KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar mengunjungi Kampung Hijrah di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Rabu, 7 Oktober 2026. Kunjungan tersebut menjadi momentum bagi tokoh yang akrab disapa Cak Imin itu untuk menyampaikan pandangannya mengenai peran dakwah dalam kehidupan masyarakat, khususnya di tengah perkembangan karakter generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, Cak Imin memberikan apresiasi kepada pendakwah Hanan Attaki. Pujian itu disampaikan karena Hanan dinilai konsisten menyebarkan nilai-nilai religi kepada kalangan generasi Z. Konsistensi tersebut dipandang penting karena penyampaian pesan keagamaan perlu terus menjangkau kelompok muda melalui pendekatan yang dapat mereka pahami dan terima.
Apresiasi Muhaimin menunjukkan perhatian terhadap cara dakwah yang mampu berhubungan dekat dengan generasi Z. Kelompok ini tumbuh dalam lingkungan sosial yang dinamis, sehingga komunikasi keagamaan dituntut untuk tetap relevan tanpa meninggalkan substansi nilai religi. Dalam konteks itu, kiprah Hanan Attaki menjadi perhatian karena dakwahnya dinilai memiliki kedekatan dengan karakter dan kebutuhan generasi muda.
Pernyataan tersebut menempatkan dakwah sebagai salah satu sarana untuk memperkuat pemahaman keagamaan di kalangan generasi Z. Ketekunan dalam menyampaikan nilai-nilai religi menjadi unsur yang diapresiasi, terutama ketika pesan tersebut dapat hadir secara dekat dengan kehidupan anak muda. Melalui kunjungannya ke Kampung Hijrah, Muhaimin menyampaikan penghargaan terhadap upaya Hanan dalam menjaga kesinambungan dakwah bagi generasi tersebut.
Muhaimin Iskandar menilai Hanan Attaki memiliki cara dakwah yang mampu menjangkau karakter dan kebutuhan generasi muda. Penyampaian pesan keagamaan tidak dilakukan dengan pendekatan yang menghakimi, melainkan melalui bahasa yang akrab, terbuka, dan mudah dipahami. Gaya tersebut membuat ajaran Islam terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi anak muda yang tumbuh dalam lingkungan dengan perubahan sosial dan teknologi yang cepat.
Menurut Muhaimin, kemampuan menyesuaikan metode komunikasi dengan perkembangan zaman merupakan hal penting bagi seorang pendakwah. Hanan dinilai berhasil mengembangkan model dakwah yang ramah, sehingga pembahasan mengenai nilai-nilai Islam dapat diterima tanpa menimbulkan jarak pendakwah dan pendengar. Ia tidak hanya menyampaikan norma keagamaan, tetapi juga mengaitkannya dengan persoalan yang dihadapi anak muda, seperti pencarian jati diri, hubungan sosial, pendidikan, pekerjaan, dan tantangan moral di ruang digital.
Pendekatan semacam itu dinilai membantu masyarakat awam memahami pesan agama secara lebih sederhana tanpa mengurangi makna utamanya. Bahasa yang komunikatif memungkinkan nilai-nilai seperti kasih sayang, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial disampaikan dalam konteks yang relevan. Bagi Muhaimin, kehadiran pendakwah dengan karakter seperti Hanan penting agar pesan-pesan mulia Islam dapat diterima oleh lebih banyak kalangan, termasuk mereka yang sebelumnya belum akrab dengan kajian keagamaan.
Penilaian tersebut menunjukkan bahwa dakwah tidak cukup hanya mengandalkan keluasan pengetahuan, tetapi juga memerlukan empati, kreativitas, dan kemampuan membaca perubahan masyarakat. Dengan menjaga substansi ajaran sekaligus memilih cara penyampaian yang sesuai, dakwah dapat menjadi ruang dialog yang menenangkan. Model komunikasi yang inklusif juga berpeluang membangun ketertarikan generasi muda untuk mengenal agama secara lebih mendalam dan menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengembangan Pesan Trend menunjukkan upaya memperluas peran lembaga pendidikan Islam. Pesantren ini tidak hanya menempatkan pengajaran agama sebagai pusat kegiatan, tetapi juga memadukannya dengan keterampilan hidup yang dibutuhkan santri dalam menghadapi perubahan sosial dan ekonomi. Pendekatan tersebut diarahkan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan praktis, sehingga mereka tidak semata-mata memahami ajaran secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Model pendidikan semacam ini memiliki kaitan erat dengan cita-cita membangun kemandirian santri. Pengetahuan keagamaan dapat menjadi landasan moral, sedangkan keterampilan hidup membantu santri mengambil keputusan, mengembangkan potensi, serta mempersiapkan masa depan secara lebih percaya diri. Dengan demikian, pesantren berfungsi sebagai ruang pembentukan karakter sekaligus tempat penguatan kapasitas individu. Santri diharapkan mampu berkontribusi di tengah masyarakat tanpa kehilangan identitas dan nilai keislamannya.
