JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 October 2026, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Nixon L.P. Napitupulu, berharap proyek rumah susun dengan konsep transit oriented development (TOD) di Stasiun Manggarai, Jakarta, dapat menjadi model yang diterapkan di kota-kota lain. Gagasan tersebut menempatkan hunian urban di sekitar stasiun kereta api sehingga tempat tinggal terhubung lebih dekat dengan layanan transportasi publik.
Penempatan rumah susun di kawasan stasiun dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan yang menghadapi keterbatasan lahan dan tingginya mobilitas. Dengan berada di dekat simpul transportasi, penghuni memiliki akses yang lebih praktis untuk bepergian menggunakan kereta api. Konsep ini juga menghadirkan pendekatan terpadu dalam pengembangan kawasan, yaitu menghubungkan kebutuhan hunian dengan infrastruktur transportasi yang telah tersedia.
Menurut Nixon, proyek di Manggarai diharapkan dapat menunjukkan bahwa pembangunan hunian perkotaan tidak harus berlangsung jauh dari pusat aktivitas dan jaringan transportasi. Rumah susun TOD tersebut diharapkan menjadi contoh solusi perumahan perkotaan yang dapat dipertimbangkan dalam pengembangan kawasan lain, dengan menyesuaikan karakteristik dan kebutuhan setiap kota.
Nixon menyampaikan bahwa model itu berpeluang direplikasi di berbagai stasiun apabila pelaksanaannya berhasil. Artinya, keberhasilan proyek Manggarai dapat menjadi dasar untuk menilai penerapan konsep serupa di lokasi lain, bukan hanya dari sisi pembangunan hunian, tetapi juga dari keterhubungan tempat tinggal dan transportasi publik.
Peluang pengembangan tersebut mencakup Surabaya, Medan, serta kota-kota lainnya. Replikasi tidak berarti menerapkan rancangan yang sama secara seragam, melainkan mengadaptasi konsep hunian terpadu sesuai kondisi stasiun, kebutuhan masyarakat, dan karakter kawasan setempat. Dengan demikian, pengalaman dari Manggarai dapat menjadi rujukan awal bagi pengembangan rumah susun berbasis TOD di berbagai wilayah.
Pembangunan rusun berorientasi transit (TOD) di Manggarai diarahkan untuk menjawab kebutuhan hunian masyarakat perkotaan yang semakin dekat dengan pusat pekerjaan, pendidikan, dan layanan publik. Lokasi yang berdekatan dengan berbagai simpul transportasi umum memungkinkan penghuni mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Dengan demikian, biaya yang biasanya dikeluarkan untuk bahan bakar, parkir, perawatan kendaraan, serta perjalanan harian dapat ditekan secara lebih signifikan.
Rusun TOD Manggarai dirancang agar terhubung dengan jaringan mobilitas yang meliputi kereta LRT, KRL Commuter, halte bus, dan sarana transportasi publik lainnya. Keterhubungan tersebut diharapkan memudahkan penghuni berpindah dari tempat tinggal menuju lokasi kerja, sekolah, pusat layanan kesehatan, maupun kawasan perdagangan. Integrasi antarmoda juga dapat memperluas pilihan perjalanan, sehingga masyarakat tidak harus menggunakan satu jenis transportasi untuk seluruh tujuan.
Bagi penghuni, manfaat utama konsep ini adalah penghematan waktu dan biaya perjalanan sehari-hari. Jarak yang lebih dekat menuju stasiun atau halte dapat mengurangi waktu tempuh, sekaligus membuat perjalanan lebih terencana dan efisien. Akses terhadap transportasi publik yang memadai juga dapat membantu keluarga mengalokasikan pendapatan untuk kebutuhan lain, seperti pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan rumah tangga.
Selain aspek mobilitas, rusun ini diharapkan menyediakan hunian yang lebih layak, aman, dan terintegrasi dengan lingkungan perkotaan. Penataan kawasan yang menggabungkan tempat tinggal dan akses transportasi publik dapat mendukung kualitas hidup, meningkatkan keamanan perjalanan, serta menciptakan lingkungan yang lebih tertata. Konsep tersebut menempatkan hunian bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bagian dari sistem kota yang saling terhubung.
Melalui pendekatan ini, pembangunan Rusun TOD Manggarai diharapkan mendekatkan masyarakat dengan transportasi publik dan pusat kegiatan perkotaan. Model tersebut berpotensi menjadi rujukan bagi kota lain di Indonesia dalam mengembangkan hunian terjangkau yang mendukung mobilitas berkelanjutan. Pada akhirnya, integrasi hunian dan transportasi diharapkan menjadi jawaban atas kebutuhan generasi masa depan Indonesia yang memerlukan tempat tinggal nyaman, akses perjalanan efisien, dan kehidupan perkotaan yang lebih inklusif.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman menyampaikan apresiasi kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero) atas dukungan dan sinerginya dalam penyediaan hunian vertikal di kawasan perkotaan. Kerja sama tersebut dinilai penting karena kebutuhan tempat tinggal terus meningkat, sementara ketersediaan lahan di kota besar semakin terbatas. Dalam kondisi demikian, pembangunan rumah susun yang memanfaatkan lahan secara efisien dapat menjadi alternatif untuk menyediakan hunian layak, terjangkau, dan dekat dengan pusat aktivitas masyarakat.
Kolaborasi ini mencerminkan pembagian peran yang saling melengkapi pemerintah dan badan usaha milik negara. Kementerian PKP berperan sebagai regulator yang menyiapkan kebijakan, aturan, serta kerangka penyelenggaraan perumahan agar pembangunan berjalan sesuai standar dan kepentingan publik. Sementara itu, PT KAI sebagai operator memiliki peran dalam pemanfaatan aset, pengelolaan lahan, dan pelaksanaan pembangunan yang berkaitan dengan kawasan perkeretaapian. Pembagian tanggung jawab tersebut memungkinkan setiap pihak bekerja berdasarkan kewenangan dan keahlian masing-masing, sekaligus memperkuat kepastian dalam pelaksanaan proyek.
Sinergi pemerintah dan BUMN dipandang sebagai salah satu kunci untuk mempercepat penyediaan hunian bagi masyarakat perkotaan. Pemerintah memiliki kapasitas dalam merumuskan regulasi dan memastikan sasaran pembangunan, sedangkan BUMN dapat mendukung melalui aset, pengalaman operasional, serta kemampuan mengembangkan kawasan strategis. Pendekatan ini menjadi semakin relevan dalam proyek Transit Oriented Development (TOD) Manggarai, yang diarahkan untuk membentuk kawasan hunian baru dan terintegrasi dengan jaringan transportasi. Dengan keterhubungan langsung ke layanan kereta api dan moda transportasi lainnya, penghuni diharapkan dapat menjangkau tempat kerja, fasilitas pendidikan, layanan publik, serta pusat kegiatan secara lebih mudah. Integrasi tersebut juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi dan mendorong pola pertumbuhan kota yang lebih efisien.
Rusun TOD Manggarai direncanakan dibangun di kawasan Stasiun Manggarai, tepatnya pada Blok F dan Blok G. Penempatan hunian vertikal di dua blok tersebut menjadi bagian dari pengembangan kawasan yang mengintegrasikan tempat tinggal dengan simpul transportasi. Lahan yang digunakan berstatus hak pakai milik PT KAI. Status dan lokasi lahan tersebut menjadi bagian penting dalam perencanaan proyek hunian berbasis transit di kawasan Manggarai.
Total area pengembangan proyek ini mencapai sekitar 21.939 meter persegi. Luasan tersebut terbagi atas Blok F dengan area sekitar 15.014 meter persegi dan Blok G sekitar 6.925 meter persegi. Pembagian area itu menunjukkan cakupan pengembangan pada masing-masing blok yang akan menjadi lokasi pembangunan rusun. Rincian luas lahan menjadi dasar untuk menggambarkan skala proyek di kawasan Stasiun Manggarai.
Dari sisi akses, lokasi hunian berjarak sekitar 400 meter dari Stasiun Manggarai. Jarak tersebut setara dengan kira-kira empat menit berjalan kaki. Kedekatan ini menempatkan rusun dalam jangkauan langsung dari stasiun, sehingga keterkaitan hunian dan fasilitas transportasi dapat menjadi unsur utama dalam konsep Transit Oriented Development atau TOD. Akses berjalan kaki tersebut juga menjadi karakteristik penting dari lokasi proyek yang dikembangkan di sekitar simpul transportasi.
Selain berada dekat dengan stasiun, kawasan ini didukung oleh fasilitas umum dan fasilitas sosial dalam radius sekitar tiga kilometer. Ketersediaan dukungan kawasan tersebut melengkapi posisi hunian sebagai bagian dari lingkungan perkotaan yang terhubung dengan berbagai fasilitas. Dengan lokasi, luas pengembangan, serta akses yang telah direncanakan, Rusun TOD Manggarai diharapkan menjadi contoh hunian berbasis TOD yang dapat direplikasi di kota lain.

