JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 October 2026, Resting heart rate (RHR), atau detak jantung istirahat, semakin sering dibicarakan di kalangan penggemar kebugaran. Angka ini biasanya diperiksa ketika tubuh berada dalam kondisi tenang, misalnya setelah bangun tidur atau sebelum memulai aktivitas harian. Perangkat pintar, jam olahraga, dan aplikasi kesehatan turut membuat pengukuran RHR menjadi lebih mudah, sehingga banyak orang dapat memantau perubahannya dari waktu ke waktu.
Di komunitas kebugaran, RHR kerap dipandang sebagai salah satu indikator perkembangan kondisi tubuh. Penurunan angka tersebut sering dianggap sebagai tanda bahwa latihan berjalan efektif, kebugaran kardiovaskular meningkat, dan jantung mampu bekerja dengan lebih efisien. Tidak sedikit pula orang yang menjadikan RHR sebagai angka yang membanggakan, terutama ketika nilainya lebih rendah dibandingkan teman atau anggota komunitas lainnya.
Namun, penilaian semacam itu perlu dilakukan secara hati-hati. RHR tidak berdiri sendiri sebagai ukuran kesehatan jantung, karena nilainya dapat dipengaruhi oleh usia, tingkat kebugaran, kualitas tidur, stres, suhu tubuh, konsumsi kafein, obat-obatan, serta kondisi kesehatan tertentu. Selain itu, angka yang dianggap rendah pada satu orang belum tentu memiliki arti yang sama pada orang lain. Yang lebih penting adalah memahami pola pribadi dan perubahan yang muncul secara konsisten.
RHR juga tidak boleh disamakan dengan detak jantung saat berolahraga. Detak jantung selama aktivitas fisik menunjukkan respons tubuh terhadap beban latihan, sedangkan RHR menggambarkan denyut ketika tubuh sedang beristirahat. Keduanya memiliki fungsi dan cara interpretasi yang berbeda. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar apakah RHR semakin rendah, melainkan apakah angka tersebut sesuai dengan kondisi tubuh secara keseluruhan dan tidak disertai keluhan. Dengan sudut pandang ini, pemantauan RHR dapat menjadi alat informasi yang bermanfaat, bukan sekadar perlombaan mengejar angka paling kecil.
Resting heart rate (RHR) atau detak jantung saat istirahat adalah jumlah denyut jantung dalam satu menit ketika tubuh berada dalam keadaan tenang dan tidak sedang melakukan aktivitas fisik. Pengukuran ini menggambarkan seberapa sering jantung memompa darah ketika kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan energi berada pada tingkat yang relatif rendah. Karena itu, RHR berbeda dari denyut nadi yang dicatat setelah berjalan, menaiki tangga, berolahraga, atau melakukan pekerjaan fisik.
Secara umum, pengukuran RHR dilakukan ketika seseorang benar-benar rileks, misalnya pada pagi hari setelah bangun tidur dan sebelum beranjak dari tempat tidur. Seseorang juga dapat mengukurnya setelah duduk tenang selama beberapa menit. Kondisi seperti baru beraktivitas, mengonsumsi kafein, merokok, mengalami demam, stres, atau kurang tidur dapat membuat denyut jantung meningkat sementara sehingga hasilnya tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi istirahat.
RHR memiliki kaitan dengan kondisi kesehatan jantung karena menunjukkan bagaimana jantung bekerja saat tubuh tidak sedang membutuhkan kinerja tambahan. Detak yang lebih rendah sering ditemukan pada orang yang memiliki kebugaran fisik baik, sebab jantungnya dapat memompa darah secara lebih efisien dalam setiap denyutan. Namun, angka yang rendah tidak otomatis berarti jantung seseorang lebih sehat. Interpretasinya perlu mempertimbangkan usia, tingkat kebugaran, obat-obatan, riwayat penyakit, serta gejala yang menyertai.
Spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Vito A Damay, SpJP(K), menjelaskan bahwa RHR merupakan salah satu indikator yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi jantung, tetapi bukan satu-satunya dasar untuk menilai kesehatan organ tersebut. Oleh sebab itu, hasil pengukuran sebaiknya dilihat sebagai bagian dari evaluasi kesehatan secara menyeluruh. Perubahan yang menetap atau disertai keluhan, seperti pusing, mudah lelah, sesak napas, nyeri dada, atau pingsan, perlu dibahas dengan tenaga medis agar penyebabnya dapat diketahui secara tepat.
