Film Musikal Pulang Kampung Soroti Keindahan dan Budaya Sumatera Utara

Film Musikal Pulang Kampung Soroti Keindahan dan Budaya Sumatera Utara

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Sutradara Bene Dion Rajagukguk memanfaatkan film musikal Pulang Kampung sebagai ruang untuk memperkenalkan potensi pariwisata Sumatera Utara. Salah satu bagian yang dirancang khusus untuk tujuan tersebut adalah adegan menyanyikan lagu medley. Adegan ini tidak hanya berfungsi sebagai penguat unsur musikal dalam cerita, tetapi juga menjadi cara untuk memperlihatkan keindahan alam, suasana daerah, serta identitas budaya yang melekat pada masyarakat setempat.

Dalam adegan medley tersebut, para pemain tampil dengan latar sejumlah destinasi wisata ikonik di Sumatera Utara. Pengambilan gambar di berbagai lokasi memungkinkan penonton menyaksikan bentang alam yang beragam, mulai dari kawasan perbukitan, danau, hingga lingkungan yang memiliki nilai budaya. Keindahan visual itu dipadukan dengan kekayaan tradisi Batak, sehingga perjalanan para tokoh terasa lebih dekat dengan karakter wilayah yang menjadi latar film.

Bene Dion menjelaskan bahwa adegan tersebut dirancang untuk menunjukkan pariwisata dan keindahan Sumatera Utara kepada penonton. Menurutnya, film dapat menjadi medium yang efektif untuk mengenalkan tempat-tempat menarik sekaligus memperlihatkan kebudayaan lokal secara lebih hidup. Melalui perpaduan musik, koreografi, lanskap, dan unsur tradisional, film ini berupaya menghadirkan gambaran Sumatera Utara yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga kaya akan cerita dan warisan budaya.

Proses pengambilan gambar adegan medley membutuhkan waktu empat hari. Durasi tersebut mencerminkan kompleksitas produksi yang harus menyesuaikan perpindahan lokasi, kondisi cuaca, kebutuhan teknis, serta penampilan para pemain. Setiap tempat dipilih dan direkam untuk memberikan nuansa berbeda, sekaligus menjaga kesinambungan adegan. Hasilnya diharapkan dapat membuat penonton menikmati sajian musikal sekaligus terdorong mengenal destinasi dan budaya Batak secara lebih dekat.

Produser Ernest Prakasa menjelaskan bahwa keseluruhan proses produksi film musikal Pulang Kampung berlangsung selama 26 hari. Durasi tersebut mencakup seluruh rangkaian pengambilan gambar yang dibagi Sumatera Utara dan Jakarta. Pembagian waktu ini memperlihatkan bahwa produksi disusun secara terukur untuk menyesuaikan kebutuhan cerita, karakter lokasi, serta bentuk adegan yang harus direkam.

Dari total 26 hari, sebanyak 21 hari digunakan untuk proses pengambilan gambar di Sumatera Utara. Porsi terbesar ini menempatkan wilayah tersebut sebagai ruang utama dalam produksi film. Berbagai kebutuhan visual dan adegan yang berkaitan dengan latar budaya Sumatera Utara dikerjakan selama periode tersebut. Kehadiran tim produksi di daerah itu juga menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan suasana lokal secara lebih kuat di layar.

Sementara itu, lima hari lainnya digunakan untuk pengambilan gambar di Jakarta. Pembagian tersebut menunjukkan bahwa proses syuting tidak seluruhnya dilakukan di satu wilayah, melainkan mengikuti kebutuhan produksi yang telah ditetapkan. Dengan 21 hari di Sumatera Utara dan lima hari di Jakarta, seluruh jadwal pengambilan gambar tercakup dalam total waktu 26 hari yang disebutkan oleh Ernest.

Dalam keseluruhan rangkaian tersebut, pembuatan adegan medley menjadi salah satu bagian penting dari proses syuting. Sebagai film musikal, adegan medley memerlukan perhatian khusus agar unsur musik, penampilan, dan kebutuhan visual dapat direkam secara selaras. Meski menjadi bagian dari keseluruhan produksi, pengerjaannya tetap berada dalam kerangka waktu yang sama, yakni 26 hari. Penjelasan mengenai pembagian durasi ini memberikan gambaran mengenai skala produksi film sekaligus menunjukkan besarnya porsi kerja yang berlangsung di Sumatera Utara.

