Kesaksian Pengunjung dan Laporan 24 Orang Usai Makan di Restoran Korea Bandung

Restoran 88 Seoul Bandung Hentikan Operasional Setelah 24 Warga Laporkan Gejala Keracunan

KOTA BANDUNG, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Sebanyak 24 orang melaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan di Restoran 88 Seoul, kawasan 23 Paskal, Kota Bandung. Laporan tersebut disampaikan kepada Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Bandung. Para pengunjung mengaitkan keluhan yang dirasakan dengan makanan yang mereka konsumsi di restoran tersebut.

Gejala yang disebutkan dalam laporan lain diare dan mual. Keluhan itu muncul setelah para pengunjung makan di lokasi yang sama, sehingga peristiwa tersebut kemudian dikaitkan dengan dugaan keracunan makanan. Namun, laporan dari para pengunjung tidak serta-merta menjadi penetapan bahwa makanan restoran merupakan penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami.

Informasi mengenai 24 orang yang melapor menjadi bagian penting dalam pemberitaan ini karena menunjukkan adanya lebih dari satu pengunjung yang merasakan gejala setelah menyantap hidangan di Restoran 88 Seoul. Kesamaan waktu dan tempat konsumsi makanan menjadi dasar munculnya dugaan tersebut, sementara rincian mengenai kondisi masing-masing pelapor dapat berbeda.

Peristiwa ini juga menyoroti kesaksian pengunjung mengenai keluhan kesehatan yang dirasakan setelah makan di restoran Korea itu. Sampai pada tahap laporan, hal yang dapat disampaikan adalah adanya pengaduan kepada Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Bandung serta gejala berupa diare dan mual. Penyebab pasti dan hubungan langsung hidangan yang dikonsumsi dengan keluhan tersebut masih tidak dapat dinyatakan berdasarkan laporan awal saja.

Ria Isti, 35 tahun, datang ke sebuah restoran Korea di Bandung pada Sabtu, 3 Oktober, bersama adiknya. Dalam kunjungan tersebut, ia memesan sembilan jenis menu dengan total pembayaran Rp220 ribu. Pesanan itu terdiri atas baechu kimchi, eomuk bokkeum, gyeranmari, korean macaroni salad, danmuji muchim, sigeumchinamul, myeokguk, tangsuyuk, serta minuman green tea.

Menurut pengalaman Ria, tidak ada kejanggalan yang dirasakan ketika makanan dan minuman tersebut disantap. Ia tidak langsung mengalami keluhan selama berada di restoran maupun setelah menyelesaikan hidangan. Namun, kondisi tubuhnya berubah pada hari berikutnya. Ria mulai mengalami diare dan mual, sehingga memutuskan untuk memeriksakan diri ke puskesmas bersama adiknya.

Setelah menjalani pemeriksaan, Ria dan adiknya mendapat diagnosis gejala keracunan. Ia kemudian memperoleh antibiotik serta obat untuk mengatasi mual. Keluhan mual membuat Ria tidak dapat menerima makanan, sedangkan diare turut memengaruhi kondisi fisiknya. Ia mengaku merasa lemas pada Minggu dan Senin setelah kunjungan ke restoran tersebut. Pengalaman ini menjadi bagian dari keterangan pengunjung yang diperiksa setelah munculnya laporan gangguan kesehatan pada sejumlah orang. Meski demikian, waktu munculnya keluhan dan hasil pemeriksaan medis menjadi informasi yang perlu dicatat secara terpisah dari penentuan penyebabnya. Ria menyampaikan kronologi tersebut berdasarkan apa yang dialami sejak menyantap sembilan menu hingga menjalani perawatan di puskesmas.

Setelah menjalani pemeriksaan, kondisi Ria belum sepenuhnya pulih. Ia dan adiknya tidak menjalani rawat inap di rumah sakit, melainkan melanjutkan perawatan secara mandiri di rumah. Ria memilih beristirahat, menjaga asupan cairan, serta mengikuti arahan dokter sambil memantau perubahan kondisi tubuhnya. Namun, keluhan yang dialami belum berhenti dan masih memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Saat memberikan keterangan pada Rabu, 7 Oktober, Ria mengaku masih mengalami diare. Buang air besar yang masih cair membuat tubuhnya terasa lemas dan belum dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Karena keluhan tersebut berlanjut, ia kembali mendatangi dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Ria juga perlu membatasi kegiatan agar tidak memperburuk kondisi serta menghindari risiko kekurangan cairan.

Selain berupaya memulihkan kesehatan, Ria telah menghubungi pihak restoran untuk meminta penjelasan mengenai kejadian yang dialaminya. Menurut pengakuannya, pihak restoran hanya menyampaikan keprihatinan atas kondisi tersebut. Ria mengatakan tidak menerima permintaan maaf secara langsung dari pihak restoran, sehingga komunikasi itu belum memberikan jawaban yang diharapkannya mengenai keluhan setelah makan.

Ria juga mengaku ulasan buruk yang dibuatnya di Google diduga dihapus oleh pihak restoran. Ia menyampaikan hal itu sebagai bagian dari pengalaman setelah berusaha menyampaikan keluhan kepada publik. Kondisi kesehatan yang belum membaik turut menambah kekecewaannya karena mengganggu rencana liburan pada Minggu. Rencana tersebut semestinya menjadi waktu untuk beristirahat dan menikmati perjalanan, tetapi harus dipertimbangkan kembali karena diare masih berlangsung, tubuh terasa lemas, dan ia masih membutuhkan pemantauan medis. Hingga keterangan diberikan, Ria berharap memperoleh penjelasan yang lebih jelas serta tanggapan yang bertanggung jawab dari pihak restoran terkait keluhannya.

Radisya, 27 tahun, menjadi salah satu pengunjung lain yang memberikan kesaksian mengenai kondisi tubuhnya setelah makan di restoran Korea tersebut. Ia datang pada Sabtu, 3 Oktober, bersama tiga orang temannya. Karena restoran sedang penuh, mereka harus mengantre sebelum mendapatkan tempat. Di hidangan yang dipesan, terdapat haemul jjigae, sup khas Korea dengan bahan utama makanan laut.

Menurut keterangannya, keluhan mulai dirasakan pada hari berikutnya. Radisya mengalami nyeri di bagian kanan dada dan sakit perut. Pada saat itu, diare belum muncul sehingga ia belum menganggap gejala tersebut berkaitan dengan makanan yang disantap sehari sebelumnya. Diare baru dirasakan pada Senin dan masih berlangsung ketika Radisya memberikan keterangan mengenai pengalamannya.

Radisya menjelaskan bahwa pada awalnya ia menilai makanan yang dikonsumsi masih dalam kondisi normal. Ia juga sempat menduga keluhan yang dialami dipengaruhi oleh cuaca, bukan oleh hidangan dari restoran. Karena itu, ia tidak langsung mencurigai makanan sebagai penyebab nyeri dada, sakit perut, maupun diare yang kemudian muncul.

Keterkaitan keluhan tersebut dan makanan baru mulai terpikir setelah kasus serupa ramai dibahas di media sosial. Perbincangan itu membuat Radisya mengingat kembali waktu makan, menu yang dipesan, serta urutan munculnya gejala. Kesaksiannya menambah gambaran mengenai pengalaman pengunjung lain yang mengalami keluhan kesehatan setelah berkunjung, meskipun penyebab pastinya tetap memerlukan pemeriksaan dan penjelasan dari pihak berwenang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *