JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 October 2026, Psikolog klinis dewasa Miki Amrilya Wardati, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menyampaikan bahwa upaya menjaga kesehatan mental dapat diawali dari hal-hal sederhana yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar tubuh. Pernyataan tersebut disampaikan Miki dalam temu media di Jakarta pada Kamis. Menurutnya, perhatian terhadap kondisi fisik merupakan salah satu dasar dalam mendukung upaya pemeliharaan kondisi mental.
Langkah awal yang dapat diterapkan adalah menjalani pola hidup sehat. Pola ini mencakup konsumsi makanan bergizi seimbang, tidur dan istirahat yang cukup, serta olahraga secara teratur. Ketiga hal tersebut menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari yang perlu diperhatikan ketika seseorang berupaya merawat kesehatan tubuh sekaligus menjaga kesehatan mental.
Konsumsi makanan bergizi seimbang menjadi salah satu unsur dalam pola hidup sehat yang disebutkan Miki. Selain itu, waktu tidur dan istirahat yang cukup juga perlu dipenuhi sebagai bagian dari kebutuhan dasar tubuh. Pengaturan waktu untuk tidur dan beristirahat dapat ditempatkan sebagai rutinitas yang diperhatikan secara konsisten.
Aktivitas olahraga secara teratur juga termasuk langkah yang disampaikan dalam menjaga pola hidup sehat. Dengan demikian, pemeliharaan kesehatan mental dapat dimulai dengan memperhatikan kesehatan fisik melalui kebiasaan yang mendasar: mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperoleh tidur dan istirahat yang cukup, serta berolahraga secara teratur. Kesehatan fisik menjadi salah satu dasar yang mendukung upaya menjaga kondisi mental, sehingga perhatian terhadap kebutuhan tubuh merupakan bagian dari langkah sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari.
Memahami keadaan diri sendiri dari hari ke hari merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan mental. Kondisi seseorang dapat berubah mengikuti berbagai pengalaman, tuntutan, pola istirahat, hubungan sosial, maupun situasi yang sedang dihadapi. Karena itu, perhatian terhadap perasaan, pikiran, dan respons tubuh perlu dilakukan secara berkala, bukan hanya ketika masalah sudah terasa berat. Pengamatan sederhana tersebut membantu seseorang mengenali keadaan yang sedang dialaminya dengan lebih jernih.
Psikolog Miki Amrilya menekankan bahwa setiap orang perlu mengenali sinyal yang disampaikan tubuh. Sinyal itu dapat menjadi alarm awal untuk mengetahui apakah ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Perubahan yang terasa tidak biasa, munculnya rasa mengganjal, atau berkurangnya kemampuan menjalani rutinitas sehari-hari patut dicermati. Bentuknya bisa berbeda pada setiap orang, misalnya tubuh terasa lebih tegang, tidur berubah, energi menurun, atau pikiran sulit beristirahat. Hal tersebut tidak serta-merta menunjukkan kondisi tertentu, tetapi dapat menjadi alasan untuk berhenti sejenak dan memperhatikan kebutuhan diri.
Kepekaan terhadap kondisi pribadi bukan berarti seseorang harus langsung memberikan label atau membuat diagnosis terhadap dirinya sendiri. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah mencatat perubahan, mengenali kapan hal itu mulai terasa, serta memperhatikan situasi yang mungkin memengaruhinya. Dengan cara ini, seseorang dapat lebih cepat menyadari ketika keadaannya tidak seperti biasa. Kesadaran tersebut juga membantu menentukan tindakan yang sesuai, seperti mengatur waktu istirahat, mengurangi beban sementara, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau mencari bantuan profesional bila diperlukan. Mendengarkan tubuh dengan tenang dan tanpa menghakimi diri dapat menjadi bagian dari kebiasaan merawat kesehatan mental secara berkelanjutan.
Psikolog Miki Amrilya menyarankan agar seseorang tetap berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental. Hubungan sosial dapat menjadi ruang untuk berbagi cerita, menyampaikan perasaan, memperoleh perspektif, serta merasakan dukungan dari lingkungan sekitar. Keterhubungan tersebut tidak selalu harus diwujudkan melalui pertemuan langsung. Percakapan melalui telepon, pesan singkat, atau platform komunikasi lain juga dapat menjadi cara untuk mempertahankan relasi ketika keadaan tidak memungkinkan seseorang bertemu secara tatap muka.
Intensitas hubungan sosial dapat berbeda pada setiap individu. Seseorang mungkin merasa nyaman bertemu atau berbicara dengan banyak orang, sedangkan orang lain membutuhkan interaksi yang lebih terbatas dan waktu pemulihan setelah bersosialisasi. Perbedaan karakteristik tersebut perlu dihargai, sehingga menjaga hubungan tidak dipahami sebagai kewajiban untuk terus berada dalam keramaian. Hal yang penting adalah tetap memiliki keterhubungan dengan orang lain dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan, kapasitas, dan kenyamanan masing-masing.
Selain mempertahankan komunikasi, Miki juga menganjurkan agar seseorang meluangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang bernilai dan bermakna. Kegiatan seperti menekuni hobi, membaca, berkebun, memasak, berolahraga, membuat karya, atau menjalankan aktivitas yang disukai dapat membantu menghadirkan pengalaman yang menyenangkan. Aktivitas tersebut juga memberi kesempatan bagi seseorang untuk menggunakan waktu secara terarah dan merasakan kepuasan dari proses yang dijalani.
Kegiatan bermakna tidak harus selalu besar, rumit, atau menghasilkan pencapaian tertentu. Rutinitas sederhana yang dilakukan secara sadar dapat memberikan emosi positif, terutama ketika aktivitas itu selaras dengan minat dan nilai pribadi. Menentukan waktu untuk melakukan kegiatan yang disukai juga membantu menciptakan keseimbangan dalam keseharian, di samping menjalankan tanggung jawab pekerjaan, pendidikan, keluarga, maupun kebutuhan lainnya. Dengan tetap terhubung secara sosial dan mengisi waktu dengan aktivitas yang memberikan arti, seseorang dapat membangun kebiasaan yang mendukung kesejahteraan psikologisnya.
Menurut psikolog Miki Amrilya, menjaga kesehatan mental perlu diawali dengan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai isu tersebut. Edukasi membantu setiap individu mengenali kondisi dirinya secara lebih objektif, termasuk memahami perubahan emosi, pola pikir, perilaku, atau kebiasaan yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemahaman yang memadai juga membuat seseorang tidak mudah mengabaikan tanda-tanda yang memerlukan perhatian. Kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesejahteraan, sehingga pengetahuan tentangnya sebaiknya tidak hanya dicari ketika seseorang sedang menghadapi masalah.
Edukasi kesehatan mental juga dapat meningkatkan kepekaan terhadap keadaan orang-orang terdekat. Dengan wawasan yang lebih baik, seseorang dapat menyadari perubahan pada keluarga, teman, atau rekan kerja, kemudian memberikan dukungan yang sesuai. Dukungan tersebut dapat berupa kesediaan mendengarkan tanpa menghakimi, menanyakan kondisi dengan penuh perhatian, serta mengarahkan orang yang bersangkutan untuk mencari bantuan. Apabila muncul tanda-tanda bahwa kondisi seseorang tidak baik-baik saja, konsultasi dengan tenaga profesional perlu segera dipertimbangkan. Langkah ini dapat membantu memperoleh penilaian dan arahan yang lebih tepat sesuai keadaan yang dihadapi.
Miki mengingatkan bahwa pengetahuan yang tidak dipahami secara tepat justru dapat menimbulkan risiko baru. Seseorang mungkin mencoba mendiagnosis dirinya sendiri hanya berdasarkan informasi yang ditemukan dari berbagai sumber, padahal gejala yang serupa dapat berkaitan dengan kondisi yang berbeda. Kekeliruan tersebut berpotensi membuat individu salah memahami keadaan, mengambil tindakan yang tidak sesuai, atau menunda bantuan yang dibutuhkan. Karena itu, informasi kesehatan mental sebaiknya digunakan sebagai pengetahuan awal, bukan sebagai pengganti evaluasi profesional. Miki Amrilya tercatat sebagai anggota Ikatan Psikologi Indonesia dan mitra psikolog Halodoc, sebagaimana disebutkan dalam sumber informasi ini.


