JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 October 2026, Pandan memiliki kedekatan yang khas dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Aromanya kerap hadir dari dapur, menyertai proses memasak nasi, membungkus kue tradisional, atau memperkaya rasa dan warna pada hidangan manis. Wangi tersebut juga mudah muncul dalam ingatan melalui pengalaman sederhana: menikmati kue basah di rumah, mencicipi es cendol, atau menemukan sajian beraroma pandan di pasar. Karena itu, pandan bukan sekadar bahan pangan, melainkan bagian dari memori kuliner yang terbentuk secara berulang dan akrab.
Kedekatan itu diperkuat oleh warna hijaunya yang hadir di berbagai lanskap Indonesia. Hijau pandan dapat mengingatkan pada daun di halaman, pepohonan di sekitar permukiman, maupun suasana warung kaki lima yang hidup di tanaman, bangunan, dan aktivitas jalanan. Nuansa tersebut membawa kesan segar, hangat, dan membumi. Ketika diterjemahkan ke dalam fashion, pandan menawarkan titik temu pengalaman sensorik dan bahasa visual kontemporer, tanpa harus mengulang bentuk atau simbol tradisional secara harfiah.
Pertemuan itu terlihat dalam kolaborasi ASICS x atmos GEL-KAYANO™ 12.1 “Archipelago”, yang diperkenalkan di atmos Pop Up, Plaza Senayan, Jakarta, pada Kamis, 8 Oktober 2026. Produk ini menjadi kolaborasi perdana ASICS dan atmos di Indonesia, sekaligus membuka percakapan mengenai cara referensi lokal dapat hadir dalam desain sneaker. Inspirasi pandan diterjemahkan melalui pilihan warna, material, dan detail yang membangun pengalaman sensorik bagi pengunjung. Aroma, tekstur, serta suasana ruang menjadi bagian dari cara karya tersebut berkomunikasi, sehingga identitas lokal terasa melalui atmosfer dan asosiasi, bukan melalui ornamen budaya yang ditampilkan secara langsung.
Warna hijau pandan menjadi identitas visual paling menonjol pada GEL-KAYANO™ 12.1 “Archipelago”. Nuansa tersebut tidak hadir sebagai warna dekoratif semata, melainkan sebagai pengikat berbagai referensi yang membentuk desain kolaborasi ASICS dan atmos. Hijau pandan dipadukan dengan aksen merah, off-white, serta sejumlah warna netral hangat. Komposisi ini mengambil inspirasi dari lanskap alam Indonesia sekaligus lingkungan urban yang padat, beragam, dan akrab dengan penggunaan warna kuat. Hasilnya adalah palet yang terasa segar, tetapi tetap memiliki kedalaman visual serta hubungan yang jelas dengan konteks kepulauan.
Siluet GEL-KAYANO™ 12.1 menerapkan pendekatan vintage-tech, yakni menggabungkan proporsi dan karakter sepatu lari era terdahulu dengan detail teknis yang lebih kontemporer. Upper berbahan open mesh memberikan tekstur berpori dan tampilan ringan, sementara silver synthetic overlays menambahkan struktur sekaligus pantulan visual pada permukaan sepatu. Detail TPU cutting-welder memperkuat kesan teknis melalui garis-garis konstruktif yang terlihat tegas, sekaligus membantu membentuk ritme pada bagian upper. Meski menerima pengolahan baru, bentuk keseluruhannya tetap mempertahankan karakter khas seri GEL-KAYANO™ 12, sehingga identitas model asal tidak hilang di balik bahasa desain kolaboratif.
Eksplorasi warna berlanjut pada elemen-elemen yang lebih kecil. Insole menggunakan pola minimal yang menjaga tampilan tetap bersih, sedangkan bagian bawah sepatu menampilkan gradasi yang terinspirasi dari warna makanan dan minuman. Menurut Marcel Lukman, banyaknya warna hijau dalam arsitektur Indonesia menjadi salah satu rujukan penting, terutama karena warna itu sering muncul dalam elemen grafis bangunan dan ruang sehari-hari. Ia juga mengaitkannya dengan tempat makan seperti warung pecel lele dan warteg, yang memiliki bahasa visual khas melalui warna, papan nama, serta susunan ruangnya. Referensi tersebut diterjemahkan secara lebih subtil ke dalam palet dan detail sepatu, sehingga “Archipelago” terasa dekat dengan pengalaman urban Indonesia tanpa menjadi ilustrasi literal.
Nama “Archipelago” menjadi fondasi gagasan di balik kolaborasi ASICS dan atmos ini. Istilah tersebut merujuk pada Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, sebuah bentang geografis yang memperlihatkan keragaman sekaligus jarak. Namun, perbedaan ruang tidak selalu berarti keterpisahan. Masyarakat di berbagai wilayah tetap terhubung melalui budaya, tradisi, bahasa, makanan, kerajinan, serta pengalaman yang diwariskan dan dibagikan lintas generasi. Dalam konteks ini, “Archipelago” tidak sekadar menggambarkan peta Indonesia, melainkan cara melihat identitas nasional sebagai jaringan hubungan yang terus bergerak.
Pandan ditempatkan sebagai penghubung gagasan besar tersebut dan pengalaman yang lebih dekat dengan keseharian. Tumbuhan ini hadir dalam banyak bentuk dan fungsi, mulai dari bahan anyaman, pembungkus makanan, hingga aroma yang akrab dalam berbagai hidangan. Penggunaan pandan menghadirkan simbol yang sederhana, tetapi kaya makna: sesuatu yang tumbuh dan digunakan di banyak tempat, dengan karakter yang dapat dikenali bersama. Ketika diterjemahkan ke dalam bahasa visual sneaker, unsur tersebut membawa nuansa lokal tanpa menghilangkan kesan kontemporer. Ia menjembatani warisan budaya dengan gaya urban, sekaligus menunjukkan bahwa inspirasi Indonesia dapat hadir secara halus dalam produk yang dirancang untuk mobilitas modern.
President Director ASICS Indonesia, Yuya Sugiyama, menyampaikan bahwa kolaborasi ini mencerminkan komitmen ASICS untuk menghadirkan kenyamanan khas merek tersebut, sekaligus estetika stylish yang merepresentasikan identitas budaya lokal. Pernyataan ini menegaskan bahwa aspek fungsional dan nilai budaya ditempatkan secara seimbang. Gagasan tersebut juga selaras dengan kampanye “Move Your Body, Move Your Mind”, yang menghubungkan aktivitas fisik dengan kesejahteraan pikiran. Sepatu tidak hanya dipahami sebagai pelengkap penampilan, tetapi sebagai bagian dari pengalaman bergerak, menjelajah, dan membangun koneksi. Melalui pendekatan itu, konsep kepulauan diterjemahkan menjadi ajakan untuk tetap aktif, terbuka, dan terhubung di tengah keberagaman.
Konsep kolaborasi ASICS x atmos diteruskan melalui pengalaman langsung di atmos Pop Up yang berlangsung pada 8–12 Oktober 2026. Ruang ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat melihat produk, tetapi juga sebagai instalasi storytelling yang menghubungkan gagasan tentang pandan, kepulauan, dan bahasa urban dengan kehidupan sehari-hari. Pengunjung diajak memahami inspirasi koleksi melalui susunan visual, material, serta elemen sensorik yang membangun suasana secara bertahap.
Salah satu elemen yang menonjol adalah aroma pandan, yang membawa asosiasi dunia makanan Indonesia ke dalam ruang presentasi fashion. Pendekatan tersebut memperluas cara sebuah sneaker dipahami, bukan semata melalui bentuk dan warna, melainkan juga melalui ingatan, rasa, dan pengalaman inderawi. Marcel Lukman turut menceritakan kerinduannya terhadap makanan Indonesia ketika bepergian ke luar negeri. Kerinduan itu secara khusus berkaitan dengan hidangan yang menggunakan pandan atau gula merah, termasuk kue lapis, yang menghadirkan kembali kedekatan dengan rumah dan budaya asal.
Lapisan narasi tersebut diperluas melalui kampanye visual yang dikembangkan bersama sineas Indonesia Edwin. Perpaduan produk, cerita, dan visual budaya menempatkan kolaborasi ini dalam konteks masa kini, tanpa melepaskan akar referensinya. Presentasi tersebut menunjukkan bahwa identitas lokal dapat diterjemahkan ke dalam bahasa visual yang kontemporer sekaligus terbuka bagi audiens yang lebih luas.
Dari sisi teknis, sneaker ini menggunakan tooling GEL-NIMBUS™ 17 pada bagian sole unit, dilengkapi teknologi FluidRide serta bantalan GEL di bagian depan dan belakang kaki. Kombinasi FlyteFoam dan FF BLAST dirancang untuk mendukung bantalan, respons, stabilitas, dan kenyamanan dalam penggunaan sehari-hari. Setelah periode pop-up, produk ini resmi diluncurkan pada 9 Oktober 2026 melalui gerai atmos di Indonesia, Jepang, Malaysia, dan Filipina, serta kanal resmi ASICS Indonesia.

