Jakarta Naik ke Peringkat 140 Kota Dunia, Pramono Ingatkan Ancaman Kebakaran

Jakarta Naik ke Peringkat 140 Kota Dunia, Pramono Ingatkan Ancaman Kebakaran

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 October 2026, Jakarta mencatat kenaikan posisi dalam Global Cities Index 2026 yang dirilis Oxford Economics. Dalam pemeringkatan tersebut, ibu kota Indonesia berada di peringkat ke-140 dari 1.000 kota di dunia. Capaian ini menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa Jakarta mengalami peningkatan posisi yang signifikan dibandingkan dua tahun sebelumnya.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa Jakarta sebelumnya berada di kisaran peringkat 300-an. Dengan demikian, posisi ke-140 pada edisi 2026 memperlihatkan adanya perubahan peringkat dalam rentang dua tahun. Pernyataan itu disampaikan Pramono di Aryaduta Hotel Jakarta pada Selasa, 6 Oktober 2026.

Publikasi Oxford Economics itu menempatkan Jakarta dalam daftar 1.000 kota dunia untuk tahun 2026. Bagi pemerintah daerah, pencapaian tersebut menjadi gambaran mengenai perubahan posisi Jakarta dalam pemeringkatan global. Pramono menekankan kenaikan itu ketika menyampaikan keterangannya di Jakarta, tanpa menguraikan rincian penilaian lain dalam kesempatan tersebut.

Kabar mengenai peringkat ini muncul bersamaan dengan perhatian Pramono terhadap ancaman kebakaran di Jakarta. Namun, capaian dalam Global Cities Index 2026 tetap menjadi penanda utama bahwa posisi Jakarta meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Dari kisaran peringkat 300-an menjadi peringkat ke-140, Jakarta kini tercatat sebagai salah satu dari 140 kota teratas dalam daftar 1.000 kota yang dirilis Oxford Economics.

Peningkatan posisi Jakarta hingga peringkat ke-140 dalam daftar kota dunia dinilai sebagai capaian yang positif. Namun, pencapaian tersebut tidak boleh membuat perhatian terhadap keselamatan warga berkurang. Pramono mengingatkan bahwa kemajuan kota perlu berjalan beriringan dengan kesiapan menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat dan aktivitas pemerintahan.

Menurut Pramono, Jakarta memiliki tantangan tersendiri karena berada di kawasan Ring of Fire. Posisi tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam pengelolaan kota. Peningkatan kualitas layanan, pembangunan, dan daya saing Jakarta perlu disertai kemampuan untuk merespons keadaan darurat secara cepat, terkoordinasi, dan terukur.

Perhatian khusus juga diarahkan pada ancaman kebakaran. Kepadatan kawasan perkotaan dan tingginya aktivitas masyarakat menjadikan kesiapan menghadapi kebakaran sebagai kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Upaya pencegahan, penguatan respons, serta penyampaian informasi kepada warga perlu dipastikan berjalan secara konsisten agar risiko dan dampak kejadian dapat ditekan.

Karena itu, Pramono meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD meningkatkan kesiapan menghadapi bencana. Kesiapan tersebut mencakup penguatan koordinasi, pemantauan kondisi, serta kemampuan petugas dalam mengambil tindakan ketika situasi darurat terjadi. BPBD juga diharapkan memastikan setiap unsur yang berkaitan dengan penanganan bencana memahami perannya dan dapat bekerja secara efektif.

Imbauan ini menunjukkan bahwa capaian peringkat kota bukan hanya berkaitan dengan citra dan pengakuan internasional, melainkan juga dengan kemampuan Jakarta melindungi warganya. Kota yang berkembang perlu memiliki sistem kesiapsiagaan yang kuat, sehingga kemajuan yang diraih dapat dirasakan secara aman dan berkelanjutan oleh seluruh masyarakat.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengingatkan bahwa kondisi cuaca yang masih kering perlu mendapat perhatian serius. Musim kemarau yang berlangsung lebih panjang dapat meningkatkan potensi kebakaran, terutama di kawasan padat penduduk, lahan terbuka, permukiman dengan instalasi listrik yang rentan, serta lokasi yang menyimpan bahan mudah terbakar. Menurutnya, ancaman tersebut tidak boleh dipandang sebagai persoalan musiman semata karena dampaknya dapat meluas dan mengganggu aktivitas warga.

Pramono juga menyebut pengaruh El Nino sebagai salah satu faktor yang membuat periode kering terasa lebih panjang. Fenomena iklim tersebut dapat menekan peluang turunnya hujan dan menyebabkan suhu udara meningkat. Situasi demikian berpotensi mempercepat pengeringan vegetasi, menurunkan kelembapan, serta mempersulit upaya pemadaman apabila kebakaran terjadi. Karena itu, kewaspadaan masyarakat dan kesiapan petugas perlu terus diperkuat selama cuaca belum kembali normal.

Di tengah kondisi tersebut, Pramono berharap hujan segera turun pada awal Oktober. Ia menilai curah hujan sangat dibutuhkan untuk mengurangi kekeringan sekaligus membantu menekan risiko kebakaran di berbagai wilayah Jakarta. Pramono menyampaikan bahwa ketika menginginkan hujan, masyarakat juga perlu berdoa. Pernyataan itu disampaikan sebagai bentuk harapan agar perubahan cuaca segera terjadi, sembari pemerintah tetap menjalankan langkah teknis untuk menghadapi dampak kemarau.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai salah satu upaya untuk mendorong terbentuknya hujan. Melalui operasi tersebut, pemerintah berharap kondisi atmosfer yang mendukung dapat dimanfaatkan sehingga hujan turun di wilayah sasaran atau kawasan sekitarnya. OMC diharapkan membantu mengurangi dampak kekeringan yang berkepanjangan, meskipun hasilnya tetap bergantung pada dinamika awan dan keadaan atmosfer.

Selain mengandalkan OMC, kewaspadaan terhadap sumber api tetap diperlukan. Warga diimbau tidak membakar sampah sembarangan, memastikan peralatan listrik digunakan dengan aman, dan segera melaporkan titik api kepada petugas. Kombinasi pencegahan, kesiapsiagaan, doa, serta intervensi pemerintah menjadi langkah penting untuk menghadapi risiko kebakaran hingga hujan benar-benar kembali turun.

Pramono mengingatkan bahwa kondisi yang kering dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama di kawasan yang padat penduduk. Dalam situasi tersebut, api berpotensi lebih cepat menimbulkan ancaman karena jarak antarbangunan dan aktivitas masyarakat berlangsung dalam ruang yang terbatas. Karena itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan agar berbagai sumber pemicu kebakaran dapat diantisipasi sejak awal.

Ia menyebut sejumlah penyebab yang perlu diperhatikan, lain puntung rokok, korsleting listrik, panas yang berlangsung terlalu lama, serta sampah. Benda atau kondisi yang tampak sederhana tersebut dapat menjadi pemicu apabila berada di lingkungan yang kering dan tidak segera diantisipasi. Pramono menekankan pentingnya perhatian terhadap kebiasaan maupun keadaan sekitar yang berpotensi memunculkan api.

Sebagai contoh, Pramono menyampaikan kebakaran di kawasan Pancoran yang disebut terjadi setelah seseorang membuang puntung rokok di area markas besar angkatan udara. Contoh tersebut menunjukkan bahwa kelalaian kecil dapat menimbulkan risiko kebakaran, khususnya ketika kondisi lingkungan mendukung penyebaran api. Penyebab seperti puntung rokok perlu menjadi perhatian bersama agar tidak memicu kejadian serupa.

Pramono meminta seluruh jajaran untuk mengantisipasi dan menjaga kondisi tersebut. Permintaan itu terutama ditujukan agar kewaspadaan tetap terpelihara di wilayah yang memiliki kepadatan penduduk tinggi. Ia menyebut Tambora dan Cakung sebagai kawasan padat yang dinilai memiliki potensi kebakaran tinggi. Dengan memperhatikan kondisi kering serta berbagai sumber pemicu yang telah disebutkan, seluruh jajaran diharapkan tidak mengabaikan potensi bahaya dan terus menjaga keadaan di wilayah masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *