Uji Coba MBG Prasmanan di Yogyakarta Catat Sisa Makanan 3,3 Kilogram

Uji Coba MBG Prasmanan di Yogyakarta Catat Sisa Makanan 3,3 Kilogram

YOGYAKARTA, DI YOGYAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 October 2026, Badan Gizi Nasional (BGN) menguji metode prasmanan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di dua sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Uji coba tersebut dimulai pada Senin, 5 Oktober 2026, dengan melibatkan SDN Soprayan dan SD Muhammadiyah Bantar sebagai lokasi pilot project. Pelaksanaan metode ini menjadi bagian dari pengujian layanan MBG dengan pola penyajian makanan secara prasmanan.

Sebanyak 106 siswa tercatat menjadi penerima manfaat dalam uji coba tersebut. Para siswa di dua sekolah itu mengikuti pelaksanaan MBG dengan metode yang sedang diuji oleh BGN. Melalui pilot project ini, layanan makan bergizi gratis diselenggarakan menggunakan pola prasmanan, sehingga kegiatan uji coba dapat mencatat pelaksanaan layanan sekaligus kondisi makanan yang tersisa setelah kegiatan berlangsung.

Dalam pelaksanaan uji coba di kedua sekolah tersebut, ditemukan sisa makanan sebanyak 3,3 kilogram. Catatan mengenai sisa makanan itu menjadi salah satu hasil yang muncul dari pengujian metode prasmanan MBG di Yogyakarta. Dengan demikian, uji coba yang dimulai pada 5 Oktober 2026 itu mencakup penerapan layanan di dua sekolah, penerima manfaat sebanyak 106 siswa, serta pencatatan sisa makanan dari pelaksanaan program. BGN menguji metode ini melalui pilot project di SDN Soprayan dan SD Muhammadiyah Bantar, dengan temuan sisa makanan sebesar 3,3 kilogram.

Uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan metode prasmanan di Yogyakarta dilaksanakan sebagai pilot project untuk menguji dan mengevaluasi efektivitas model layanan tersebut secara langsung di lapangan. Melalui pelaksanaan terbatas ini, Badan Gizi Nasional (BGN) dapat melihat bagaimana mekanisme prasmanan diterapkan dalam situasi nyata, mulai dari persiapan makanan hingga proses penerimaan hidangan oleh peserta didik sebagai penerima manfaat.

Koordinator Regional BGN Daerah Istimewa Yogyakarta, Wirandita Gagat Widyatmoko, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pengujian dan evaluasi model layanan MBG. Pernyataan itu menunjukkan bahwa uji coba tidak semata-mata ditujukan untuk menjalankan pola pembagian makanan yang berbeda, tetapi juga untuk memperoleh gambaran mengenai kelebihan, kendala, dan kebutuhan penyesuaian sebelum model serupa dipertimbangkan dalam penerapan yang lebih luas.

Aspek yang dievaluasi mencakup alur pelayanan, termasuk pengaturan antrean, penyajian makanan, serta kecepatan dan ketertiban distribusi. Penilaian juga meliputi keamanan pangan dan penerapan higiene sepanjang proses pengolahan, penyimpanan, hingga makanan dikonsumsi. Dengan demikian, pelaksanaan prasmanan dapat ditinjau dari sisi operasional sekaligus kesehatan.

Selain itu, BGN memperhatikan kenyamanan penerima manfaat selama mengambil dan menyantap makanan. Tingkat kepuasan mereka menjadi indikator penting untuk menilai apakah model layanan telah memenuhi kebutuhan dan memberikan pengalaman yang layak. Pengendalian sisa makanan turut menjadi bagian dari evaluasi, karena jumlah makanan yang tidak dikonsumsi dapat mencerminkan kesesuaian porsi, pilihan menu, serta efektivitas pengelolaan pangan. Hasil pengamatan dari berbagai aspek tersebut diharapkan menjadi dasar perbaikan model layanan MBG agar lebih aman, efisien, nyaman, dan responsif terhadap kebutuhan penerima manfaat.

Aspek keamanan pangan dan higiene menjadi salah satu bagian penting dalam uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di dua sekolah di Yogyakarta. Berdasarkan hasil uji organoleptik, yaitu penilaian terhadap warna, aroma, rasa, tekstur, dan kondisi makanan secara inderawi, pelaksanaan penyajian di kedua sekolah dinyatakan layak. Hasil tersebut menunjukkan bahwa makanan yang disediakan dapat diterima dari sisi mutu sensoris pada saat evaluasi berlangsung.

