Pemerintah Berburu Sumber Minyak Baru Saat Pasokan BBM Terganggu

Pemerintah Berburu Sumber Minyak Baru Saat Pasokan BBM Terganggu

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 October 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengubah pola pengadaan bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini dilakukan melalui mekanisme tender oleh PT Pertamina (Persero). Kebijakan tersebut diambil sebagai respons terhadap terganggunya pasokan minyak mentah global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan di kawasan tersebut memengaruhi jalur pelayaran, meningkatkan risiko distribusi, serta membuat ketersediaan minyak mentah di pasar internasional menjadi lebih terbatas dan tidak menentu.

Dalam kondisi normal, tender digunakan untuk memperoleh pemasok dengan harga dan persyaratan yang paling kompetitif. Namun, mekanisme lelang dinilai tidak lagi efektif ketika jumlah peserta yang mampu menyediakan minyak mentah atau produk BBM berada pada tingkat yang sangat terbatas. Keterbatasan calon pemasok menyebabkan proses tender berisiko tidak menghasilkan penawaran, mengalami keterlambatan, atau tidak mampu memenuhi volume yang dibutuhkan dalam waktu yang ditetapkan. Situasi tersebut dapat mengganggu jadwal impor dan menekan ketersediaan stok dalam negeri.

Karena itu, pemerintah memberikan ruang bagi Pertamina untuk menempuh pengadaan langsung dengan pemasok yang tersedia dan memenuhi persyaratan teknis maupun administratif. Pendekatan ini diharapkan mempercepat keputusan pembelian, terutama ketika kebutuhan pengisian stok harus dilakukan tanpa menunggu siklus lelang yang panjang. Pengadaan langsung bukan berarti mengabaikan prinsip akuntabilitas. Setiap transaksi tetap perlu dilaksanakan berdasarkan ketentuan yang berlaku, melalui verifikasi pemasok, pemeriksaan kualitas, penilaian harga, serta pencatatan yang transparan.

Perubahan mekanisme tersebut berorientasi pada perlindungan pasokan nasional. Dengan jalur pengadaan yang lebih fleksibel, pemerintah dapat merespons perubahan pasar dan gangguan geopolitik secara lebih cepat. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga distribusi BBM kepada masyarakat, sektor transportasi, dan kegiatan industri agar tetap berjalan ketika rantai pasok minyak dunia menghadapi tekanan.

Pemerintah menyiapkan strategi untuk mencari negara-negara yang memiliki cadangan minyak atau kelebihan stok yang dapat didatangkan ke Indonesia. Langkah tersebut ditempuh ketika pasokan bahan bakar minyak mengalami gangguan. Dengan strategi ini, pemerintah berupaya menemukan sumber pasokan secara langsung dari negara yang masih mempunyai ketersediaan minyak, sehingga kebutuhan di dalam negeri dapat dipenuhi melalui pasokan yang diperoleh dari luar negeri.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menjelaskan bahwa pemerintah kini melakukan pencarian terhadap negara-negara yang mempunyai cadangan maupun kelebihan stok minyak. Minyak dari negara-negara tersebut kemudian diupayakan untuk didatangkan ke Indonesia. Ia menyebut proses pencarian itu sebagai hunting. Istilah tersebut menggambarkan perubahan pendekatan pemerintah dalam mencari sumber pasokan minyak di tengah gangguan pasokan BBM.

Menurut Laode, proses yang dilakukan pemerintah saat ini bukan lagi mekanisme pengadaan seperti yang diterapkan sebelumnya. Pemerintah tidak semata-mata menjalankan pola pengadaan, melainkan secara aktif berburu negara yang memiliki minyak untuk dapat memasok kebutuhan Indonesia. Penjelasan mengenai strategi tersebut disampaikan Laode dalam rapat koordinasi inflasi bersama Kementerian Dalam Negeri di Jakarta pada Senin, 5 Oktober 2026. Dalam rapat itu, ia menerangkan bahwa pencarian negara pemasok menjadi bagian dari upaya pemerintah menghadapi kondisi pasokan BBM yang terganggu. Melalui pendekatan hunting, pemerintah mengarahkan pencarian kepada negara-negara yang memiliki cadangan atau stok berlebih, kemudian berupaya mendatangkan minyak tersebut ke Indonesia.

Penutupan Selat Hormuz akibat konflik mengganggu salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Selat ini menjadi penghubung utama bagi pengiriman minyak mentah dan produk olahan dari negara-negara Timur Tengah menuju berbagai pasar, termasuk Indonesia. Ketika kapal tanker tidak dapat melintas dengan aman, jadwal pengiriman tertunda, biaya pengangkutan meningkat, dan kepastian pasokan menjadi semakin sulit dipertahankan.

Bagi Indonesia, gangguan tersebut berdampak langsung terhadap ketersediaan minyak nasional. Penutupan jalur itu menyebabkan Indonesia kehilangan sekitar 25 persen pasokan minyak nasional yang sebelumnya mengandalkan pengiriman dari kawasan Timur Tengah. Berkurangnya volume impor dapat menekan persediaan kilang dan mempersempit ruang pemerintah untuk menjaga distribusi bahan bakar minyak (BBM), terutama ketika kebutuhan masyarakat tetap tinggi.

Persoalan tidak hanya terletak pada jumlah pasokan, tetapi juga pada harga. Minyak dari Timur Tengah sebelumnya cenderung lebih murah dibandingkan pasokan dari wilayah lain karena kedekatan jalur perdagangan, kapasitas produksi, serta pola kontrak yang telah terbentuk. Jika pengiriman dari kawasan tersebut terganggu, pemerintah perlu mendatangkan minyak dari negara-negara di luar Timur Tengah. Pilihan ini dapat meningkatkan biaya pembelian, pengiriman, asuransi, dan pengolahan.

Untuk mencegah kekurangan BBM, pemerintah perlu memperluas sumber impor dan membangun jalur pasokan alternatif secara cepat. Negara-negara di Asia, Afrika, maupun kawasan lain dapat dipertimbangkan berdasarkan kapasitas produksi, kualitas minyak, keandalan pelabuhan, dan waktu pengiriman. Diversifikasi tersebut penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan, meskipun membutuhkan penyesuaian teknis di kilang serta anggaran yang lebih besar.

Langkah pencarian sumber baru juga harus disertai pemantauan stok nasional dan penguatan koordinasi pemerintah, perusahaan energi, operator pelabuhan, serta pelaku distribusi. Dengan strategi tersebut, dampak konflik terhadap pasokan dalam negeri dapat ditekan, sekaligus menjaga kesinambungan distribusi BBM kepada masyarakat dan sektor industri.

Perubahan pola pengadaan minyak membawa konsekuensi langsung terhadap biaya impor bahan bakar minyak (BBM). Ketika pasokan dari jalur atau pemasok utama terganggu, pemerintah perlu mencari sumber alternatif dari negara-negara yang masih memiliki persediaan berlebih. Langkah ini penting untuk menjaga ketersediaan stok nasional, tetapi harga yang ditawarkan belum tentu setara dengan harga dalam pengadaan rutin. Negara penjual dapat memanfaatkan tingginya kebutuhan dan situasi pasar yang tidak menentu untuk menetapkan premi harga tertentu.

Laode Sulaeman menjelaskan bahwa pembelian dari sumber alternatif dilakukan sebagai upaya mempertahankan stok nasional di tengah gangguan pasokan. Kebijakan tersebut memiliki pertimbangan strategis karena kekosongan persediaan dapat mengganggu distribusi BBM, kegiatan transportasi, serta operasional sektor industri. Namun, fleksibilitas dalam memilih pemasok menjadi lebih terbatas apabila tidak banyak negara yang mampu menyediakan minyak dalam waktu singkat. Kondisi itu dapat meningkatkan biaya negosiasi, pengiriman, asuransi, dan penyesuaian kualitas sebelum minyak diolah atau didistribusikan.

Tekanan biaya juga dapat muncul dari perubahan rute pengiriman. Sumber minyak yang lebih jauh memerlukan waktu angkut dan biaya logistik lebih besar, terutama ketika tarif kapal tanker dan premi risiko pelayaran meningkat. Apabila harga minyak mentah dan nilai tukar bergerak berlawanan, beban pengadaan BBM akan semakin berat. Selisih biaya tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi keuangan badan usaha, kebutuhan kompensasi, atau ruang fiskal pemerintah untuk menjaga harga jual di tingkat konsumen.

Karena itu, pengadaan darurat perlu diimbangi dengan perhitungan biaya yang cermat dan diversifikasi pemasok. Pemerintah harus menilai harga pembelian secara menyeluruh, termasuk ongkos angkut, waktu kedatangan, kualitas minyak, serta risiko gangguan lanjutan. Strategi ini dapat membantu memastikan bahwa upaya mempertahankan stok nasional tidak menimbulkan pembengkakan biaya yang tidak terkendali. Dalam jangka panjang, penguatan cadangan dan kontrak pasokan yang lebih beragam dapat mengurangi ketergantungan pada pembelian mendesak ketika pasar global mengalami tekanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *