JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 October 2026, Pembangunan ekosistem bola basket Indonesia membutuhkan keterlibatan dan kerja bersama dari seluruh unsur yang berada di dalamnya. Federasi, liga, klub, pemain, pelatih, media, komunitas, sponsor, serta berbagai pemangku kepentingan perlu memiliki arah yang sejalan agar pembinaan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Sinergi tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat fondasi kompetisi nasional, tetapi juga membuka lebih banyak kesempatan bagi pemain muda untuk berkembang dan mencapai level prestasi yang lebih tinggi.
Penguatan ekosistem menjadi semakin penting dalam mempersiapkan prestasi bola basket nasional pada masa mendatang, khususnya tim nasional putra. Setiap unsur memiliki peran yang saling melengkapi, mulai dari penyediaan kompetisi berkualitas, pengembangan talenta, peningkatan kapasitas pelatih, hingga penyebaran informasi yang akurat kepada publik. Dengan komunikasi dan koordinasi yang lebih baik, berbagai tantangan dalam pembinaan dapat diidentifikasi bersama, sementara program yang telah berjalan dapat dievaluasi secara terbuka dan terarah.
Sekretaris Jenderal DPP Perbasi Nirmala Dewi menilai forum diskusi yang diselenggarakan komunitas Jurnalis Suka dan Peduli Olahraga (Jusraga) memiliki arti penting bagi perkembangan olahraga tersebut. Menurutnya, forum itu menjadi ruang bagi federasi untuk menerima masukan dari media dan pencinta bola basket, sekaligus menyampaikan informasi mengenai kebijakan serta program organisasi. Interaksi semacam ini dinilai dapat memperkuat pemahaman publik dan membangun kepercayaan antarpihak. Nirmala menegaskan bahwa organisasi tidak akan berhasil apabila komunikasinya tidak berjalan baik. Karena itu, keterbukaan dialog perlu dijaga agar aspirasi dari berbagai unsur dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun langkah pembinaan dan meningkatkan prestasi nasional.
Forum bertema “Satu Ekosistem Bola Basket Indonesia: Pembinaan, Liga, Industri, dan Prestasi” menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus evaluasi terhadap arah pengembangan basket nasional. Pertemuan ini diharapkan dapat mempertemukan pandangan berbagai pihak, mulai dari Indonesian Basketball League (IBL), DPP Perbasi, klub, media, hingga pemangku kepentingan lain yang memiliki perhatian terhadap masa depan olahraga tersebut. Dengan melibatkan unsur yang beragam, pembahasan tidak hanya berfokus pada kompetisi, tetapi juga pada tantangan pembinaan, keberlanjutan industri, dan peningkatan prestasi tim nasional.
Salah satu persoalan yang turut menjadi perhatian adalah berkurangnya jumlah klub peserta IBL dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut berpotensi mempersempit kesempatan pemain lokal untuk berkembang dan memperoleh pengalaman di tingkat profesional. Ketika jumlah tim serta ruang kompetisi menurun, jalur bagi pemain muda untuk bertransisi menuju level elite juga dapat menjadi lebih terbatas. Karena itu, evaluasi terhadap struktur liga, dukungan klub, dan faktor ekonomi perlu dilakukan secara terbuka untuk menemukan solusi yang realistis dan berkelanjutan.
Forum ini menegaskan pentingnya membangun relasi yang saling mendukung pembinaan usia muda, kompetisi profesional, industri, klub, federasi, dan tim nasional. Setiap unsur memiliki peran yang berbeda, tetapi seluruhnya perlu berjalan dalam arah yang selaras. Akademi dan pembinaan daerah dapat menyiapkan talenta, klub menyediakan ruang pengembangan, liga meningkatkan kualitas persaingan, sedangkan federasi memastikan tata kelola serta kesinambungan program. Dukungan industri dan media juga dibutuhkan untuk memperkuat eksposur, pendanaan, serta keterikatan publik.
Melalui pertukaran gagasan tersebut, ekosistem basket Indonesia diharapkan mampu memperluas kumpulan pemain berkualitas dan membentuk jalur pembinaan yang berkesinambungan. Hasil forum dapat menjadi dasar bagi kolaborasi antarpihak, sehingga pengembangan pemain tidak berhenti pada satu jenjang atau program tertentu. Kesinambungan pembinaan, kompetisi, dan prestasi menjadi kunci agar lebih banyak pemain lokal memperoleh peluang, sementara tim nasional memiliki pasokan talenta yang kompetitif dalam jangka panjang.
Direktur Utama Indonesian Basketball League (IBL) Junas Miradiarsyah menilai berbagai masukan yang muncul dalam forum dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki penyelenggaraan liga. Salah satu perhatian penting ialah peningkatan kesempatan bermain bagi pemain lokal. Menurutnya, kualitas kompetisi profesional perlu terus diperkuat, tetapi pengembangan ekosistem basket nasional tidak dapat hanya bergantung pada pertandingan di level tersebut.
Jalur pembinaan dan kompetisi bagi kelompok usia 18 hingga 22 tahun dinilai perlu memperoleh perhatian yang lebih maksimal. Rentang usia ini berada pada tahap penting dalam perkembangan seorang pemain, terutama untuk mempersiapkan kemampuan dan pengalaman sebelum memasuki persaingan profesional. Karena itu, keberadaan program pembinaan serta kompetisi yang lebih kuat diharapkan dapat memberikan ruang perkembangan yang memadai bagi pemain lokal.
Penguatan pada kelompok usia tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan klub-klub IBL dan tim nasional terhadap pasokan pemain. Ekosistem yang berkelanjutan membutuhkan proses pembinaan yang mampu menghubungkan talenta muda dengan jenjang kompetisi yang lebih tinggi. Dengan demikian, pemain tidak hanya memiliki kesempatan untuk berkembang, tetapi juga peluang yang lebih besar untuk dipertimbangkan oleh klub profesional maupun tim nasional.
Junas menyampaikan bahwa penguatan program dan kompetisi pada rentang usia 18 hingga 22 tahun diharapkan dapat menghasilkan lebih banyak pemain untuk liga profesional. Pandangan tersebut menempatkan pembinaan usia muda sebagai bagian penting dari upaya memperluas basis pemain lokal. Masukan dari forum menjadi bahan untuk melihat penyelenggaraan liga secara lebih menyeluruh, termasuk bagaimana kompetisi profesional dapat berjalan seiring dengan pembentukan jalur pemain menuju level tersebut.
Peningkatan kesempatan bermain bagi pemain lokal, dalam kerangka ini, tidak hanya dipahami sebagai kebijakan di dalam liga profesional. Kesempatan tersebut perlu didukung oleh proses yang lebih panjang melalui pembinaan dan kompetisi pada usia yang sesuai. Jika hubungan antartahap pengembangan diperkuat, klub IBL dan tim nasional memiliki sumber pemain yang lebih luas, sementara ekosistem basket nasional dapat bertumbuh dengan fondasi yang lebih berkesinambungan.
Ketua Panitia Jusraga Muhammad Naufal menjelaskan bahwa forum ini digelar untuk membedah kondisi bola basket nasional secara terbuka dan menyeluruh. Diskusi tersebut berangkat dari pencapaian tim putra Indonesia yang berhasil meraih medali emas pada SEA Games 2021 di Vietnam. Prestasi itu sempat menjadi penanda penting bagi perkembangan bola basket nasional sekaligus meningkatkan harapan terhadap keberlanjutan pembinaan atlet dan peningkatan daya saing tim Indonesia di tingkat regional.
Namun, capaian tersebut belum dapat dipertahankan secara konsisten. Performa tim mengalami penurunan hingga penyelenggaraan SEA Games 2025 di Thailand. Para peserta forum juga menyoroti kekalahan Indonesia dari Malaysia dalam kualifikasi FIBA Asia Cup 2029. Hasil yang dinilai kurang memuaskan pada Asian Games 2026 turut menjadi perhatian karena menunjukkan masih adanya persoalan dalam proses pembinaan, persiapan kompetisi, serta kesinambungan regenerasi pemain nasional.
Dalam pembahasan, sejumlah pihak mengaitkan kondisi itu dengan konsep dan aturan kompetisi Indonesian Basketball League (IBL). Format serta regulasi liga dinilai perlu dievaluasi agar kompetisi dapat memberi ruang lebih besar bagi perkembangan pemain lokal. Evaluasi tersebut diharapkan tidak hanya berfokus pada kualitas pertandingan, tetapi juga mendorong klub untuk meningkatkan menit bermain, tanggung jawab, dan pengalaman pemain Indonesia. Dengan demikian, liga domestik dapat berfungsi lebih kuat sebagai jalur pembentukan atlet yang siap memperkuat tim nasional.
Forum ini diikuti puluhan jurnalis dari media arus utama, serta perwakilan atau pengelola klub RANS Simba Bogor dan Hangtuah. Hadir pula mantan pelatih tim nasional putra Indonesia, Fictor Roring dan Wahyu Widayat Jati. Dari kalangan pegiat bola basket, diskusi turut dihadiri Augie Fantinus dan Djoni Permato dari Udjo Project Pop. Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan menghasilkan pandangan yang lebih beragam mengenai arah kompetisi, pembinaan, dan prestasi basket Indonesia.