Menurut dr. Vito, angka resting heart rate (RHR) yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko kesehatan yang juga lebih tinggi. Kaitan tersebut dijelaskan melalui hubungannya dengan proses metabolisme tubuh. Dengan demikian, RHR tidak hanya dipandang sebagai angka yang menggambarkan denyut jantung pada satu waktu, tetapi juga sebagai bagian dari gambaran mengenai bagaimana tubuh bekerja ketika berada dalam kondisi istirahat.
Penjelasan ini perlu ditempatkan dalam konteks pengukuran yang tepat. Angka RHR yang dianggap baik berada di kisaran 60-an denyut per menit, terutama ketika seseorang sedang tidur atau benar-benar diam. Kondisi tersebut penting karena denyut jantung dapat berubah akibat aktivitas, gerakan, emosi, maupun keadaan lain yang membuat tubuh tidak sepenuhnya beristirahat. Oleh sebab itu, angka yang diukur setelah berjalan, berbicara, atau melakukan kegiatan tertentu tidak menggambarkan kondisi RHR secara optimal.
Dr. Vito menerangkan bahwa semakin tinggi angka RHR, semakin tinggi pula risiko yang dikaitkan dengannya, karena angka tersebut berhubungan dengan metabolisme. Pernyataan ini merupakan penjelasan narasumber mengenai hubungan RHR dan risiko, bukan dasar untuk menilai kondisi jantung seseorang hanya dari satu hasil pengukuran. Pembacaan RHR juga perlu dipahami berdasarkan situasi saat pengukuran dilakukan, khususnya apakah seseorang sedang tidur atau benar-benar diam. Dengan memperhatikan konteks itu, angka pada kisaran 60-an denyut per menit menjadi patokan yang disebut baik dalam penjelasan tersebut, sementara angka yang lebih tinggi dipandang berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi.
Rentang denyut jantung istirahat atau resting heart rate (RHR) tidak selalu berada di atas 60 denyut per menit. Pada orang yang sangat rajin berolahraga, terutama mereka yang rutin melakukan latihan aerobik, angka tersebut dapat berada jauh lebih rendah. Tubuh mereka telah beradaptasi untuk bekerja secara lebih efisien, sehingga jantung mampu memompa darah dalam jumlah yang memadai dengan denyutan yang lebih sedikit.
Menurut dr Vito, pelari maraton atau orang yang konsisten melakukan olahraga aerobik dapat memiliki RHR sekitar 40 hingga 50 denyut per menit, khususnya saat tidur. Ketika tidur, tubuh berada dalam keadaan rileks dan kebutuhan energi menurun. Pada individu yang memiliki kebugaran jantung dan paru-paru baik, kondisi ini dapat membuat denyut jantung turun lebih rendah dibandingkan kisaran yang umum ditemukan pada orang dewasa.
Angka tersebut, dalam konteks kebugaran dan tanpa keluhan tertentu, disebut tidak menjadi masalah oleh narasumber. RHR yang rendah pada atlet atau orang yang aktif berolahraga bukan semata-mata menunjukkan adanya gangguan. Sebaliknya, hal itu dapat mencerminkan kemampuan jantung memompa darah dengan efektif. Namun, penilaiannya tetap perlu mempertimbangkan kondisi setiap orang, bukan hanya berpatokan pada satu angka yang terlihat pada alat pengukur.
Karena itu, RHR rendah sebaiknya dipahami bersama kebiasaan olahraga, usia, tingkat kebugaran, kualitas tidur, serta kondisi tubuh secara keseluruhan. Denyut 40–50 kali per menit mungkin wajar bagi pelari maraton, tetapi belum tentu memiliki arti yang sama bagi seseorang yang tidak aktif berolahraga. Jika angka rendah disertai pusing, mudah lelah, sesak napas, nyeri dada, atau pingsan, pemeriksaan medis tetap diperlukan. Dengan demikian, makna RHR selalu bergantung pada konteks, riwayat aktivitas fisik, dan gejala yang menyertainya.

