JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 October 2026, Veda Ega Pratama menempatkan posisi start yang lebih menguntungkan sebagai salah satu perhatian utama menjelang balapan Moto3 Mandalika 2026. Pembalap Indonesia tersebut menilai letak motor di grid akan berpengaruh besar terhadap peluangnya memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan seri-seri sebelumnya. Bagi Veda, posisi awal yang kompetitif dapat membantu membangun jalannya balapan secara lebih terencana, terutama ketika persaingan berlangsung ketat sejak lampu start padam.
Target itu tidak semata-mata berkaitan dengan keinginan untuk berada lebih dekat ke barisan depan. Veda juga berupaya menghindari kerugian yang dapat muncul pada lap-lap pembuka, ketika pembalap harus menghadapi kepadatan rombongan dan risiko kehilangan waktu akibat posisi yang kurang ideal. Dengan berada di grid yang lebih baik, ia berharap dapat menjaga ritme sejak awal, mengurangi pekerjaan mengejar lawan, serta memanfaatkan potensi motor dan kecepatannya secara lebih efektif sepanjang balapan.
Keinginan tersebut muncul setelah Veda mengalami sejumlah kesulitan dalam beberapa seri sebelumnya, termasuk di Motegi, Austria, dan Misano. Ia menyatakan bahwa posisi grid yang menguntungkan dibutuhkan untuk membantunya menjalani balapan dengan peluang yang lebih besar sejak awal. Pengalaman dari tiga seri itu menjadi bahan evaluasi penting, karena setiap keterlambatan pada fase pembuka dapat memengaruhi strategi dan hasil akhir. Mandalika kemudian menjadi kesempatan bagi Veda untuk memperbaiki proses sejak sesi kualifikasi, bukan hanya mengandalkan performa ketika balapan telah berlangsung. Fokusnya adalah mendapatkan posisi start yang mampu mengurangi hambatan awal dan memberi ruang lebih besar untuk bersaing secara konsisten hingga bendera finis. Dengan demikian, ambisi mengamankan grid depan menjadi bagian dari persiapan menyeluruh, bukan sasaran yang berdiri sendiri. Veda tetap perlu menerjemahkan modal tersebut melalui start yang baik, pengelolaan ban, dan pengambilan keputusan yang tepat selama balapan.
Perhatian Veda Ega Pratama terhadap posisi start tidak muncul tanpa alasan. Dalam tiga seri sebelumnya, pembalap muda Indonesia itu menghadapi situasi yang membuatnya harus memulai balapan dari grid yang kurang menguntungkan. Posisi tersebut menempatkannya di belakang sejumlah pembalap lain sejak lap pertama, sehingga pekerjaan untuk membangun ritme balapan menjadi lebih berat. Alih-alih langsung berkonsentrasi menjaga kecepatan dan mengatur strategi, Veda perlu terlebih dahulu mencari celah untuk memperbaiki posisi.
Memulai lomba dari barisan belakang atau bagian tengah grid berarti setiap lap awal memiliki tantangan tersendiri. Kepadatan pembalap dapat membatasi ruang gerak, sementara perbedaan kecepatan antarpembalap membuat peluang menyalip tidak selalu terbuka. Veda pun harus bekerja lebih keras untuk mengejar ketertinggalan yang terbentuk sejak fase awal. Waktu yang terbuang ketika berupaya melewati lawan dapat memengaruhi ritme keseluruhan, terutama dalam balapan Moto3 yang berlangsung ketat dan kerap ditentukan oleh selisih waktu yang tipis.
Karena itu, posisi start menjadi salah satu aspek penting yang ingin diperbaiki Veda menjelang Moto3 Mandalika 2026. Ia perlu ekstra mendorong motornya pada awal balapan untuk mendapatkan posisi yang lebih baik, meskipun situasinya cukup terbatas akibat lalu lintas pembalap dan ruang menyalip yang tidak selalu ideal. Dorongan tersebut tidak sekadar berkaitan dengan keberanian mengambil risiko, tetapi juga kemampuan membaca kondisi lomba, menjaga kontrol motor, serta memanfaatkan kesempatan dalam beberapa tikungan pertama. Pengalaman dari tiga seri sebelumnya menunjukkan bahwa memulai dari grid depan dapat membantu Veda mengurangi pekerjaan yang harus dilakukan sepanjang balapan. Dengan posisi awal yang lebih baik, fokusnya dapat diarahkan pada menjaga konsistensi, mengatur penggunaan ban, dan mempertahankan persaingan tanpa harus terus-menerus mengejar rombongan di depan.
Veda Ega Pratama menyiapkan rangkaian balapan Moto3 Mandalika 2026 dengan perhatian utama pada sesi latihan yang berlangsung pada Jumat. Baginya, latihan menjadi tahap awal untuk memahami kondisi yang dihadapi sekaligus menemukan setelan motor yang paling sesuai. Persiapan tersebut diharapkan dapat membantu pembalap Indonesia itu membangun dasar penampilan yang kuat sebelum memasuki sesi-sesi penentu. Veda ingin memanfaatkan setiap kesempatan di lintasan agar proses penyesuaian berlangsung efektif dan arah kerja tim menjadi lebih jelas.
Dalam latihan, Veda akan berupaya mendapatkan konfigurasi terbaik untuk motornya. Setelan yang sesuai dinilai penting karena dapat mendukung konsistensi dan memberikan rasa percaya diri ketika melaju di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika. Ia berharap pencarian tersebut tidak berlangsung terlalu lama, sehingga hasil latihan dapat menjadi acuan yang memadai untuk persiapan berikutnya. Setelah memperoleh setting yang dirasakan paling tepat, perhatian Veda akan beralih pada upaya menjaga performa dan memanfaatkannya secara maksimal dalam rangkaian sesi selanjutnya.
Tahap berikutnya adalah kualifikasi, yang menjadi kesempatan bagi Veda untuk membukukan waktu tercepat. Dengan membawa hasil setelan terbaik dari latihan, ia akan berusaha memaksimalkan sesi tersebut untuk menempatkan diri di posisi start yang lebih ideal. Catatan waktu yang kompetitif dapat membuka peluang untuk mengawali balapan dari grid depan, sehingga persiapan sejak Jumat memiliki peran penting dalam targetnya. Karena itu, Veda menempatkan pencarian setting terbaik dan usaha mencatat waktu tercepat sebagai dua bagian yang saling berkaitan dalam rencana menghadapi balapan Mandalika.
Veda Ega Pratama menilai dirinya telah memiliki modal yang cukup baik dalam menghadapi sesi time attack. Kemampuan memburu satu putaran tercepat menjadi salah satu aspek yang mulai menunjukkan perkembangan. Menurutnya, kecepatan untuk mencatat waktu kompetitif sudah tersedia, terutama ketika ia mampu menemukan kombinasi yang tepat pemilihan jalur, pengereman, dan akselerasi.
Namun, pembalap Indonesia itu menyadari bahwa performa dalam perlombaan masih membutuhkan perhatian lebih besar. Pace balap, yakni kemampuan mempertahankan kecepatan secara konsisten sepanjang lomba, dinilainya belum berada pada tingkat yang diharapkan. Kecepatan satu putaran belum selalu dapat diterjemahkan menjadi ritme yang stabil ketika harus menghadapi banyak lap, perubahan kondisi ban, serta persaingan ketat dengan pembalap lain.
Evaluasi tersebut juga mencakup sejumlah kesalahan yang masih terjadi saat time attack dalam beberapa seri terakhir. Veda mengakui bahwa kesalahan-kesalahan kecil pada momen penting dapat memengaruhi posisi start dan membuatnya kehilangan peluang untuk berada di barisan depan. Karena itu, peningkatan konsistensi serta kemampuan mengeksekusi putaran cepat tanpa kesalahan menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan.
Balapan Moto3 Mandalika 2026 diharapkan menjadi kesempatan bagi Veda untuk mengurangi kekurangan tersebut. Dukungan publik di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika dapat menjadi energi tambahan, tetapi ia tetap perlu menjaga fokus dan menerapkan hasil evaluasi secara tepat selama akhir pekan. Targetnya adalah memaksimalkan setiap sesi, memperbaiki ritme perlombaan, dan mendapatkan hasil terbaik di hadapan pendukungnya sendiri.
Ketika ditanya apakah start dari posisi depan dapat meningkatkan optimismenya, Veda menjawab bahwa hal itu mungkin membantu. Ia juga menyatakan keyakinannya untuk menghadapi balapan tersebut.

