PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 October 2026, Kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, semakin pekat pada Minggu, 4 Oktober 2026. Kondisi tersebut berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kepulan asap hingga menyelimuti sejumlah wilayah kota. Lapisan asap tampak menurunkan jarak pandang, sehingga suasana Palembang terlihat lebih buram dibandingkan kondisi normal. Perubahan itu terlihat di beberapa titik yang menjadi jalur aktivitas masyarakat dan kendaraan.
Visual yang tersedia memperlihatkan Jembatan Ampera tertutup kabut asap. Bangunan dan bentang jembatan tampak samar di balik lapisan putih keabu-abuan yang memenuhi udara. Pemandangan di sekitar jembatan tidak terlihat jelas seperti biasanya karena asap membatasi pandangan ke arah kejauhan. Kabut tersebut juga membuat batas langit, sungai, dan kawasan di sekitarnya menjadi kurang tegas.
Sementara itu, suasana di Jalan Soekarno-Hatta menunjukkan kepulan asap yang lebih tebal dibandingkan siang hari. Asap tampak memenuhi ruas jalan dan mengurangi pandangan ke arah depan. Jarak pandang di jalan sangat terbatas, terutama bagi para pengendara yang melintas di kawasan tersebut. Kendaraan dan objek di kejauhan terlihat samar karena tertutup kabut asap. Kondisi ini menggambarkan semakin pekatnya kabut asap di Palembang pada hari tersebut, dengan dampak visual yang terlihat di sejumlah ruang publik dan jalur utama kota.
Pemantauan kualitas udara di Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan kondisi yang semakin mengkhawatirkan. Konsentrasi partikel halus PM2.5 telah berada dalam kategori berbahaya sejak pukul 02.00 WIB. Pada waktu tersebut, konsentrasinya tercatat mencapai 358,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³), angka yang menunjukkan tingginya kandungan partikel pencemar di udara.
Kondisi tersebut kemudian memburuk secara cepat dalam beberapa jam berikutnya. Pada pukul 03.00 WIB, konsentrasi PM2.5 meningkat menjadi 641,4 µg/m³. Kenaikan berlanjut pada pukul 04.00 WIB, ketika angkanya mencapai 784,8 µg/m³. Perubahan ini memperlihatkan bahwa kualitas udara di Palembang mengalami penurunan signifikan menjelang pagi, dengan jumlah partikel halus yang terus bertambah dalam waktu relatif singkat.
Puncak pemantauan tercatat pada pukul 05.00 WIB, saat konsentrasi PM2.5 mencapai 903,6 µg/m³. BMKG menyebut angka tersebut sebagai yang tertinggi sepanjang pemantauan di stasiun itu. Setelah mencapai titik puncak, konsentrasi partikel kemudian kembali menurun, meskipun data tersebut tetap menggambarkan kondisi udara yang sangat buruk. Berdasarkan keterangan BMKG, level kualitas udara di Palembang pada periode tersebut masuk kategori berbahaya. Tingginya konsentrasi PM2.5 perlu menjadi perhatian karena partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan, perlu mencermati perkembangan kualitas udara dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi memburuk.
Kabut asap yang makin pekat di Palembang terlihat memengaruhi ruang publik dan kawasan permukiman. Kondisi tersebut berlangsung ketika kualitas udara di wilayah itu masuk kategori berbahaya. Lapisan asap yang memenuhi udara menjadi bagian dari pemandangan di sejumlah lokasi, termasuk ruas jalan yang digunakan masyarakat untuk beraktivitas.
Di Jalan Soekarno-Hatta, aktivitas berkendara tetap berlangsung dalam kondisi jarak pandang yang sangat terbatas. Kendaraan melintas di tengah kepulan asap yang menutupi pandangan sepanjang ruas jalan. Gambaran ini menunjukkan bahwa kabut asap tidak hanya terlihat di sekitar sumber kebakaran, tetapi juga hadir di jalur transportasi yang menghubungkan berbagai bagian kota. Situasi di jalan tersebut menjadi salah satu gambaran lapangan mengenai pekatnya asap di Palembang.
Dampak kabut asap juga tampak di sekitar permukiman yang berada dekat area kebakaran lahan gambut. Di sebuah lokasi dekat rumah mereka di Palembang, Sumatera Selatan, Poppy, 12 tahun, terlihat memeluk adiknya ketika petugas pemadam kebakaran Indonesia berupaya menangani kebakaran lahan gambut. Peristiwa itu menggambarkan kedekatan titik kebakaran dengan lingkungan tempat tinggal warga.
Upaya pemadaman berlangsung di tengah kondisi lapangan yang diselimuti asap. Petugas berusaha menangani kebakaran lahan gambut, sementara aktivitas di kawasan sekitar berlangsung dengan jarak pandang yang terbatas. Rangkaian keadaan tersebut memperlihatkan kabut asap melalui dua ruang yang berbeda, yakni jalan raya dan permukiman. Jalan Soekarno-Hatta menjadi gambaran dampaknya terhadap mobilitas kendaraan, sedangkan lokasi dekat rumah Poppy dan adiknya menunjukkan keberadaan kebakaran di sekitar lingkungan tempat tinggal. Seluruh pemandangan itu memperkuat gambaran mengenai kabut asap yang semakin pekat di Palembang.
Kabut asap yang menyelimuti Palembang turut mengganggu operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Delapan penerbangan mengalami penundaan setelah jarak pandang di sekitar bandara berada di bawah standar minimum penerbangan. Kondisi tersebut membuat aktivitas penerbangan tidak dapat berlangsung sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Penundaan dilakukan sebagai bagian dari pertimbangan keselamatan, mengingat jarak pandang merupakan salah satu faktor penting dalam proses lepas landas maupun pendaratan pesawat. Situasi ini menunjukkan bahwa dampak kabut asap tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di darat, tetapi juga memengaruhi layanan transportasi udara di Palembang.
Gangguan terhadap penerbangan tersebut terjadi ketika kebakaran hutan dan lahan masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Asap dari kebakaran turut memperburuk kualitas udara dan mengurangi jarak pandang, termasuk di sekitar kawasan bandara. Kondisi di lapangan masih memerlukan pemantauan, terutama di wilayah yang memiliki titik api dan berpotensi menghasilkan kepulan asap. Penanganan kebakaran dilakukan secara bertahap oleh tim terkait dengan mempertimbangkan keadaan setiap lokasi serta kebutuhan pengerahan sumber daya.
Berdasarkan catatan tim Manggala Agni, beberapa titik kebakaran telah berhasil dipadamkan. Namun, titik lainnya masih memerlukan penanganan lanjutan agar api dapat dikendalikan. Upaya pemadaman terus diarahkan pada lokasi yang masih terbakar, sementara perkembangan di masing-masing wilayah tetap dipantau oleh petugas. Data tersebut menggambarkan bahwa penanganan karhutla di Sumatera Selatan masih berlangsung, bersamaan dengan dampak kabut asap terhadap jarak pandang dan operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.