Produser Dipa Andika menerapkan pendekatan khusus dalam memilih pemeran pendukung untuk film musikal Pulang Kampung. Ia memutuskan tidak menggunakan figuran yang sama secara berulang di berbagai lokasi syuting. Keputusan tersebut diambil untuk menjaga kesesuaian demografi sekaligus menghadirkan gambaran masyarakat yang lebih alami sesuai dengan karakter setiap tempat. Menurut Dipa, keberadaan figuran bukan sekadar pelengkap adegan, melainkan bagian penting dalam membangun suasana dan memperkuat keterkaitan cerita dengan lingkungan sekitarnya.

Proses perekrutan pun disesuaikan dengan kebiasaan, aktivitas, serta profil usia warga di masing-masing titik. Ketika produksi berlangsung di area lapo, misalnya, tim melibatkan kelompok bapak-bapak yang dianggap sesuai dengan suasana tempat berkumpul tersebut. Di lokasi lain, komposisinya berbeda. Para pembuat film merekrut kelompok perempuan berusia sekitar 30 hingga 60 tahun, serta anak-anak muda yang mencerminkan aktivitas dan dinamika warga setempat. Pendekatan serupa diterapkan ketika pengambilan gambar dilakukan di kawasan Danau Toba dan area wisata air mancur, sehingga latar sosial dalam setiap adegan terasa lebih meyakinkan.

Dipa menjelaskan bahwa perbedaan komposisi warga menjadi alasan utama tim mengganti figuran di setiap lokasi. Masyarakat di satu tempat belum tentu memiliki kebiasaan, rentang usia, atau pola interaksi yang sama dengan warga di tempat lainnya. Karena itu, pemilihan pemeran lokal dilakukan secara kontekstual agar visual film tetap otentik dan tidak terkesan dibuat-buat. Selain menghadirkan warga sebagai figuran, film musikal ini juga menandai debut akting penyanyi Axelo Nababan. Keterlibatannya diharapkan turut mendukung keaslian penggambaran lokasi wisata sekaligus memperkuat hubungan film dengan budaya dan kehidupan masyarakat Sumatera Utara.

Komposer Viky Sianipar memegang peran penting dalam membentuk identitas bunyi film musikal Pulang Kampung. Ia menyusun aransemen berbentuk medley yang merangkum kekayaan musik tradisi dari sejumlah rumpun etnis di Sumatera Utara, yakni Batak Toba, Karo, Simalungun, dan Pakpak. Pendekatan ini memungkinkan setiap warna musikal hadir dalam satu rangkaian komposisi yang mengalir, sekaligus mendukung perpindahan suasana dan cerita di dalam film. Meski mengangkat beragam tradisi, komposisi tersebut didominasi unsur Batak Toba dengan porsi sekitar 80 persen. Unsur Karo, Simalungun, dan Pakpak kemudian dimasukkan melalui struktur medley, sehingga ciri khas masing-masing etnis tetap terdengar tanpa menghilangkan kesinambungan aransemen.

Menurut perkiraan Viky, pengerjaan film dengan standar musikal internasional seperti La La Land membutuhkan dukungan produksi yang jauh lebih besar. Biayanya dapat mencapai sekitar tiga kali lipat dibandingkan film biasa, terutama karena proses penggarapan musik, koreografi, rekaman, tata suara, serta penyelarasan adegan memerlukan waktu dan sumber daya tambahan. Tantangan tersebut menunjukkan bahwa musik dalam Pulang Kampung tidak sekadar menjadi pelengkap, melainkan bagian utama dari pengalaman sinematik yang membawa penonton mengenali keberagaman budaya Sumatera Utara.

Pulang Kampung memuat total sembilan lagu dan dijadwalkan tayang serentak di jaringan bioskop Indonesia mulai 26 November 2026. Sejumlah lagu telah diperkenalkan melalui cuplikan film, yaitu Jamila, Pulo Samosir, Tortorhon Ma, dan Tirismo Lae Bangkuang. Tiga di antaranya, yakni Jamila, Tortorhon Ma, dan Tirismo Lae Bangkuang, juga dirilis melalui akun Instagram, YouTube, dan TikTok @imajinari.id. Kehadiran cuplikan serta perilisan di berbagai platform digital memberi kesempatan bagi calon penonton untuk mengenal materi musik sebelum menyaksikan filmnya di layar lebar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *