JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Struktur ekonomi Jakarta menunjukkan pergeseran yang semakin kuat menuju sektor jasa. Ekonom ahli Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Sakti Arif Wicaksono, menyampaikan bahwa perubahan tersebut tercermin dari meningkatnya kontribusi sektor jasa terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta. Pangsa sektor jasa yang pada 2019 berada di sekitar 53,95 persen meningkat menjadi sekitar 55,87 persen pada 2025. Kenaikan ini menegaskan bahwa aktivitas ekonomi ibu kota semakin ditopang oleh layanan, bukan semata-mata oleh kegiatan produksi barang.
Pernyataan itu disampaikan Sakti dalam Podcast Rabu Belajar di Jakarta pada Rabu. Menurut dia, perkembangan tersebut menggambarkan perubahan basis ekonomi Jakarta yang terus menyesuaikan diri dengan karakter perkotaan dan kebutuhan ekonomi modern. Sektor jasa mencakup beragam kegiatan yang memiliki peran penting dalam menopang mobilitas ekonomi, interaksi usaha, serta pemenuhan kebutuhan masyarakat. Peningkatan pangsanya dalam PDRB juga memperlihatkan semakin besarnya posisi layanan dalam pembentukan nilai tambah ekonomi daerah.
Ke depan, arah perkembangan ekonomi Jakarta akan semakin berkaitan dengan ekonomi berbasis pengetahuan, jasa, teknologi, dan kekayaan intelektual. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa daya saing ekonomi tidak hanya ditentukan oleh kapasitas fisik, tetapi juga oleh kemampuan menghasilkan, mengelola, dan memanfaatkan pengetahuan. Teknologi serta kekayaan intelektual diperkirakan menjadi bagian yang makin penting dalam kegiatan ekonomi ibu kota. Dengan arah itu, penguatan sektor jasa dan industri kreatif menjadi unsur yang semakin menonjol dalam struktur ekonomi Jakarta, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap layanan bernilai tambah dan gagasan yang dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif.
Ekonomi kreatif menempati posisi yang semakin penting dalam struktur perekonomian Jakarta. Perkembangan sektor ini sejalan dengan karakter ibu kota sebagai pusat jasa, perdagangan, teknologi, komunikasi, hiburan, serta berbagai kegiatan berbasis ide dan inovasi. Pada 2025, ekonomi Jakarta tumbuh 5,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut tidak hanya ditopang oleh aktivitas jasa konvensional dan industri, tetapi juga oleh sejumlah subsektor ekonomi kreatif yang terus berkembang.
Sektor ekonomi kreatif mencakup kegiatan yang mengandalkan kreativitas, pengetahuan, keterampilan, dan pemanfaatan teknologi untuk menghasilkan nilai ekonomi. Di Jakarta, ruang pertumbuhannya terlihat dalam subsektor aplikasi dan gim, desain, fesyen, kuliner, film, musik, penerbitan, periklanan, serta seni pertunjukan. Ekosistem perkotaan yang dinamis, didukung konsumen yang beragam dan infrastruktur digital yang relatif kuat, memberi peluang bagi pelaku usaha kreatif untuk memperluas pasar dan membangun model bisnis baru.
Kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian Jakarta mencapai sekitar 11,53 persen. Angka ini menunjukkan bahwa sektor tersebut bukan sekadar pelengkap, melainkan salah satu sumber pertumbuhan yang relevan bagi daerah. Kontribusi itu juga memperlihatkan besarnya potensi aktivitas berbasis kreativitas dalam menopang perekonomian Jakarta pada masa mendatang. Dengan dukungan kebijakan, akses pembiayaan, peningkatan kapasitas, dan perlindungan terhadap pelaku usaha, ekonomi kreatif berpeluang menjadi semakin kuat dan produktif.
Aspek ketenagakerjaan turut mempertegas peran tersebut. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional atau Sakernas Agustus 2025, ekonomi kreatif menyerap hampir 1,30 juta pekerja di Jakarta. Menurut Sakti, besarnya penyerapan tenaga kerja itu mencerminkan bahwa sektor kreatif memiliki dampak langsung terhadap kesempatan kerja masyarakat. Pertumbuhan sektor ini karenanya perlu diarahkan agar berlangsung inklusif, meningkatkan kualitas pekerjaan, serta membuka peluang yang lebih luas bagi generasi muda dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Kinerja perekonomian Jakarta sepanjang 2025 menunjukkan pertumbuhan yang tetap kuat. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat ekonomi Jakarta tumbuh sebesar 5,21 persen dibandingkan dengan capaian pada 2024. Angka tersebut menggambarkan peningkatan aktivitas ekonomi di berbagai sektor, sekaligus memperlihatkan kemampuan Jakarta mempertahankan perannya sebagai salah satu pusat perdagangan, jasa, keuangan, dan industri kreatif nasional.
Secara nominal, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta atas dasar harga berlaku (ADHB) pada 2025 mencapai Rp3.926,15 triliun. ADHB merupakan nilai barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada tahun pengukuran. Karena itu, indikator ini mencerminkan ukuran ekonomi berdasarkan nilai nominal, termasuk pengaruh perubahan harga. Pada 2024, PDRB ADHB Jakarta tercatat Rp3.679,71 triliun. Kenaikan tersebut menunjukkan bertambahnya nilai kegiatan produksi dan jasa yang dihasilkan di wilayah Jakarta selama satu tahun.
Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) pada 2025 mencapai Rp2.263,24 triliun, meningkat dari Rp2.151,20 triliun pada 2024. Berbeda dari ADHB, ADHK menggunakan harga pada tahun dasar sehingga dampak perubahan harga dapat ditekan. Dengan demikian, indikator ini lebih tepat digunakan untuk melihat pertumbuhan ekonomi secara riil, yaitu berdasarkan peningkatan volume produksi barang dan jasa, bukan semata-mata kenaikan harga.
Perbandingan kedua indikator tersebut memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi ekonomi Jakarta. Nilai ADHB memperlihatkan besarnya perekonomian dalam ukuran nominal, sedangkan ADHK menegaskan pertumbuhan setelah memperhitungkan pengaruh harga. Pertumbuhan sebesar 5,21 persen pada 2025, disertai kenaikan nilai PDRB berdasarkan kedua pendekatan, menjadi dasar bahwa aktivitas ekonomi Jakarta terus berkembang. Data ini juga mendukung pembacaan lebih lanjut mengenai semakin pentingnya sektor jasa dan industri kreatif dalam struktur perekonomian daerah.
Komposisi ekonomi Jakarta sepanjang 2025 menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan, industri, keuangan, dan jasa saling melengkapi dalam membentuk kinerja ekonomi daerah. Perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, menjadi lapangan usaha dengan kontribusi terbesar, yakni 18,12 persen. Besarnya porsi tersebut mencerminkan peran Jakarta sebagai pusat distribusi, konsumsi, dan transaksi bisnis yang melayani kebutuhan penduduk maupun kegiatan ekonomi dari wilayah sekitarnya. Jaringan usaha ritel, pusat perdagangan, serta layanan perawatan kendaraan turut memperkuat posisi sektor ini dalam struktur perekonomian ibu kota.
Di bawah perdagangan, industri pengolahan menyumbang 11,13 persen. Meskipun Jakarta semakin dikenal sebagai pusat jasa, kegiatan manufaktur tetap memiliki arti penting, terutama melalui industri yang berkaitan dengan kebutuhan perkotaan, pengolahan barang, dan rantai pasok. Sementara itu, jasa keuangan dan asuransi memberikan kontribusi 10,96 persen. Sektor tersebut menopang pembiayaan usaha, pengelolaan risiko, investasi, serta berbagai transaksi ekonomi yang berlangsung di pusat pemerintahan dan bisnis nasional. Data ini memperlihatkan bahwa ekonomi Jakarta tidak hanya bertumpu pada aktivitas layanan, tetapi juga memiliki fondasi perdagangan, produksi, dan intermediasi keuangan yang kuat.
Dari sisi pertumbuhan, penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat kenaikan tertinggi, yaitu 9,33 persen. Perkembangan ini berkaitan dengan aktivitas pariwisata, perjalanan bisnis, serta meningkatnya permintaan terhadap layanan kuliner dan penginapan. Posisi berikutnya ditempati transportasi dan pergudangan dengan pertumbuhan 8,69 persen, didukung mobilitas masyarakat, distribusi barang, dan kebutuhan logistik perkotaan. Jasa lainnya tumbuh 8,46 persen, menandakan semakin beragamnya kebutuhan layanan personal, sosial, dan profesional. Ketiga sektor tersebut menegaskan penguatan ekonomi berbasis jasa, tanpa mengurangi peran perdagangan, industri pengolahan, keuangan, dan bidang usaha lain sebagai bagian penting dari struktur serta sumber pertumbuhan Jakarta.