Gagasan tersebut sejalan dengan apresiasi Muhaimin Iskandar terhadap konsistensi Hanan Attaki dalam merangkul generasi Z. Cara menyampaikan pesan yang dekat dengan pengalaman anak muda dapat dipandang sebagai bagian dari usaha menghadirkan Islam secara komunikatif dan relevan. Namun, ruang dakwah masih sangat luas. Banyak kelompok masyarakat, termasuk mereka yang berada di luar lingkungan pendidikan agama formal, perlu disentuh oleh para aktivis Muslim dengan pendekatan yang terbuka dan kontekstual.
Perluasan jangkauan itu penting agar Islam tidak berhenti pada pelaksanaan ritual, melainkan dipahami melalui nilai-nilai yang hadir dalam persoalan kehidupan. Kejujuran, tanggung jawab, kepedulian sosial, kerja keras, dan kemandirian merupakan contoh nilai yang dapat diterjemahkan dalam pendidikan maupun aktivitas kemasyarakatan. Melalui perpaduan dakwah yang merangkul dan pendidikan yang membekali keterampilan, lembaga seperti Pesan Trend berpotensi memperkuat peran generasi muda sebagai Muslim yang berpengetahuan, adaptif, dan mampu memberi manfaat bagi lingkungannya.
Muhaimin Iskandar menilai potensi umat Islam dari berbagai kalangan perlu disatukan melalui kerja sama yang terbuka dan saling melengkapi. Menurut pandangannya, umat memiliki latar belakang, pengalaman, serta kemampuan yang beragam. Keragaman tersebut tidak semestinya menjadi penghalang, melainkan dapat menjadi kekuatan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Karena itu, pengembangan dakwah perlu dilakukan dengan pendekatan yang mampu menjangkau kelompok dan generasi yang berbeda, termasuk anak muda yang memiliki cara berkomunikasi serta kebutuhan sosial yang khas.
Ia juga mendorong agar beragam model dan pendekatan dakwah terus dikembangkan. Dakwah tidak harus disampaikan melalui satu bentuk atau metode, sebab setiap komunitas memiliki kondisi dan tantangan yang tidak selalu sama. Pengembangan pendekatan yang sesuai diharapkan dapat memperkuat kemandirian umat Muslim di Indonesia, baik dalam kehidupan keagamaan maupun dalam menghadapi persoalan sosial. Dengan memanfaatkan potensi yang ada dan membuka ruang bagi kreativitas, umat dapat berperan lebih besar dalam mencari jalan keluar atas berbagai masalah kehidupan.
Dalam pandangan Muhaimin, ajaran Islam tidak hanya memuat seruan ritual, tetapi juga mengandung nilai keberanian, kemandirian, dan kreativitas. Nilai-nilai tersebut penting untuk ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari agar umat memiliki daya untuk menghadapi perubahan dan menyelesaikan persoalan secara mandiri. Ia melihat bahwa aspek keberanian mengambil peran, kemampuan berdiri sendiri, serta kecakapan menemukan solusi terkadang kalah menonjol dibandingkan seruan ritual semata. Oleh sebab itu, penguatan dakwah perlu memberi ruang yang seimbang bagi seluruh nilai tersebut.
Hanan Attaki dinilai telah menunjukkan bahwa pendekatan dakwah yang tepat dapat membantu banyak anak muda berhijrah dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Pengalaman itu menjadi gambaran bahwa dakwah yang dekat dengan generasi muda dapat membuka ruang perubahan, selama disampaikan melalui cara yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Bagi Muhaimin, pengembangan berbagai pendekatan semacam itu penting untuk terus dilakukan sebagai bagian dari upaya menyatukan potensi umat dan mendorong kemandirian Muslim di Indonesia.