Penilaian juga mencakup kepatuhan siswa dalam menggunakan alat pelindung diri (APD) ketika mengambil makanan. Tingkat kepatuhan tercatat mencapai 99 persen. Angka ini menunjukkan bahwa hampir seluruh siswa mengikuti ketentuan kebersihan yang diterapkan selama proses prasmanan, termasuk penggunaan perlengkapan pelindung sesuai arahan. Kepatuhan tersebut menjadi unsur pendukung dalam menjaga kebersihan, mengurangi potensi kontaminasi, dan membangun kebiasaan higienis di lingkungan sekolah.

Respons penerima manfaat terhadap pelaksanaan uji coba tercatat positif. Tingkat kepuasan siswa dan guru di kedua sekolah mencapai skor 5 dari 5. Penilaian itu mencerminkan penerimaan yang sangat baik terhadap pengalaman makan, mekanisme pelayanan, serta pelaksanaan kegiatan secara umum. Bagi siswa, sistem prasmanan memberikan pengalaman yang berbeda karena mereka dapat mengambil makanan melalui alur yang telah disiapkan. Sementara itu, guru dapat mengamati pelaksanaan layanan sekaligus mendukung keteraturan dan kepatuhan siswa.

Meski demikian, temuan mengenai keamanan pangan, higiene, dan kepuasan tersebut perlu dipahami sebagai hasil evaluasi awal dalam rangkaian uji coba. Nilai positif yang diperoleh belum menjadi kesimpulan akhir mengenai kinerja keseluruhan program MBG. Evaluasi lanjutan tetap diperlukan untuk menilai konsistensi mutu makanan, penerapan prosedur kebersihan, perilaku penerima manfaat, serta efektivitas sistem prasmanan dalam kondisi dan periode yang lebih beragam. Dengan pemantauan berkelanjutan, hasil awal ini dapat menjadi dasar untuk memperbaiki pelaksanaan sebelum program diterapkan secara lebih luas.

Respons penerima manfaat terhadap uji coba layanan makan bergizi gratis dengan metode prasmanan di Yogyakarta tercatat positif. Meskipun demikian, pelaksanaan di dua sekolah masih menghasilkan sisa makanan atau food waste sebanyak 3,3 kilogram. Temuan ini menjadi bagian penting dalam penilaian karena menunjukkan bahwa penerimaan terhadap konsep layanan belum selalu berbanding lurus dengan tingkat makanan yang habis dikonsumsi.

Berdasarkan pencatatan di lapangan, sisa makanan tersebut terbagi di dua lokasi. SDN Soprayan menghasilkan sisa sebanyak 1,6 kilogram, sedangkan SD Muhammadiyah Bantar mencatat 1,7 kilogram. Data itu akan digunakan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk membaca pola konsumsi penerima manfaat secara lebih terukur. Melalui informasi mengenai jenis dan jumlah makanan yang tersisa, BGN dapat menilai apakah menu yang disediakan telah sesuai dengan selera, kebutuhan, serta preferensi penerima manfaat di masing-masing sekolah.

Analisis terhadap sisa makanan juga dapat membantu mengidentifikasi menu yang kurang diminati, porsi yang perlu disesuaikan, atau cara penyajian yang masih dapat diperbaiki. Pendekatan ini diharapkan membuat evaluasi tidak hanya berfokus pada jumlah makanan yang dibagikan, tetapi juga pada tingkat konsumsi dan potensi pemborosan selama layanan berlangsung.

Uji coba dijadwalkan berlangsung hingga 16 Oktober 2026. Seluruh hasil pengamatan akan digunakan untuk menyempurnakan model layanan agar lebih sesuai dengan kondisi penerima manfaat dan lebih efisien dalam pengelolaannya. Evaluasi lanjutan mencakup aspek pelayanan, keamanan, kualitas makanan, kenyamanan penerima manfaat, serta efisiensi pengelolaan makanan. Dengan cakupan tersebut, BGN dapat memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kelebihan dan hal-hal yang masih perlu diperbaiki dalam penerapan metode prasmanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *