JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 October 2026, Oleh Karena itu, Gakeslab meminta pemerintah menciptakan iklim industri alat kesehatan yang kondusif dan stabil agar pertumbuhan industri dapat berlangsung secara berkelanjutan. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Gakeslab Business Forum 2026 bertema "Kolaborasi Industri Alat Kesehatan untuk Indonesia Sehat dan Mandiri" di Jakarta, Senin (5/10/2026).
Keterangan yang tercatat menyebut Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Lucia Rizka Andalusia mengatakan, industri kesehatan merupakan sektor strategis yang dapat mendukung perekonomian Indonesia. Oleh sebab itu, kata ia, produsen didorong membangun industri yang matang dengan kualitas produk yang terjaga. Kita harapannya juga akan masuk ke pasar swasta, kemudian mempunyai daya saing dan juga ekspor," kata Lucia. Menurut asosiasi, kondisi tersebut berisiko mengesampingkan kualitas produk serta keunggulan teknologi dalam jangka panjang. Kami juga mengusulkan agar pemerintah mengevaluasi dampak mekanisme pengadaan tersentralisasi terhadap pertumbuhan industri alat kesehatan dalam negeri," kata Kartono.
Data lain dalam laporan menunjukkan Dan alat kesehatan merupakan salah satu bagian dari industri kesehatan yang mempunyai kontribusi yang besar dalam mendukung perekonomian di Indonesia," kata Lucia sebagai keynote speech di acara Gakeslab Business Forum 2026 di Jakarta, Senin (5/10/2016). Sebab, perusahaan yang memperoleh pengadaan dalam jumlah besar pada tahun ini belum tentu mendapatkan proyek serupa pada tahun berikutnya. Pembangunan industri itu untuk sustainable," kata Irwan Hermanto, Ketua Panitia Gakeslab Forum 2026. Jangan sampai hanya murah, tapi kita harapkan juga ini semuanya harus masuk dalam komponen-komponen harga," kata Kartono dalam Gakeslab Business Forum 2026 di Jakarta, Senin (5/10/2026).
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Jakarta, Industri alat kesehatan (alkes) dalam negeri didorong tak lagi sekadar menjadi penopang pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi salah satu sektor yang ikut menggerakkan perekonomian nasional. Namun, untuk menuju ke sana, industri alat kesehatan Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari keberlanjutan industri, ketergantungan terhadap pengadaan pemerintah, pengembangan produk hingga kemampuan memperluas pasar ke sektor swasta dan ekspor. Alat kesehatan menjadi salah satu bagian di dalamnya yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan. Lucia bilang, pemerintah tidak hanya mendorong produksi alat kesehatan dalam negeri.
Pengembangan industri juga perlu dilakukan dari hulu hingga hilir, mulai dari penelitian dan pengembangan, proses produksi hingga membuka akses pasar. Kemenkes, misalnya, berupaya mempertemukan peneliti atau inventor dengan industri agar inovasi yang dihasilkan dapat dikembangkan menjadi produk. Di sisi hilir, pemerintah juga mempertemukan produsen dengan pengguna, termasuk rumah sakit, puskesmas dan dinas kesehatan. Kita semua sepakat bahwa industri kesehatan ini merupakan industri yang strategis untuk mendukung ekonomi, perekonomian di Indonesia. Meski perkembangan produksi dalam negeri dinilai menggembirakan, Lucia mengingatkan pertumbuhan tersebut harus diikuti keberlanjutan industri. Kemenkes tidak ingin industri hanya memproduksi jenis alat tertentu ketika permintaannya sedang tinggi karena menjadi bagian dari program pemerintah. Ia mencontohkan meningkatnya produksi alat tes tuberkulosis ketika pemerintah sedang mendorong eliminasi TBC, maupun alat skrining HPV saat program tersebut tengah diperluas. Kami senang ada banyak industri-industri yang memproduksi. Tapi jangan sampai nanti tidak bisa mempertahankan mutu, kemudian berguguran satu per satu," ujarnya. Pasar yang disasar pun tidak cukup hanya berasal dari pemerintah, tetapi perlu diperluas ke sektor swasta hingga pasar luar negeri. Persoalan keberlanjutan tersebut juga menjadi perhatian. Pelaku industri menilai pembangunan industri alat kesehatan tidak dapat didasarkan pada satu produk maupun satu proyek pengadaan saja. Pembangunan satu industri bukan untuk satu produk atau satu proyek. Sektor swasta turut dipandang sebagai pasar yang perlu semakin digarap industri alat kesehatan. Hal ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan industri terhadap belanja pemerintah sekaligus membangun bisnis yang lebih berkelanjutan. Sementara itu, Ketua Umum Gakeslab Indonesia RD. Kartono Dwijosewojo menilai upaya efisiensi belanja kesehatan tetap perlu memperhatikan keberlanjutan industri dan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Menurutnya, proses pengadaan alat kesehatan tidak semestinya hanya berorientasi pada harga murah. Aspek lain seperti kualitas produk, teknologi, instalasi, pelatihan, pemeliharaan, layanan purna jual hingga ketersediaan suku cadang juga perlu menjadi pertimbangan. Gakeslab juga menyoroti mekanisme pengadaan melalui metode mini kompetisi yang dinilai kerap menempatkan harga murah sebagai bobot penilaian tertinggi. Selain itu, Gakeslab menilai pola pengadaan yang tersentralisasi masih menghadirkan tantangan bagi pelaku usaha. Penetapan penyedia dalam jumlah terbatas dinilai belum tentu dapat mengakomodasi kebutuhan setiap daerah yang berbeda, termasuk dari sisi kemampuan distribusi dan layanan purna jual. Gakeslab pun mengingatkan persoalan pengadaan dan efisiensi dapat berdampak pada keberlangsungan industri. Asosiasi menyebut sebagian pelaku industri saat ini berada dalam "mode bertahan hidup (survive)" untuk menjaga kelangsungan perusahaan. Jika persoalan tersebut tidak segera diatasi, Gakeslab menilai kondisi itu berpotensi memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar.

