BANDUNG, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 October 2026, Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin menetapkan target nasional untuk menyerap dan mengirim 40.000 tenaga kerja terampil sepanjang 2026. Sasaran tersebut dijalankan melalui program percepatan SMK Go Global, yang diarahkan untuk memperluas kesiapan lulusan sekolah menengah kejuruan agar dapat mengisi peluang kerja di luar negeri. Program ini menjadi salah satu upaya untuk memperkuat penempatan pekerja migran melalui jalur keterampilan yang lebih terarah dan sesuai kebutuhan.
Jawa Barat memperoleh alokasi sekitar 7.000 peserta dalam target nasional tersebut. Jumlah itu menjadi bagian penting dari pelaksanaan SMK Go Global di tingkat daerah, sekaligus mencerminkan peran Jawa Barat dalam mendukung pencapaian sasaran pengiriman tenaga kerja terampil secara nasional. Peserta yang masuk dalam alokasi tersebut ditargetkan dapat menyelesaikan pencapaiannya pada Desember 2026.
Penetapan alokasi dan tenggat waktu itu memberikan kerangka pelaksanaan yang jelas bagi pemerintah serta pihak pendidikan dan pelatihan di Jawa Barat. Dengan demikian, proses penyerapan dan pengiriman peserta dapat dipantau berdasarkan target yang telah ditetapkan hingga akhir tahun. Pelaksanaan program juga menempatkan penguatan keterampilan sebagai unsur penting dalam menyiapkan calon pekerja migran yang mampu bersaing di pasar kerja global.
Keterangan mengenai target tersebut disampaikan dalam konteks kegiatan di Bandung, termasuk peresmian Migrant Center dan peninjauan program di Universitas Teknologi Bandung. Kehadiran fasilitas dan kegiatan peninjauan itu menjadi latar bagi pembahasan mengenai percepatan penyiapan pekerja migran terampil melalui SMK Go Global. Dari sasaran 2026 tersebut, pemerintah memproyeksikan target nasional pada tahun berikutnya akan lebih besar, sehingga pelaksanaan program pada tahun ini menjadi pijakan bagi perluasan pengiriman tenaga kerja terampil pada periode selanjutnya.
SMK Go Global ditempatkan sebagai salah satu program prioritas nasional yang merupakan direktif Presiden Prabowo Subianto. Program ini dirancang untuk memperkuat ekosistem pekerja migran dari sisi hulu, sehingga persiapan tidak hanya dilakukan ketika calon pekerja akan berangkat, tetapi dimulai sejak tahap pembentukan kompetensi. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan tenaga kerja Indonesia yang terampil, siap ditempatkan, serta memiliki daya saing di pasar kerja internasional.
Pembekalan calon pekerja dilakukan melalui pelatihan keterampilan teknis yang disesuaikan dengan kebutuhan negara dan sektor tujuan. Bidang yang dipersiapkan lain manufaktur, hospitality, kesehatan, serta operator produksi. Materi pelatihan diarahkan pada kemampuan praktis yang dapat diterapkan langsung di lingkungan kerja, termasuk pemahaman prosedur operasional, keselamatan kerja, disiplin, dan standar layanan. Dengan pembelajaran yang terarah, calon pekerja memiliki dasar yang lebih kuat sebelum memasuki proses penempatan.
Selain keterampilan teknis, penguasaan bahasa asing menjadi bagian penting dalam persiapan tersebut. Bahasa Jepang dan bahasa Inggris, misalnya, dipelajari untuk membantu calon pekerja berkomunikasi dengan pemberi kerja, rekan kerja, maupun masyarakat di negara penempatan. Kemampuan bahasa juga mendukung pemahaman terhadap instruksi kerja, budaya profesional, dan ketentuan keselamatan. Pembelajaran ini diberikan sebelum keberangkatan agar pekerja dapat beradaptasi secara lebih baik sejak awal.
Tahap berikutnya mencakup uji kompetensi untuk memastikan kemampuan calon pekerja sesuai dengan standar yang ditetapkan. Penilaian tersebut menjadi instrumen penting dalam mengukur kesiapan teknis, kecakapan bahasa, dan kelayakan calon sebelum diberangkatkan. Melalui rangkaian pelatihan dan verifikasi itu, SMK Go Global diarahkan untuk membangun pasokan pekerja migran terampil yang lebih berkualitas, terlindungi, dan mampu memenuhi kebutuhan dunia kerja global.
Program SMK Go Global mengarahkan rencana penempatan pekerja migran terampil pada sektor formal di negara-negara yang telah menjalin kerja sama resmi dengan pemerintah Indonesia. Kerangka kerja sama tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan negara tujuan, karena penempatan dilakukan dengan mempertimbangkan hubungan antarpemerintah serta kebutuhan perlindungan bagi pekerja. Dengan pendekatan ini, peluang bagi lulusan SMK tidak hanya diarahkan ke satu kawasan, melainkan mencakup sejumlah negara mitra di Asia Pasifik, Eropa, dan Timur Tengah.
Di kawasan Asia Pasifik, negara yang tercantum sebagai mitra meliputi Malaysia, Jepang, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan Hong Kong. Negara-negara tersebut termasuk dalam tujuan penempatan yang telah disebutkan dalam kerja sama resmi dengan Indonesia. Penyebutan kawasan ini menunjukkan luasnya cakupan pasar kerja formal yang menjadi sasaran program, sekaligus mencerminkan upaya memperluas akses lulusan pendidikan kejuruan terhadap kesempatan kerja di luar negeri secara terarah.
Sementara itu, negara mitra di Eropa mencakup Turki, Jerman, Albania, Slovakia, Polandia, Bulgaria, dan Italia. Daftar tersebut memperlihatkan bahwa tujuan penempatan tidak terbatas pada negara dengan kedekatan geografis, tetapi juga mencakup sejumlah negara Eropa yang memiliki hubungan kerja sama resmi dengan pemerintah Indonesia. Penempatan pada sektor formal di negara-negara tersebut direncanakan dalam kerangka yang terukur dan mengikuti ketentuan kerja sama yang berlaku.
Untuk kawasan Timur Tengah, cakupannya meliputi sebagian besar negara di wilayah tersebut untuk sektor formal. Seluruh negara tujuan yang disebutkan dipandang kondusif dan bukan merupakan wilayah konflik. Keterangan ini menjadi bagian penting dalam menggambarkan arah kebijakan penempatan, karena tujuan program tidak hanya memperluas peluang kerja, tetapi juga mempertimbangkan kondisi negara tujuan. Dengan demikian, rencana pengiriman pekerja terampil diarahkan ke negara mitra yang berada dalam lingkungan kerja sama resmi dan situasi yang dinilai mendukung.
Pembangunan ekosistem pekerja migran terampil memerlukan keterlibatan berbagai pihak sejak tahap perencanaan. Perguruan tinggi, kementerian, asosiasi perusahaan jasa tenaga kerja, dan pemerintah daerah memiliki peran yang saling melengkapi dalam memperluas akses pelatihan, memperkuat kompetensi, serta memastikan lulusan memiliki kesiapan untuk memasuki pasar kerja internasional. Kerja sama tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan SMK Go Global.
Universitas Teknologi Bandung berencana berkoordinasi dengan Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Koordinasi ini diarahkan untuk memperluas jangkauan program dan meningkatkan kapasitas SMK Go Global, termasuk melalui penguatan jejaring pendidikan, pemetaan kebutuhan industri, serta penyelarasan keterampilan dengan peluang kerja di luar negeri. Keterlibatan lembaga penempatan diharapkan dapat mempertemukan proses pendidikan dengan kebutuhan rekrutmen secara lebih terarah.
Dalam rangka membangun sinergi tersebut, Mukhtarudin melakukan rangkaian kunjungan di Bandung. Kunjungan itu mencakup Universitas Kebangsaan Republik Indonesia, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Teknologi Bandung. Pertemuan dengan sejumlah perguruan tinggi tersebut menjadi ruang untuk membahas kontribusi pendidikan tinggi dalam menyiapkan calon pekerja migran yang memiliki kompetensi teknis, kemampuan beradaptasi, serta pemahaman terhadap tuntutan lingkungan kerja global.
Rangkaian kunjungan tersebut juga membuka peluang penguatan hubungan perguruan tinggi, pemerintah, dan lembaga penempatan. Pemerintah daerah dapat mendukung perluasan informasi dan pembinaan calon tenaga kerja, sementara perguruan tinggi berperan dalam riset, pelatihan, dan pengembangan kurikulum. Asosiasi dapat memberikan masukan mengenai kebutuhan pengguna tenaga kerja serta mekanisme penempatan yang relevan.
Rangkaian ini menjadi momentum untuk mendorong sinergi dalam menyiapkan tenaga kerja migran sejak tahap hulu, sehingga proses pembentukan keterampilan, pendampingan, dan penempatan dapat berjalan dalam ekosistem yang lebih terkoordinasi.

