Indonesia di Tengah Tekanan Pembangunan dan Perubahan Iklim, Konservasi Biodiversitas Jadi Prioritas

Indonesia di Tengah Tekanan Pembangunan dan Perubahan Iklim, Konservasi Biodiversitas Jadi Prioritas

BOGOR, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 October 2026, Direktur Pusat Regional untuk Biologi Tropis Asia Tenggara (SEAMEO BIOTROP), Prof. Dr. Edi Santoso, menyatakan bahwa ekspansi pertanian dan berbagai bentuk pembangunan telah menjadikan konservasi biodiversitas sebagai salah satu prioritas regional. Pernyataan itu disampaikan Edi di Bogor pada Selasa, ketika ia menyoroti meningkatnya tekanan terhadap ekosistem tropis di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Menurut Edi, kebutuhan untuk memperluas lahan produksi, membangun infrastruktur, serta memenuhi pertumbuhan penduduk berlangsung bersamaan dengan menyusutnya ruang hidup berbagai spesies. Apabila tidak dikelola secara hati-hati, perubahan tersebut dapat mengurangi kualitas habitat, memutus konektivitas kawasan alami, dan mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati. Kondisi ini menjadi perhatian penting bagi Indonesia karena negara tersebut memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar, baik di daratan maupun perairan.

Pemerintah dan masyarakat kini menghadapi tekanan yang semakin kompleks akibat perubahan iklim, perubahan penggunaan lahan, pemanfaatan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan, serta polusi. Keempat faktor tersebut saling memperkuat dan dapat meningkatkan kerentanan hutan, pesisir, laut, serta ekosistem lainnya. Perubahan iklim, misalnya, memengaruhi pola cuaca dan ketersediaan air, sementara konversi lahan untuk pertanian dan pembangunan dapat mempersempit habitat alami.

Dalam situasi tersebut, konservasi tidak dapat dipandang hanya sebagai upaya melindungi kawasan tertentu. Perlindungan biodiversitas perlu menjadi bagian dari perencanaan pembangunan, tata kelola pertanian, dan pengelolaan sumber daya. Pendekatan yang menggabungkan kebutuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan diperlukan agar manfaat alam tetap tersedia bagi masyarakat saat ini dan generasi mendatang. Tantangan Indonesia juga memiliki dimensi regional, mengingat ekosistem dan pergerakan spesies tidak mengikuti batas administratif antarnegara.

Asia merupakan salah satu kawasan paling kaya secara biologis di dunia. Kawasan ini mencakup sekitar 30 persen wilayah dunia, tetapi memiliki hampir 20 persen biodiversitas global. Kekayaan tersebut tercermin dalam keragaman ekosistem, mulai dari hutan hujan tropis, lahan basah, mangrove, padang rumput, hingga wilayah pesisir dan laut. Perbedaan iklim, bentang alam, serta sejarah evolusi di Asia membentuk habitat bagi berbagai tumbuhan, satwa, dan mikroorganisme, termasuk banyak spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain.

Posisi penting Asia juga terlihat dari keberadaan sejumlah hotspot biodiversitas global. Kawasan seperti Sundaland, Wallacea, Indo-Burma, Himalaya Timur, serta Filipina menyimpan tingkat keanekaragaman dan endemisme yang sangat tinggi. Lebih dari 17 negara megabiodiversitas berada di kawasan Asia, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Negara-negara tersebut memiliki hutan, pulau, sungai, terumbu karang, dan wilayah laut yang menjadi tempat hidup bagi jutaan spesies. Indonesia, khususnya, dikenal memiliki kekayaan hayati darat dan laut yang luar biasa, dengan banyak jenis flora dan fauna yang bersifat endemik.

Namun, kekayaan biologis itu hadir bersamaan dengan tanggung jawab besar. Pertumbuhan penduduk, perluasan kawasan perkotaan, pembangunan infrastruktur, perubahan penggunaan lahan, eksploitasi sumber daya, pencemaran, dan perubahan iklim terus meningkatkan tekanan terhadap habitat alami. Karena itu, biodiversitas tidak cukup hanya dipandang sebagai aset ekonomi atau sumber bahan baku pembangunan. Keanekaragaman hayati perlu dikelola agar tetap menyediakan pangan, air, obat-obatan, perlindungan pesisir, penyerapan karbon, serta mata pencaharian bagi masyarakat. Upaya konservasi harus berjalan bersama pembangunan yang bertanggung jawab, sehingga manfaat alam dapat dirasakan secara adil saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya.

Menurut Edi, tantangan pengelolaan biodiversitas tidak dapat dihadapi dengan satu pendekatan atau oleh satu pihak saja. Tekanan pembangunan dan perubahan iklim menuntut pemahaman yang lebih kuat mengenai kondisi, potensi, serta kerentanan sumber daya hayati. Karena itu, ilmu pengetahuan menjadi landasan penting untuk memastikan setiap langkah pengelolaan didukung oleh pengetahuan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. Pemahaman tersebut diperlukan agar pengembangan biodiversitas tetap sejalan dengan upaya menjaga keberlangsungannya.

Peran pendidikan juga tidak kalah penting. Pendidikan dapat membangun pemahaman mengenai nilai biodiversitas sekaligus memperkuat kesadaran terhadap tanggung jawab dalam menjaganya. Pengetahuan yang berkembang perlu diterjemahkan melalui inovasi, sehingga tantangan yang dihadapi dapat dijawab dengan cara yang relevan dan berkelanjutan. Bagi Edi, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan inovasi merupakan unsur yang saling melengkapi dalam membentuk kapasitas untuk mengelola kekayaan hayati di tengah perubahan lingkungan dan kebutuhan pembangunan.

Selain itu, diperlukan intervensi kebijakan yang mampu memberikan arah bagi pengelolaan biodiversitas. Kebijakan perlu memperhatikan keseimbangan kebutuhan pengembangan dan keberlangsungan sumber daya hayati. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, pengetahuan dan inovasi dapat memiliki pijakan yang lebih kuat dalam praktik pengelolaan. Pendekatan ini menegaskan bahwa konservasi bukan sekadar upaya mempertahankan keadaan, melainkan bagian dari proses memastikan sumber daya hayati tetap dapat berkembang dan memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Edi juga memandang kolaborasi regional sebagai bagian penting dalam menghadapi tekanan terhadap sumber daya hayati tropis. Tantangan biodiversitas tidak berhenti pada batas wilayah, sehingga kerja sama yang kuat diperlukan untuk memperkuat respons bersama. Kolaborasi regional dapat mempertemukan pengetahuan, pengalaman, dan kepentingan yang beragam dalam tujuan yang sama. Melalui keterhubungan ilmu pengetahuan, pendidikan, inovasi, intervensi kebijakan, dan kerja sama regional, pengembangan biodiversitas dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan saat ini tanpa mengabaikan keberlangsungannya pada masa mendatang.

SEAMEO BIOTROP memiliki peran strategis dalam menjembatani kebutuhan ilmu pengetahuan, pendidikan, inovasi, kebijakan, dan kerja sama regional untuk menghadapi tekanan pembangunan serta perubahan iklim. Peran tersebut tercermin melalui penyelenggaraan The 5th International Conference on Tropical Biology di IPB International Convention Center (IPB ICC) pada Senin, 5 Oktober. Forum ini mempertemukan peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, praktisi, dan pemangku kepentingan untuk membahas tantangan pengelolaan biologi tropis dan biodiversitas secara berkelanjutan.

Sebagai regional centre di bawah Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO), SEAMEO BIOTROP didirikan pada 1968 dengan mandat berkontribusi terhadap pengembangan dan pengelolaan biologi tropis secara berkelanjutan di Asia Tenggara. Mandat tersebut menjadi landasan bagi lembaga untuk memperkuat hubungan hasil penelitian dan kebutuhan nyata di lapangan, termasuk dalam konservasi keanekaragaman hayati, pemanfaatan sumber daya hayati, serta pengembangan solusi yang sesuai dengan kondisi sosial dan ekologis kawasan.

Fokus SEAMEO BIOTROP mencakup penelitian, peningkatan kapasitas dan pelatihan, serta penyebarluasan pengetahuan dan informasi biologi tropis. Melalui kegiatan ilmiah dan program pengembangan kompetensi, lembaga ini mendukung peningkatan kemampuan sumber daya manusia agar mampu menghasilkan penelitian yang relevan, menerapkan inovasi, dan merumuskan kebijakan berbasis bukti. Diseminasi pengetahuan juga membantu memperluas akses terhadap informasi bagi institusi pendidikan, pemerintah, organisasi masyarakat, dan mitra pembangunan.

Konferensi internasional tersebut menjadi ruang untuk memperkuat dialog lintas negara dan mendorong kolaborasi ilmu pengetahuan, pendidikan, kebijakan, dan praktik pengelolaan lingkungan. SEAMEO BIOTROP berupaya menghasilkan serta berbagi pengetahuan, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, dan memfasilitasi kerja sama regional. Langkah ini penting untuk mendukung pengelolaan sumber daya hayati tropis dan biodiversitas secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan Asia Tenggara dalam menghadapi perubahan lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *