JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan Rabu sore. IHSG turun 46,21 poin atau 0,75 persen sehingga berada di level 6.146,76. Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual masih mendominasi arah pergerakan pasar saham domestik hingga akhir perdagangan.
Penurunan IHSG berlangsung sejak awal sesi perdagangan. Indeks tidak sempat berbalik ke wilayah positif secara berkelanjutan dan tetap bergerak melemah sepanjang jalannya perdagangan. Kondisi tersebut berlanjut hingga penutupan sesi pertama, ketika IHSG masih bertahan di area negatif. Pada sesi kedua, tekanan pelemahan kembali mewarnai pergerakan indeks sampai akhirnya perdagangan ditutup dengan penurunan.
Pergerakan negatif juga terlihat pada indeks LQ45, yang mencerminkan kinerja 45 saham unggulan di Bursa Efek Indonesia. Indeks tersebut turun 2,44 poin atau 0,40 persen ke posisi 605,72. Dengan demikian, baik IHSG maupun LQ45 sama-sama mengakhiri perdagangan dalam kondisi melemah, meskipun persentase penurunan LQ45 lebih terbatas dibandingkan indeks utama.
Kinerja pasar saham domestik itu berlangsung sejalan dengan pergerakan negatif bursa saham kawasan Asia. Sentimen regional yang kurang mendukung turut menjadi latar bagi pelemahan IHSG sejak pembukaan hingga penutupan. Investor mencermati perkembangan pasar di kawasan ketika indeks-indeks saham Asia bergerak dalam tekanan, sehingga ruang penguatan bagi pasar domestik menjadi terbatas sepanjang hari.
Penutupan IHSG di level 6.146,76 menegaskan bahwa indeks belum mampu keluar dari tekanan yang muncul sejak awal perdagangan. Sampai berakhirnya sesi kedua, arah pergerakan tetap berada di wilayah negatif. Sementara itu, posisi LQ45 pada level 605,72 memperlihatkan bahwa saham-saham unggulan juga mengalami pelemahan, meski penurunannya berada di bawah persentase penurunan IHSG.
Tekanan terhadap pasar saham tidak hanya datang dari faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi perkembangan ekonomi dan geopolitik global. Pergerakan bursa Asia pada perdagangan terkini cenderung melemah, dengan sebagian besar indeks berada di zona merah. Kondisi tersebut mencerminkan sikap investor yang lebih berhati-hati dalam merespons perubahan harga komoditas serta risiko terhadap stabilitas perekonomian dunia.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau Nico, menjelaskan bahwa pelemahan bursa Asia berlangsung seiring kembali naiknya harga minyak. Kenaikan harga tersebut berkaitan dengan berlanjutnya ancaman terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Gangguan atau risiko gangguan pada jalur pasokan dapat meningkatkan perhatian pelaku pasar karena minyak merupakan komponen penting bagi aktivitas industri, transportasi, dan pembentukan biaya produksi.
Pergerakan harga minyak yang meningkat kemudian memunculkan kekhawatiran baru mengenai inflasi. Pelaku pasar mencermati kemungkinan bahwa biaya energi yang lebih tinggi dapat menambah tekanan terhadap harga barang dan jasa. Perhatian terhadap inflasi juga berkaitan dengan arah kebijakan moneter, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga yang dapat memengaruhi keputusan investasi dan valuasi aset. Kekhawatiran tersebut turut membatasi minat terhadap aset berisiko di sejumlah pasar saham Asia.
Di tengah tekanan eksternal itu, investor mancanegara juga menunggu publikasi risalah rapat terbaru Federal Reserve. Selain itu, pasar mencermati pernyataan kebijakan dari para pejabat bank sentral Amerika Serikat. Kedua agenda tersebut menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai pembahasan kebijakan moneter dan pandangan para pejabat terhadap kondisi ekonomi. Sambil menunggu informasi tersebut, investor cenderung menahan diri dan melakukan penyesuaian portofolio secara selektif. Sentimen global yang belum sepenuhnya stabil akhirnya menjadi salah satu faktor yang membayangi kinerja indeks saham, termasuk IHSG.
Cadangan devisa Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS. Angka tersebut sedikit menurun dibandingkan posisi pada bulan sebelumnya yang mencapai 146,5 miliar dolar AS. Meskipun mengalami penurunan, posisi cadangan devisa itu masih berada pada level yang kuat dan menjadi yang tertinggi dalam lima bulan terakhir.
Perubahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa transaksi pemerintah dan kebijakan stabilisasi pasar. Penurunan cadangan devisa terutama berkaitan dengan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa. Pada saat yang sama, pemerintah melakukan pembayaran utang luar negeri yang telah jatuh tempo. Bank Indonesia juga mengambil langkah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah ketika ketidakpastian di pasar keuangan global masih tinggi.
Bank Indonesia menyatakan bahwa posisi cadangan devisa tersebut tetap memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal. Nilainya setara dengan sekitar 5,3 bulan impor. Jika turut memperhitungkan pembayaran utang luar negeri pemerintah, cadangan tersebut setara dengan sekitar 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ukuran itu masih jauh berada di atas standar kecukupan internasional yang umumnya berada di sekitar tiga bulan impor.
Dengan demikian, penurunan tipis pada September tidak mengubah posisi cadangan devisa Indonesia yang tetap kuat. Perkembangan tersebut berlangsung di tengah kebutuhan memenuhi kewajiban pembayaran luar negeri pemerintah dan upaya menjaga stabilitas rupiah. Data cadangan devisa menjadi salah satu indikator domestik yang turut diperhatikan pasar, terutama ketika perhatian investor masih tertuju pada pergerakan bursa Asia, harga minyak, serta kondisi pasar keuangan global.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari itu tercermin dari kinerja seluruh indeks sektoral IDX-IC. Dari sebelas sektor yang dipantau, hanya sektor keuangan yang mampu mencatat penguatan. Sektor tersebut naik tipis sebesar 0,04 persen. Kenaikan ini menjadi satu-satunya penguatan sektoral di tengah tekanan yang melanda sebagian besar kelompok industri di Bursa Efek Indonesia.
Sektor energi menjadi penekan terbesar dengan penurunan 1,48 persen. Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa saham-saham yang tergabung dalam sektor energi mengalami koreksi paling dalam dibandingkan sektor lainnya pada sesi perdagangan tersebut. Setelahnya, sektor barang baku turun 1,28 persen, sedangkan sektor barang konsumen primer melemah 1,21 persen. Ketiga sektor itu menjadi kelompok dengan penurunan terdalam berdasarkan klasifikasi IDX-IC.
Tekanan juga terlihat pada delapan sektor lain yang sama-sama berakhir di zona negatif, sehingga total terdapat sepuluh sektor yang melemah. Rincian pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa pelemahan pasar berlangsung secara luas, meskipun besarnya koreksi berbeda di setiap sektor. Sementara itu, penguatan sektor keuangan sebesar 0,04 persen belum mengubah gambaran umum perdagangan sektoral pada hari tersebut. Data indeks sektoral IDX-IC ini menjadi catatan utama dalam melihat kontribusi masing-masing kelompok industri terhadap pergerakan IHSG, tanpa memberikan dasar tambahan untuk menilai arah indeks pada perdagangan berikutnya.

