Bangka Belitung | Mentok perairan air putih terancam, warga Dusun air putih tegas tolak kehadiran ponton selam Bangka Barat, penolakan terhadap rencana maupun aktivitas ponton selam diperairan Dusun air putih Desa KM/kemang masam kecamatan mentok kabupaten Bangka Barat, Senin (1/62026).
Semakin menguat, Warga setempat secara tegas menyatakan tidak menginginkan keberadaan ponton selam yang dinilai berpotensi mengancam kelestarian lingkungan laut dan mata pencaharian masyarakat nelayan menurut warga, perairan air putih selama ini menjadi sumber kehidupan bagi banyak keluarga yang menggantikantungkan,
Penghasilan dari sektor perikanan, kehadiran aktivitas tambang di laut dikhawatirkan akan menyebabkan kerusakan ekosistem, meningkatnya kekruhana air, serta berkurangnya hasil tangkapan nelayan, sejumlah tokoh masyarakat dan nelayan setempat menyampaikan bahwa mereka berharap wilayah perairan air putih tetap dijaga dan tidak dijadikan lokasi aktivitas ponton selam warga menilai laut bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat pesisir “kami ingin laut air putih tatap bersih dan menjadi tempat mencari nafkah bagi nelayan, jangan sampai aktivitas ponton selam justru menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat”,ungkap selah seorang warga selain menyuarakan penolakan, masyarakat juga meminta pemerintah daerah, instansi terkait, dan aparat penegak hukum untuk memperhatikan aspirasi warga sebelum mengambil keputusan terkait aktivitas yang akan beroperasi di wilayah tersebut warga berharap segala bentuk pemanfaatan sumber daya laut dilakukan dengan mengedepankan kepentingan masyarakat serta memperhatikan dampak,
lingkungan yang dapat terjadi di kemudian hari, mereka juga meminta adanya keterbukaan informasi dan dialog dengan masyarakat agar tidak menimbulkan polemik di tengah warga, hingga berita ini ditulis,belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai sikap warga, yang menolak keberadaan ponton selam diperairan Dusun air putih Desa KM/kemang masam kecamatan mentok kabupaten Bangka Barat,
( Reaksi)








Responses (2)