Dari Awal Kontainerisasi hingga Masa Depan Pelabuhan: Jejak Capt. Nazahar Naamin di JICT

Dari Awal Kontainerisasi hingga Masa Depan Pelabuhan: Jejak Capt. Nazahar Naamin di JICT

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 October 2026, PT Jakarta International Container Terminal (JICT) meresmikan Gedung Serbaguna Capt. Naamin pada Kamis, 8 Oktober 2026, di Jakarta Utara. Peresmian ini menjadi penanda penting bagi upaya perusahaan dalam mengenang sosok yang memiliki peran dalam perjalanan kepelabuhanan Indonesia. Nama Capt. Nazahar Naamin kini diabadikan pada sebuah fasilitas yang merepresentasikan kesinambungan sejarah, pengabdian, dan perkembangan industri pelabuhan.

Capt. Nazahar Naamin merupakan salah satu insan pelabuhan yang terlibat pada fase awal perubahan Tanjung Priok menuju era kontainerisasi. Perubahan tersebut tidak hanya menggeser cara barang ditangani, tetapi juga membentuk tuntutan baru terhadap keahlian, tata kelola, infrastruktur, dan sumber daya manusia. Dalam konteks itu, kontribusi para pelopor menjadi bagian penting dari fondasi yang memungkinkan pelabuhan Indonesia bergerak menuju sistem yang lebih modern dan terintegrasi.

Pengabadian nama Capt. Naamin melalui gedung serbaguna JICT memiliki makna yang melampaui sebuah penamaan fasilitas. Langkah ini merupakan bentuk penghormatan lintas generasi kepada mereka yang telah mengambil bagian dalam membangun arah kemajuan pelabuhan nasional. Jejak pengabdian tersebut diharapkan tetap dikenali oleh generasi yang bekerja di sektor kepelabuhanan saat ini, sekaligus menjadi pengingat bahwa perkembangan industri bertumpu pada proses panjang dan kontribusi banyak pihak.

Peresmian ini juga membawa pesan mengenai pentingnya menyiapkan generasi baru di sektor kepelabuhanan Indonesia. Kemajuan teknologi dan perubahan kebutuhan logistik menuntut tenaga profesional yang berkompeten, adaptif, serta memahami sejarah bidang yang digelutinya. Dengan mengenang peran Capt. Nazahar Naamin, JICT menegaskan bahwa penghormatan terhadap masa lalu dapat berjalan seiring dengan dorongan untuk menciptakan masa depan pelabuhan yang lebih tangguh, modern, dan berdaya saing.

Pada awal dekade 1970-an, operasional pelabuhan Indonesia berada dalam tahap perubahan penting. Peti kemas belum menjadi wajah utama kegiatan kepelabuhanan. Sebagian besar arus barang masih ditangani melalui pola konvensional, dengan proses bongkar muat yang bergantung pada tenaga kerja, peralatan umum, dan pengaturan muatan yang lebih beragam. Di tengah perubahan perdagangan internasional, Tanjung Priok mulai bergerak menuju sistem kontainerisasi. Peralihan ini bukan sekadar penggantian bentuk kemasan barang, melainkan perubahan menyeluruh terhadap cara pelabuhan merencanakan, menangani, menyimpan, dan mengirimkan muatan.

Sejak 1973, Capt. Nazahar Naamin berada di Unit Terminal Container Tanjung Priok. Kehadirannya berlangsung pada fase awal ketika sistem peti kemas mulai dibangun dan dikembangkan sebagai bagian dari masa depan operasional pelabuhan. Pada periode tersebut, berbagai unsur harus disiapkan secara bertahap, mulai dari infrastruktur terminal, peralatan bongkar muat, tata letak lapangan penumpukan, hingga prosedur kerja yang sesuai dengan karakter muatan dalam peti kemas. Teknologi dan pola operasi juga perlu menyesuaikan diri dengan meningkatnya tuntutan perdagangan yang mengutamakan kecepatan, keteraturan, serta kesinambungan distribusi.

Perjalanan karier Naamin kemudian mengikuti perkembangan strategis Tanjung Priok dan pengelolaan pelabuhan secara lebih luas. Setelah berkiprah di Unit Terminal Container, ia menjalankan tanggung jawab sebagai kepala Unit Terminal Petikemas. Tahap berikutnya membawanya menjadi kepala Cabang Pelabuhan Tanjung Priok, sebelum kemudian dipercaya sebagai direktur usaha Pelindo II. Urutan jabatan tersebut memperlihatkan keterhubungan pengalaman teknis di lingkungan terminal dan tanggung jawab manajerial yang semakin besar. Dari tahap awal pengembangan sistem peti kemas hingga pengelolaan cabang dan usaha perusahaan, perannya berada dalam rangkaian perubahan yang menuntut penyesuaian berkelanjutan terhadap sistem, infrastruktur, teknologi, serta pola operasi pelabuhan. Dengan demikian, kiprah Naamin tidak terpisah dari sejarah transformasi Tanjung Priok ketika pelabuhan mulai membangun fondasi bagi layanan berbasis peti kemas dan menghadapi perubahan kebutuhan perdagangan nasional maupun internasional.

Jarak masa awal kontainerisasi dan kondisi terminal modern saat ini menunjukkan perubahan yang sangat besar. Lebih dari lima dekade kemudian, kegiatan bongkar muat tidak lagi hanya bergantung pada kekuatan fisik, pengalaman lapangan, dan koordinasi manual. Skala layanan, volume arus peti kemas, tuntutan kecepatan, serta keterhubungan dengan jaringan logistik global telah menjadikan operasi terminal jauh lebih kompleks. Setiap proses harus berlangsung presisi, terukur, aman, dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan perdagangan.

Di tengah perkembangan tersebut, Jakarta International Container Terminal (JICT) kini memiliki kapasitas lebih dari 2 juta TEUs per tahun. Kapasitas itu berjalan beriringan dengan upaya memperkuat modernisasi peralatan, digitalisasi proses, ketahanan operasi, dan pengembangan sumber daya manusia. JICT juga terus mendorong agenda green terminal melalui peningkatan efisiensi energi, pengurangan dampak lingkungan, serta penerapan praktik operasional yang lebih berkelanjutan. Langkah-langkah ini memperlihatkan bahwa terminal masa kini bukan sekadar tempat perpindahan barang, melainkan bagian penting dari ekosistem logistik yang menuntut inovasi berkelanjutan.

Direktur Utama JICT, Ade Hartono, memandang kemajuan tersebut sebagai hasil perjalanan panjang lintas generasi, bukan sesuatu yang muncul dalam semalam. “Capt. Naamin termasuk bagian dari generasi yang berani memulai perubahan dan membangun fondasi,” ujar Ade. Pernyataan itu menempatkan kontribusi Capt. Nazahar Naamin dalam konteks sejarah yang lebih luas: setiap kemajuan terminal modern berangkat dari keberanian para pendahulu untuk memperkenalkan cara kerja baru dan menghadapi ketidakpastian.

Tantangan generasi terdahulu adalah melahirkan kontainerisasi dan membangun sistem yang mampu mengoperasikannya. Generasi saat ini menghadapi tantangan berbeda, yakni digitalisasi, otomasi, keberlanjutan, ketahanan operasi, serta perubahan rantai pasok global. Bentuk tantangannya memang berubah, tetapi prinsip dasarnya tetap sama. Kemajuan hanya dapat dipertahankan apabila pelaku industri memiliki keberanian untuk bertransformasi, kesiapan mengembangkan kompetensi, dan keteguhan membangun fondasi bagi generasi berikutnya.

Pencantuman nama Capt. Nazahar Naamin pada gedung di lingkungan JICT memiliki makna yang melampaui sebuah penghormatan seremonial. Bagi insan pelabuhan, nama tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan industri lahir dari keberanian untuk memulai, ketekunan menjalankan amanah, serta kesediaan menghadapi perubahan. Bagi keluarga almarhum, penghormatan itu juga menegaskan bahwa pengabdian Capt. Naamin tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan tetap hadir dalam kehidupan pelabuhan dan menjadi bagian dari pembentukan masa depan.

Komisaris Utama JICT, WS Wiryawan, memandang pencantuman nama Capt. Naamin bukan sekadar cara menghormati masa lalu. Menurutnya, nama itu harus menjadi sumber inspirasi bagi generasi berikutnya. Ia berharap dari tempat tersebut lahir “Capt. Naamin-Capt. Naamin baru”, yakni insan pelabuhan yang berani mengambil langkah pertama, mampu menjaga kepercayaan dan amanah, serta membawa perubahan sesuai tantangan zamannya. Harapan itu menempatkan legacy bukan sebagai kenangan yang pasif, melainkan nilai yang terus dihidupkan melalui tindakan, kepemimpinan, dan kontribusi nyata.

Wiryawan menegaskan bahwa cara terbaik menghormati legacy bukan hanya dengan mengenang nama, tetapi dengan meneruskan semangat yang diwariskan. Semangat itu dapat tumbuh melalui keberanian berinovasi, kedisiplinan bekerja, dan kepedulian terhadap keberlanjutan ekosistem pelabuhan. Mieke Naamin, istri mendiang Capt. Nazahar Naamin, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada JICT karena tetap mengingat pengabdian suaminya. Bagi keluarga, gedung tersebut bukan hanya menyandang nama almarhum, tetapi juga menunjukkan bahwa kerja keras serta pengabdiannya masih diingat dan memiliki arti bagi generasi hari ini. Dengan demikian, penghormatan itu menjadi jembatan sejarah, keluarga, dan masa depan pelabuhan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *