JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 October 2026, Campus League Season 1 menyiapkan Unigames Grand Champions sebagai kompetisi multi-cabang olahraga yang mempertemukan perguruan tinggi dari berbagai kampus. Ajang ini dijadwalkan berlangsung pada 6–11 Desember 2026 di Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Banten. Kehadirannya menjadi bagian penting dalam rangkaian kompetisi karena mempertemukan semangat persaingan, konsistensi performa, dan dukungan komunitas kampus dalam satu panggung penentuan.
Unigames Grand Champions menempati posisi sebagai puncak perjalanan Campus League Season 1. Pada tahap ini, seluruh hasil perjuangan kampus sepanjang satu musim akan diperhitungkan ke dalam satu klasemen. Perolehan prestasi dari berbagai cabang olahraga menjadi dasar untuk menentukan kampus yang berhak menyandang gelar grand champions. Dengan mekanisme tersebut, gelar juara umum tidak hanya ditentukan oleh hasil pada satu pertandingan, tetapi juga oleh kemampuan kampus menjaga performa secara konsisten sejak awal musim.
Format ini menjadikan Unigames sebagai tahap yang memiliki nilai strategis bagi setiap peserta. Kampus perlu mengoptimalkan hasil di berbagai cabang sekaligus memastikan capaian yang telah diraih pada fase-fase sebelumnya dapat memberikan kontribusi maksimal terhadap klasemen akhir. Persaingan pun diperkirakan berlangsung ketat karena perbedaan hasil antar-kampus dapat menentukan posisi terakhir dalam perebutan gelar.
CEO Campus League Ryan Gozali menyatakan bahwa Unigames menjadi tahap akhir yang menentukan hasil keseluruhan musim. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta pada Selasa. Penegasan ini memperlihatkan bahwa Unigames bukan sekadar agenda penutup, melainkan momen ketika seluruh perjalanan Campus League Season 1 memperoleh hasil akhirnya. Setiap kemenangan, poin, dan pencapaian kampus sepanjang musim akan memiliki arti dalam penentuan grand champions.
Unigames Grand Champions di Karawaci mempertandingkan tujuh cabang olahraga sebagai bagian penting dalam penentuan juara umum Campus League Season 1. Tujuh cabang tersebut terdiri atas sepak bola wanita, biliar, dan lima olahraga bela diri. Kehadiran nomor-nomor ini memperluas persaingan antarmahasiswa sekaligus memberikan ruang bagi perguruan tinggi untuk menunjukkan kemampuan atletnya di berbagai disiplin. Sepak bola wanita dan biliar menjadi dua cabang nonbela diri yang melengkapi rangkaian pertandingan, sedangkan lima cabang lainnya menghadirkan karakter kompetisi yang mengandalkan teknik, ketahanan, kecepatan, serta ketepatan strategi.
Lima cabang olahraga bela diri yang dipertandingkan ialah jujitsu, taekwondo, shorinji kempo, kickboxing, dan wushu. Berdasarkan informasi penyelenggaraan, seluruh cabang bela diri tersebut mendapat dukungan penuh dari federasi nasional masing-masing. Dukungan itu menjadi unsur penting untuk menjaga kualitas pertandingan, mulai dari penerapan peraturan, pengawasan teknis, hingga standar keselamatan atlet. Keterlibatan federasi nasional juga memperkuat legitimasi kompetisi dan membantu memastikan bahwa setiap pertandingan berlangsung secara terarah, adil, serta sesuai dengan ketentuan cabang olahraga terkait. Dengan demikian, Unigames tidak hanya menjadi ajang perebutan poin, tetapi juga wadah pengembangan prestasi atlet mahasiswa.
Rangkaian Unigames melanjutkan kompetisi yang sebelumnya telah mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi melalui tiga cabang olahraga, yaitu basket, bulu tangkis, dan futsal. Ketiga cabang tersebut merupakan bagian yang lebih dahulu bergulir pada musim Campus League, sehingga perlu dibedakan dari tujuh cabang yang dipertandingkan dalam Unigames Grand Champions. Basket, bulu tangkis, dan futsal menjadi fondasi awal kompetisi antarkampus, sementara pertandingan di Karawaci memperluas cakupan cabang sekaligus melengkapi perhitungan menuju gelar juara umum. Perpaduan kedua rangkaian itu membuat Campus League Season 1 memiliki persaingan yang lebih beragam dan kompetitif.
Campus League menggunakan sistem klasemen untuk menentukan juara umum sepanjang satu musim. Setiap medali yang diraih peserta dari seluruh cabang olahraga tidak hanya menjadi catatan prestasi, tetapi juga dikonversi menjadi poin. Dengan mekanisme ini, konsistensi kampus dalam mengumpulkan medali akan berpengaruh langsung terhadap posisi mereka di klasemen akhir. Perolehan medali dari tiga cabang olahraga yang lebih dahulu dipertandingkan menjadi dasar akumulasi poin sebelum rangkaian kompetisi berlanjut ke Unigames.
Nilai setiap medali telah ditetapkan secara berbeda sesuai tingkat pencapaiannya. Medali emas bernilai tujuh poin, medali perak bernilai empat poin, sedangkan medali perunggu bernilai dua poin. Seluruh poin tersebut kemudian dijumlahkan dengan hasil yang diperoleh pada pertandingan berikutnya. Karena Unigames menjadi bagian dari penghitungan satu musim, ajang ini memiliki peran penting dalam menentukan perubahan posisi klasemen. Hasil akhir Unigames bahkan dapat menjadi pembeda bagi kampus-kampus yang memiliki perolehan poin berdekatan.
Penghitungan medali juga memperhatikan karakter nomor pertandingan, khususnya pada cabang olahraga beregu. Ryan Gozali menjelaskan bahwa medali dari nomor tim tidak dihitung sebagai satu medali seperti yang lazim diterapkan dalam sejumlah ajang lain. Jumlah medali tersebut disesuaikan dengan banyaknya pemain yang berada di lapangan. Sebagai contoh, satu medali dari tim basket dihitung lima karena terdapat lima pemain dari satu tim yang bermain di lapangan. Dengan demikian, kontribusi nomor beregu terhadap klasemen merepresentasikan jumlah atlet yang bertanding, bukan sekadar jumlah medali yang tercantum pada hasil pertandingan. Akumulasi dengan metode ini membuat setiap pertandingan Unigames berpotensi memberikan tambahan poin yang signifikan bagi kampus. Oleh sebab itu, Unigames Grand Champions menjadi penentu penting dalam menetapkan kampus yang berhak menyandang gelar juara umum Campus League Season 1.
Sistem penghitungan medali dalam Unigames membuat persaingan antarkampus berlangsung dinamis hingga seluruh rangkaian pertandingan berakhir. Posisi dalam klasemen tidak hanya ditentukan oleh jumlah kemenangan, tetapi juga oleh bobot medali yang dihitung berdasarkan jumlah pemain pada setiap nomor pertandingan. Karena itu, kemenangan pada cabang olahraga beregu dapat memberikan kontribusi besar bagi perolehan sebuah kampus. Satu hasil positif dalam nomor dengan banyak anggota tim berpotensi mengubah jarak perolehan medali secara signifikan dibandingkan kemenangan pada nomor perseorangan.
Mekanisme tersebut membuka peluang terjadinya perubahan posisi secara cepat. Kampus yang sebelumnya berada di bawah dapat naik dalam klasemen setelah meraih hasil baik pada satu atau dua cabang olahraga, terutama jika cabang tersebut memiliki nomor beregu dengan kontribusi medali yang besar. Sebaliknya, kampus yang memimpin belum dapat merasa aman karena pesaingnya masih memiliki kesempatan mengumpulkan perolehan berarti dari pertandingan yang tersisa. Setiap hasil pertandingan menjadi bagian penting dari perhitungan keseluruhan yang menentukan gelar grand champions.
Ryan Gozali menyatakan bahwa persaingan menuju gelar grand champions masih terbuka sampai seluruh rangkaian Unigames selesai. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa klasemen yang terlihat pada satu tahap belum mencerminkan hasil akhir kompetisi. Perubahan dapat berlangsung melalui hasil dari satu atau dua cabang olahraga, khususnya ketika kemenangan diperoleh pada nomor beregu yang memberikan bobot medali lebih besar. Dengan sistem ini, setiap pertandingan memiliki arti bagi perjalanan sebuah kampus, sebab satu kemenangan dapat memengaruhi posisi dan peluang mereka dalam perebutan gelar juara umum.


