Waduk Bango di Jakarta Selatan Masih Dibangun, Progres 30 Persen dan Anggaran Rp63,87 Miliar

Waduk Bango di Jakarta Selatan Masih Dibangun, Progres 30 Persen dan Anggaran Rp63,87 Miliar

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Sejumlah permukiman di sekitar Jalan Bango 4, Jakarta Selatan, dilaporkan mengalami genangan setelah hujan turun pada Rabu (30/9). Situasi tersebut kemudian diikuti beredarnya informasi yang menyebut Waduk Bango jebol. Kabar itu menarik perhatian warga karena waduk berada tidak jauh dari kawasan permukiman dan menjadi salah satu infrastruktur pengelolaan air di wilayah tersebut.

Waduk yang dikenal warga sebagai Waduk Bango tersebut merupakan Embung Pondok Labu, yang berlokasi di wilayah Cilandak, Jakarta Selatan. Keberadaan embung ini berkaitan dengan upaya pemerintah daerah menata dan mengelola aliran air di kawasan sekitarnya. Namun, informasi mengenai kondisi bangunan dan status pengerjaannya perlu merujuk pada keterangan instansi yang berwenang, bukan hanya kabar yang beredar di tengah masyarakat.

Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Selatan menyatakan bahwa Waduk Bango atau Embung Pondok Labu masih berada dalam tahap pembangunan. Dengan demikian, fasilitas tersebut belum dapat disebut sebagai waduk yang telah selesai dan beroperasi sepenuhnya. Pernyataan ini sekaligus meluruskan informasi yang muncul setelah genangan terlihat di sejumlah permukiman Jalan Bango 4.

Genangan dan kabar mengenai waduk muncul pada waktu yang berdekatan, tetapi penyebab genangan tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan urutan kejadian tersebut. Warga menyampaikan kondisi yang mereka lihat di lingkungan permukiman, sedangkan penjelasan mengenai status embung berasal dari pihak Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Selatan. Karena itu, informasi mengenai Waduk Bango perlu dipahami secara hati-hati, terutama dengan membedakan laporan genangan di permukiman dari fakta bahwa proyek Embung Pondok Labu masih dalam proses pembangunan.

Pembangunan Embung Pondok Labu, yang menjadi bagian dari proyek Waduk Bango di Jakarta Selatan, memiliki nilai anggaran sebesar Rp63.874.487.924,681. Angka tersebut disampaikan oleh Puryanto Palebangan, Ketua Subkelompok Drainase Bidang Pengendalian Banjir dan Drainase Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta. Nilai pembangunan itu belum termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN), sehingga total kebutuhan anggaran setelah pajak akan lebih besar daripada nilai dasar yang disebutkan tersebut.

Keterangan mengenai anggaran ini memberikan gambaran tentang besarnya pembiayaan yang disiapkan untuk membangun Embung Pondok Labu. Nilai Rp63.874.487.924,681 merupakan angka sebagaimana disampaikan sumber dan tidak dibulatkan menjadi angka lain. Dengan demikian, informasi tersebut mencerminkan nilai pembangunan yang tercantum dalam keterangan resmi, sementara rincian tambahan mengenai komponen pekerjaan, durasi kontrak, atau pembagian biaya tidak disebutkan.

Proyek Waduk Bango mencakup lahan sekitar 13.266 meter persegi. Luasan tersebut menjadi cakupan area pembangunan embung dan merupakan bagian penting dari penjelasan mengenai skala proyek di Pondok Labu. Penyebutan luas lahan ini tidak berarti seluruhnya dijelaskan sebagai area bangunan tertentu, karena sumber hanya menyampaikan bahwa proyek mencakup lahan sekitar 13.266 meter persegi.

Dengan anggaran dasar sebesar Rp63.874.487.924,681 yang masih ditambah PPN serta cakupan lahan sekitar 13.266 meter persegi, pembangunan Embung Pondok Labu menunjukkan skala pekerjaan yang cukup besar dalam proyek Waduk Bango. Kedua angka tersebut menjadi informasi utama mengenai nilai pembiayaan dan luas area proyek, berdasarkan keterangan Puryanto Palebangan. Tidak ada rincian nilai kontrak lain yang dapat ditambahkan di luar informasi tersebut.

Pembangunan Embung Pondok Labu, yang juga dikenal sebagai Waduk Bango, masih berada dalam tahap pengerjaan. Berdasarkan keterangan Puryanto, progres pekerjaan tersebut baru mencapai 30,264 persen. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar rangkaian pembangunan dan penataan belum selesai, sehingga kondisi waduk belum dapat dianggap sebagai hasil akhir proyek. Pemerintah menargetkan seluruh pekerjaan rampung pada Desember 2026. Dengan jadwal tersebut, proses pembangunan masih akan berlangsung dalam waktu cukup panjang, termasuk penyelesaian pekerjaan fisik, penataan kawasan, serta tahapan lain yang berkaitan dengan fungsi embung sebagai bagian dari infrastruktur pengendalian air di wilayah Jakarta Selatan.

Keterangan mengenai progres itu diperkuat oleh Junjung Paulus, Kepala Seksi Pemeliharaan Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Selatan. Ia membenarkan bahwa Waduk Bango masih menjalani proses revitalisasi atau pembangunan. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa aktivitas di lokasi bukan sekadar pemeliharaan rutin, melainkan bagian dari pekerjaan proyek yang masih berjalan. Karena itu, berbagai kondisi yang terlihat di sekitar waduk perlu dipahami dengan mempertimbangkan status proyek yang belum selesai dan masih mengalami penataan.

Status pembangunan ini menjadi konteks penting ketika informasi mengenai dugaan waduk jebol beredar. Progres yang baru mencapai 30,264 persen berarti struktur, area penampungan, atau fasilitas pendukung yang berkaitan dengan proyek masih dapat mengalami perubahan selama pekerjaan berlangsung. Oleh sebab itu, informasi mengenai kondisi Waduk Bango perlu merujuk pada keterangan resmi dari pihak terkait, bukan hanya pengamatan sementara atau kabar yang beredar di masyarakat. Sampai target penyelesaian pada Desember 2026 tercapai, Waduk Bango tetap berstatus sebagai proyek revitalisasi atau pembangunan yang belum tuntas.

Oji, warga RT 9, mengatakan genangan masih dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah permukiman di sekitar lokasi pembangunan Waduk Bango, Jakarta Selatan. Menurut keterangannya, sedikitnya empat wilayah terdampak, yakni RT 9, RT 10, RT 11, dan RT 14. Genangan tersebut disebut muncul ketika air meluap dan memasuki area permukiman warga, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari serta akses menuju rumah.

Oji menuturkan, ketinggian air diperkirakan mencapai sekitar 60 sentimeter atau setara lutut orang dewasa. Kondisi itu membuat warga harus berhati-hati saat melintas, terutama pada bagian jalan yang lebih rendah. Ia juga menyebut genangan dapat bertahan selama beberapa waktu sebelum berangsur surut, meskipun durasi dan luas dampaknya bergantung pada kondisi hujan serta aliran air di sekitar proyek.

Warga, lanjut Oji, menduga genangan tersebut berkaitan dengan masuknya air kali melalui sodetan yang berada di bawah jembatan. Selain itu, warga menduga sistem pompa belum bekerja secara maksimal selama proses pembangunan berlangsung. Dugaan itu disampaikan berdasarkan pengamatan warga di lapangan, sehingga penyebab pasti genangan masih memerlukan penjelasan teknis dari pihak pengelola proyek dan instansi terkait.

Oji berharap pengelola pembangunan memberikan penjelasan mengenai prosedur operasional yang diterapkan selama pekerjaan berlangsung, termasuk langkah pengendalian aliran air dan penanganan ketika genangan muncul. Menurutnya, informasi yang jelas diperlukan agar warga dapat memahami kondisi di lapangan serta mengetahui saluran pengaduan apabila terjadi dampak lanjutan. Ia berharap pembangunan tetap berjalan sesuai rencana, tetapi pelaksanaannya tidak menimbulkan gangguan bagi permukiman di sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *