KOTA JAMBI, JAMBI — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 October 2026, Laga tinju yang mempertemukan Vicky Prasetyo dengan Dede Sunandar dan Bedu di GOR Kota Jambi pada Sabtu (3/10) berakhir dengan insiden serius. Pertandingan tersebut sejak awal dirancang sebagai bagian dari hiburan, bukan duel profesional dengan atmosfer kompetisi resmi. Namun, jalannya laga berlangsung cukup keras sehingga menarik perhatian penonton dan memunculkan konsekuensi di luar perkiraan.
Dalam pertandingan itu, Dede Sunandar terkena hantaman dari Vicky Prasetyo. Pukulan tersebut membuat Dede kehilangan kesadaran atau mengalami blackout di atas ring. Kondisi itu segera mendapat perhatian dari tim yang berada di lokasi. Setelah pertandingan dihentikan, Dede kemudian dibawa ke sebuah rumah sakit di Jambi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut dan memperoleh penanganan medis.
Insiden tersebut menjadi sorotan karena laga yang semula ditujukan sebagai tontonan hiburan justru memperlihatkan risiko nyata olahraga kontak fisik. Intensitas pukulan, kesiapan peserta, serta perlengkapan keselamatan menjadi hal yang kembali dipertanyakan setelah Dede harus mendapatkan perawatan. Kejadian itu juga membuat publik menaruh perhatian pada keputusan para peserta untuk tampil tanpa pelindung kepala.
Bedu dan Dede diketahui tidak menggunakan pelindung kepala dalam laga tersebut. Perlengkapan itu sebenarnya dapat membantu mengurangi dampak benturan pada bagian kepala, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko cedera. Karena itu, keputusan melepas pelindung kepala menjadi bagian penting dari peristiwa di GOR Kota Jambi, terutama setelah Dede mengalami blackout akibat hantaman Vicky. Sorotan selanjutnya tertuju pada alasan Bedu mengambil keputusan tersebut serta bagaimana ia memandang jalannya pertandingan yang berlangsung lebih keras daripada tujuan awalnya sebagai hiburan.
Sebelum pertandingan berlangsung, panitia telah menyampaikan saran agar seluruh peserta menggunakan pelindung kepala atau head guard. Perlindungan tersebut menjadi bagian dari perlengkapan yang dianjurkan untuk dikenakan dalam laga. Keterangan mengenai aturan itu disampaikan berkaitan dengan persiapan pertandingan Bedu, Dede Sunandar, dan Vicky Prasetyo.
Dalam pelaksanaannya, Bedu dan Dede Sunandar diminta untuk mengenakan head guard. Keduanya mengikuti ketentuan tersebut dengan menggunakan pelindung kepala saat bersiap menjalani pertandingan. Sementara itu, Vicky Prasetyo memilih untuk tidak memakai perlengkapan perlindungan kepala yang telah disarankan oleh panitia.
Perbedaan penggunaan perlengkapan itu menjadi bagian dari situasi sebelum laga dimulai. Bedu menjelaskan bahwa panitia sejak awal memang telah menyarankan penggunaan head guard kepada para peserta. Dengan demikian, informasi yang disampaikan mengenai pelindung kepala merujuk pada aturan atau arahan persiapan pertandingan, bukan pada perubahan ketentuan setelah laga berlangsung.
Bedu juga menerangkan bahwa pertandingan tersebut merupakan laga tinju pertamanya. Keterangan itu menjadi konteks penting dalam memahami keterlibatannya pada pertandingan melawan Vicky Prasetyo. Ia menjalani debut tinju dengan mengenakan pelindung kepala sebagaimana diminta, sedangkan Vicky tampil tanpa head guard setelah memilih untuk tidak menggunakannya.
Bedu menjelaskan bahwa keputusan melepas pelindung kepala dalam laga melawan Vicky Prasetyo berangkat dari keinginannya untuk bertanding dengan kondisi yang setara. Ia merasa kurang tepat apabila dirinya menggunakan head guard, sementara Vicky tampil tanpa perlindungan serupa. Perbedaan perlengkapan tersebut membuat Bedu memilih menyesuaikan diri dengan lawannya di atas ring.
Menurut penjelasan Bedu, langkah itu bukan dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa dirinya lebih kuat atau ingin tampak sebagai petinju yang paling berani. Ia juga tidak sedang berusaha membangun kesan sebagai sosok yang lebih jago dibandingkan Vicky. Keputusan tersebut lebih berkaitan dengan rasa harga diri dan keinginannya menjalani pertandingan secara seimbang, tanpa perlindungan yang berbeda di kedua petarung.
Dengan melepas head guard, Bedu ingin menunjukkan bahwa ia menghormati jalannya pertandingan dan siap menghadapi lawan dalam situasi yang sama. Sikap itu menjadi bagian dari cara Bedu memaknai persaingan di ring, bukan sekadar tindakan spontan untuk menarik perhatian. Baginya, kesetaraan perlengkapan mencerminkan sikap sportif sekaligus membuat pertandingan terasa lebih adil bagi kedua pihak.
Setelah Bedu mengambil keputusan tersebut, Dede Sunandar juga memutuskan melepas pelindung kepalanya. Tindakan Dede menambah perhatian terhadap momen itu karena kedua pihak akhirnya tampil tanpa head guard. Bedu kemudian menyampaikan hal tersebut dengan nada bercanda, seolah-olah Dede merasa memiliki kekuatan seperti seorang superhero. Gurauan itu disampaikan dalam suasana ringan, tanpa mengubah alasan utama Bedu bahwa ia hanya ingin bertanding dengan perlindungan yang sama seperti Vicky.
Bedu menegaskan bahwa pertandingan melawan Vicky Prasetyo tidak dijalani sekadar sebagai pertunjukan simbolis untuk menghibur penonton. Meski mempertemukan dua figur dari kalangan selebriti, laga tersebut tetap memiliki karakter pertandingan tinju. Setiap peserta datang untuk beradu kemampuan, mengikuti aturan yang berlaku, serta menghadapi tekanan yang muncul selama pertarungan berlangsung.
Penjelasan itu terlihat dari jalannya pertandingan yang berlangsung serius dan keras. Bedu dan Vicky tidak hanya tampil untuk melakukan aksi singkat di atas ring, tetapi menjalani setiap ronde dengan intensitas kompetitif. Gerakan, pukulan, dan respons keduanya menunjukkan bahwa laga tersebut diperlakukan sebagai pertandingan, bukan sekadar bagian dari pertunjukan hiburan. Karena itu, suasana di atas ring berkembang menjadi lebih tegang daripada penampilan selebritas yang hanya mengutamakan tontonan.
Bagi Bedu, status sebagai selebritas tidak menghapus tuntutan yang melekat pada olahraga tinju. Ketika seseorang sudah memutuskan masuk ke ring, ia harus siap menjalani pertandingan dengan kesungguhan dan menerima dinamika yang terjadi selama laga. Pandangan tersebut menjadi penegasan atas sikap Bedu dalam menghadapi pertarungan melawan Vicky, termasuk ketika pertandingan berlangsung dalam tempo yang keras dan menuntut konsentrasi tinggi.
Dengan demikian, Bedu memandang laga itu sebagai pertandingan tinju yang benar-benar dijalani, bukan hanya aksi simbolis demi hiburan di hadapan penonton. Karakter tersebut tercermin melalui keseriusan kedua peserta sejak pertandingan dimulai hingga berakhir. Walaupun berasal dari dunia selebritas, mereka tetap tampil sebagai pihak yang sedang bertanding dan berusaha menjalankan perannya di atas ring secara nyata.

