyediakan lingkungan yang lebih terbuka dan terhubung bagi penggunanya.
Perubahan ketiga dalam revitalisasi Blok M berfokus pada peningkatan aksesibilitas dan keterhubungan antarmoda. Kawasan ini diarahkan agar hubungan berbagai pilihan transportasi dapat berlangsung lebih terpadu, sehingga perpindahan dari satu moda ke moda lain menjadi lebih mudah, jelas, dan efisien. Keterpaduan tersebut tidak hanya berkaitan dengan perjalanan menggunakan transportasi umum, tetapi juga dengan hubungan menuju area komersial, ruang publik, serta fungsi kawasan lainnya. Dengan penataan yang saling terhubung, Blok M diharapkan mampu mendukung mobilitas harian yang lebih lancar bagi masyarakat dengan beragam tujuan.
Aspek penting lainnya adalah penguatan pengalaman pejalan kaki. Jalur perpindahan antarfungsi dirancang untuk memudahkan orang berjalan dari satu titik ke titik lain tanpa menghadapi hambatan yang tidak perlu. Pendekatan ini menempatkan akses pejalan kaki sebagai bagian utama dari perencanaan kawasan, bukan sekadar pelengkap bagi pengguna kendaraan atau transportasi umum. Konektivitas yang lebih baik dapat memperkuat hubungan titik transit, area kegiatan, dan ruang terbuka, sekaligus mendorong interaksi yang lebih aktif di dalam kawasan.
Perubahan keempat berkaitan dengan rencana menjadikan Blok M sebagai destinasi komersial baru. Konsepnya menggabungkan pilihan ritel, makanan dan minuman, gaya hidup, serta ruang publik dalam satu lingkungan yang terintegrasi. Setiap fungsi tidak dirancang berdiri sendiri, melainkan saling mendukung melalui hubungan ruang dan pola aktivitas yang berkesinambungan. Kehadiran beragam kegiatan tersebut dapat membuat kawasan lebih hidup pada waktu yang berbeda, baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun sebagai tempat berkumpul dan menikmati waktu luang.
Integrasi antarfungsi menjadi unsur penting dalam pengembangan ini. Pengunjung dapat bergerak dengan lebih mudah dari area transportasi menuju ruang komersial, kemudian melanjutkan aktivitas ke ruang publik atau fungsi lain yang tersedia. Dengan demikian, nilai kawasan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan kegiatan perdagangan, tetapi juga oleh kualitas hubungan di seluruh elemen. Penataan yang terpadu diharapkan membentuk pengalaman kawasan yang nyaman, mudah diakses, dan relevan bagi berbagai kebutuhan masyarakat.
Transformasi kelima dalam revitalisasi kawasan Blok M diarahkan pada pengembangan ruang terbuka publik yang lebih hijau, aktif, dan nyaman. Ruang ini tidak hanya berfungsi sebagai area jeda di bangunan, tetapi juga sebagai tempat masyarakat berinteraksi, beristirahat, serta mengikuti beragam kegiatan. Penataan vegetasi, jalur pejalan kaki, area duduk, dan ruang aktivitas diharapkan menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi pengguna kawasan dengan latar belakang dan kebutuhan yang beragam.
Menurut Tuhiyat, setelah pembangunan selesai, luas ruang terbuka publik akan menjadi lima kali lebih besar dibandingkan kondisi saat ini. Pada saat yang sama, kawasan secara keseluruhan akan mencapai sepuluh kali luas kawasan yang ada sekarang. Perubahan skala tersebut menunjukkan bahwa revitalisasi tidak hanya berkaitan dengan pembaruan fasilitas, tetapi juga dengan penyediaan ruang publik yang dapat menampung lebih banyak kegiatan dan pergerakan masyarakat.
Pelaksanaan proyek tersebut memerlukan kolaborasi berbagai pihak. MRT Jakarta tidak dapat menjalankan seluruh proses revitalisasi secara mandiri, sehingga diperlukan kerja sama pemanfaatan aset dengan Badan Pengelola Aset Daerah (BPAD) di Blok M Hub. Dukungan dan arahan Gubernur DKI Jakarta, keterlibatan organisasi perangkat daerah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta koordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan dan pengelolaan kawasan.
Perencanaan revitalisasi turut mempertimbangkan kondisi bangunan Blok M yang telah berusia 34 tahun. Pemeriksaan dan penanganan terhadap kondisi bangunan diperlukan terutama untuk memastikan keselamatan dan keamanan struktur selama kawasan dikembangkan dan digunakan. Aspek tersebut perlu berjalan seiring dengan penataan ruang publik, konektivitas, serta pengaturan aktivitas komersial dan transportasi.
Saat ini, kawasan Blok M masih menjadi lokasi aktivitas bagi 334 tenant aktif dan dikunjungi lebih dari 25.000 orang setiap hari. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan penting dalam mengatur tahapan pekerjaan, akses pengguna, dan keberlangsungan kegiatan selama proses revitalisasi berlangsung.

