JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 October 2026, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengambil peran sebagai investor katalis untuk mempercepat investasi dan hilirisasi di Indonesia. Peran ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas industri nasional sekaligus mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen. Sebagai lembaga pengelola investasi, Danantara diharapkan tidak hanya menempatkan modal, tetapi juga membuka jalan bagi masuknya investasi lanjutan, membangun kemitraan strategis, dan mendorong pengembangan proyek yang memiliki dampak luas terhadap perekonomian.
Strategi tersebut menjadi bagian dari visi pemerintah untuk mengubah fondasi ekonomi Indonesia secara menyeluruh. Selama ini, perekonomian nasional masih banyak bertumpu pada ekspor komoditas mentah atau produk dengan tingkat pengolahan terbatas. Melalui hilirisasi, nilai tambah komoditas diupayakan tetap berada di dalam negeri, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat rantai pasok, meningkatkan penerimaan, dan mendorong terbentuknya industri dengan daya saing global.
Chief Operating Officer Danantara sekaligus CEO Danantara Asset Management, Dony Oskaria, menyampaikan arah kebijakan tersebut di Jakarta pada Kamis, 8 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa langkah Danantara tidak dapat dipisahkan dari agenda transformasi ekonomi pemerintah. “Pemerintah ingin mengubah basis ekonomi kita secara utuh, dari yang berbasis komoditas menjadi berbasis industri,” ujar Dony.
Pernyataan itu menegaskan bahwa investasi dan hilirisasi dipandang sebagai instrumen untuk membangun struktur ekonomi yang lebih kuat, bukan sekadar upaya meningkatkan nilai ekspor dalam jangka pendek. Dengan menjadi investor katalis, Danantara dapat membantu mengurangi hambatan pembiayaan, meningkatkan kepercayaan investor, serta mempercepat realisasi proyek strategis di berbagai sektor. Keberhasilan pendekatan ini akan bergantung pada pemilihan proyek yang tepat, tata kelola yang transparan, dan koordinasi pemerintah, dunia usaha, serta mitra investasi. Jika berjalan konsisten, transformasi tersebut dapat memperluas basis produksi nasional dan memberi fondasi yang lebih kokoh bagi target pertumbuhan ekonomi 6 persen.
Danantara menempatkan hilirisasi sebagai salah satu strategi utama untuk menarik arus modal ke sektor manufaktur. Melalui investasi berkapasitas besar, lembaga ini diharapkan dapat memperkuat proses industrialisasi sekaligus meningkatkan daya tarik Indonesia bagi investor. Pendekatan tersebut tidak hanya berorientasi pada penambahan nilai, tetapi juga pada pembentukan ekosistem industri yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Peran Danantara dalam strategi ini adalah menjadi pemicu masuknya investasi ke sektor-sektor industri. Dengan kapasitas pembiayaan dan pengelolaan investasi yang dimiliki, Danantara dapat membantu membuka ruang bagi penanaman modal berskala besar dalam bentuk hilirisasi. Kehadiran investasi tersebut diharapkan mampu mempercepat realisasi berbagai agenda industrialisasi yang selama ini memerlukan dukungan modal, kepastian kebijakan, serta koordinasi lintas pihak.
Upaya itu berjalan beriringan dengan langkah pemerintah yang sedang merombak berbagai regulasi untuk mempercepat industrialisasi. Penyederhanaan dan penyesuaian aturan diperlukan agar proses investasi dapat berlangsung lebih efisien, transparan, dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha. Dengan regulasi yang lebih mendukung, arus modal diharapkan tidak berhenti pada komitmen, tetapi dapat segera diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi produktif.
Dalam tahun ini, Danantara menyatakan komitmen investasi sebesar Rp225 triliun dalam bentuk hilirisasi. Nilai tersebut menunjukkan besarnya skala dukungan yang disiapkan untuk mendorong penguatan industri di dalam negeri. Investasi berkapasitas besar itu juga diharapkan menciptakan efek berganda bagi perekonomian, mulai dari meningkatnya aktivitas usaha hingga terbukanya peluang kerja.
Dony menyampaikan harapan bahwa investasi tersebut dapat membuka banyak lapangan pekerjaan baru. Penyerapan tenaga kerja menjadi salah satu manfaat penting yang ingin dicapai melalui hilirisasi, karena pertumbuhan investasi perlu dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Dengan demikian, peran Danantara bukan hanya memobilisasi modal, melainkan juga membantu mengarahkan investasi agar memberikan dampak ekonomi yang lebih luas dan mendukung target pertumbuhan nasional sebesar 6 persen.
Danantara diproyeksikan meningkatkan komitmen investasinya untuk menjawab kebutuhan pembiayaan nasional yang terus membesar. Kebutuhan investasi Indonesia diperkirakan mencapai sekitar Rp1.200 triliun pada 2027, sehingga diperlukan mobilisasi modal yang lebih terarah, berkelanjutan, dan mampu menghasilkan dampak luas bagi perekonomian. Peningkatan peran Danantara diharapkan dapat memperkuat kapasitas investasi domestik sekaligus menarik partisipasi mitra strategis dari dalam dan luar negeri. Dukungan tersebut penting untuk menopang target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, terutama ketika pemerintah berupaya menjaga daya beli, memperluas kapasitas produksi, serta meningkatkan produktivitas nasional.
Fokus Danantara tidak hanya diarahkan pada hilirisasi komoditas, meskipun sektor tersebut tetap menjadi salah satu prioritas utama. Lembaga ini juga didorong untuk mendukung kebangkitan industri padat karya, termasuk manufaktur tekstil yang memiliki rantai pasok luas dan kemampuan besar dalam menyerap tenaga kerja. Strategi tersebut bertujuan memperluas kesempatan kerja di sektor formal, meningkatkan pendapatan rumah tangga, dan menciptakan basis pertumbuhan yang lebih inklusif. Penguatan industri padat karya juga dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah sekaligus memperbesar nilai tambah produk yang dihasilkan di dalam negeri.
Dony menyatakan bahwa dorongan terhadap pertumbuhan industri tekstil menjadi bagian penting dari agenda industrialisasi nasional. Menurutnya, pengembangan sektor tersebut perlu diiringi pembenahan ekosistem usaha, mulai dari ketersediaan bahan baku, pembiayaan, teknologi, hingga kepastian pasar. Pemerintah juga berencana merombak berbagai aturan dan deregulasi yang selama ini dinilai memperlambat investasi serta ekspansi industri. Penyederhanaan perizinan dan harmonisasi kebijakan diharapkan mempercepat pembangunan kapasitas produksi, meningkatkan daya saing manufaktur, dan membuka lebih banyak lapangan kerja formal. Dengan demikian, investasi Danantara dapat menghasilkan manfaat yang lebih merata, bukan hanya melalui peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga melalui penguatan struktur ketenagakerjaan nasional.
Percepatan investasi dan industrialisasi akan disertai penataan besar-besaran terhadap badan usaha milik negara (BUMN). Kebijakan ini diarahkan untuk membentuk struktur perusahaan negara yang lebih ramping, fokus, dan mampu mendukung agenda hilirisasi secara efektif. Dengan pengelolaan yang lebih terarah, BUMN diharapkan dapat berkonsentrasi pada sektor-sektor strategis serta menjalankan fungsi yang memiliki dampak penting bagi perekonomian nasional.
Menurut Dony, jumlah BUMN yang saat ini mencapai 1.074 perusahaan akan dipangkas hingga tersisa sekitar 200 perusahaan. Penyesuaian tersebut mencakup perusahaan yang tidak lagi memiliki relevansi strategis maupun entitas yang menjalankan kegiatan di luar bisnis inti. Lebih dari 800 BUMN direncanakan ditutup sebagai bagian dari upaya menyederhanakan struktur perusahaan negara dan meningkatkan efisiensi pengelolaan aset.
BUMN yang tidak menjalankan bisnis inti akan dilikuidasi atau dialihkan pengelolaannya kepada sektor swasta. Dengan demikian, sektor-sektor yang bukan merupakan bisnis inti perusahaan negara dapat diserahkan kepada pelaku usaha swasta yang dinilai lebih sesuai untuk mengelolanya. Langkah ini juga membuka ruang bagi persaingan yang lebih sehat, memperluas partisipasi investor, dan mendorong pemanfaatan aset secara lebih produktif.
Penataan tersebut didasarkan pada kebutuhan untuk mendorong peran swasta semaksimal mungkin dalam perekonomian. Pertumbuhan ekonomi tidak mungkin hanya dijalankan oleh Danantara atau bertumpu pada perusahaan negara. Keterlibatan swasta diperlukan untuk memperbesar kapasitas investasi, mempercepat industrialisasi, serta menciptakan kegiatan usaha yang lebih luas. Melalui pembagian peran yang lebih jelas, BUMN dapat berfokus pada bidang inti, sementara sektor noninti berkembang melalui pengelolaan swasta.

