JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 October 2026, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyiapkan enam desa wisata terpilih sebagai destinasi wisata edukasi atau edutrip bagi sekolah. Inisiatif ini diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan pembelajaran dengan potensi pengalaman yang tersedia di desa wisata. Melalui promosi tersebut, sekolah diharapkan dapat menemukan tujuan perjalanan yang tidak hanya menarik secara rekreatif, tetapi juga relevan dengan materi pelajaran dan capaian pembelajaran siswa.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menyampaikan bahwa promosi secara langsung kepada para pengambil keputusan di sekolah diharapkan mampu menciptakan keterhubungan kurikulum dan pengalaman belajar di destinasi. Pendekatan ini memberi ruang bagi sekolah untuk memilih kegiatan yang sesuai dengan tema pembelajaran, jenjang pendidikan, serta kebutuhan pengembangan karakter peserta didik. Dengan demikian, perjalanan sekolah dapat dirancang sebagai bagian dari proses belajar, bukan sekadar kegiatan tambahan di luar kelas.
Desa wisata yang dipromosikan memiliki produk dan aktivitas yang dapat mendukung pembelajaran kontekstual. Siswa berkesempatan mengenal budaya setempat melalui tradisi, kesenian, kuliner, kerajinan, dan sejarah masyarakat. Mereka juga dapat mengamati alam serta memahami pentingnya pelestarian lingkungan melalui kegiatan yang berlangsung langsung di lapangan. Interaksi dengan warga membuka kesempatan untuk mempelajari kehidupan sosial, mata pencaharian, kearifan lokal, dan praktik pengelolaan sumber daya secara lebih nyata.
Melalui konsep ini, desa wisata diposisikan sebagai ruang belajar terbuka yang menghubungkan pengetahuan di kelas dengan pengalaman langsung. Siswa dapat mengembangkan rasa ingin tahu, kemampuan mengamati, kerja sama, dan penghargaan terhadap keberagaman. Bagi sekolah, program tersebut menawarkan alternatif pembelajaran yang lebih partisipatif, sedangkan bagi desa wisata, keterlibatan dalam edutrip dapat memperluas manfaat pariwisata sekaligus memperkuat peran masyarakat sebagai pelaku dan sumber pengetahuan.
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkenalkan enam desa wisata yang dapat dipertimbangkan sekolah sebagai tujuan program edutrip. Daftar ini menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran di luar kelas tidak hanya berpusat pada destinasi perkotaan atau objek wisata populer, tetapi juga dapat berlangsung di tengah lingkungan desa. Setiap lokasi menawarkan karakter wilayah, budaya, aktivitas ekonomi, serta kehidupan masyarakat yang berbeda, sehingga peserta didik berkesempatan memperoleh pengalaman belajar yang lebih kontekstual.
Desa pertama adalah Desa Wisata Kreatif Terong yang berada di Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. Selanjutnya, terdapat Desa Wisata Krebet di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kedua desa tersebut menjadi bagian dari pilihan destinasi yang dapat memperkenalkan siswa pada potensi lokal dan cara masyarakat mengembangkan lingkungan tempat tinggalnya sebagai ruang yang memiliki nilai edukatif sekaligus wisata.
Dari Bali, Kemenpar menawarkan dua desa wisata di Kabupaten Buleleng, yaitu Desa Wisata Les dan Desa Wisata Sudaji. Kehadiran dua destinasi dari wilayah yang sama memperlihatkan bahwa satu daerah dapat memiliki beragam pengalaman pembelajaran berbasis desa. Sekolah dapat melihat perbedaan karakter, potensi, dan kehidupan masyarakat yang berkembang di masing-masing lokasi, dengan tetap menempatkan interaksi langsung sebagai bagian penting dari perjalanan.
Dua desa lainnya adalah Desa Wisata Bugisan di Klaten, Jawa Tengah, serta Desa Wisata Selamanik di Ciamis, Jawa Barat. Dengan demikian, keenam pilihan tersebut mencakup wilayah Belitung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Pengenalan destinasi ini bertujuan memperlihatkan keberagaman desa wisata di Indonesia sekaligus membuka peluang pemanfaatannya sebagai lokasi pembelajaran. Melalui edutrip, siswa dapat memahami budaya, aktivitas ekonomi, lingkungan, dan kehidupan sosial masyarakat secara langsung, bukan hanya melalui materi di ruang kelas. Pengalaman tersebut juga dapat mendorong penghargaan terhadap potensi daerah serta menumbuhkan kepedulian pada keberlanjutan pariwisata berbasis masyarakat.
Penyelarasan potensi desa wisata dengan kebutuhan kurikulum sekolah menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing wisata edukasi. Setiap desa memiliki karakter, sumber daya, serta tradisi yang berbeda, sehingga pengalaman kunjungan perlu diterjemahkan ke dalam tujuan pembelajaran yang jelas. Dengan pendekatan tersebut, desa wisata tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai ruang belajar kontekstual yang memperkaya pemahaman siswa di luar kelas. Kegiatan yang relevan dengan materi pelajaran dapat membuat kunjungan lebih bermakna sekaligus memperkuat ketertarikan sekolah terhadap destinasi lokal.
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) telah menjalankan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kualitas serta kesiapan desa wisata dalam menerima rombongan pelajar. Penguatan dilakukan melalui peningkatan kapasitas pengelola, penyusunan layanan kunjungan, dan pengembangan standar pengalaman yang sesuai dengan usia peserta. Pendampingan ini juga mendorong pengelola mengenali keunggulan wilayahnya, kemudian mengemasnya menjadi program yang terarah, informatif, dan mudah diterapkan oleh sekolah.
Fokus pengembangan mencakup penguatan kurikulum dan wisata berbasis pengalaman. Pengelola didorong menyediakan paket pembelajaran aktif yang dapat dikaitkan dengan sains, kebudayaan, ilmu sosial, ekologi, serta kewirausahaan. Siswa dapat mengamati proses produksi, mempelajari pelestarian lingkungan, mengenal sejarah dan kehidupan masyarakat, atau berlatih menyusun gagasan usaha sederhana. Interaksi langsung dengan warga dan lingkungan memungkinkan peserta belajar sambil berekreasi, mengembangkan rasa ingin tahu, serta memahami penerapan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Keselamatan juga menjadi unsur utama dalam kesiapan desa wisata. Setiap paket perlu dilengkapi prosedur keselamatan yang mudah dipahami, pembagian tanggung jawab pendamping, serta informasi mengenai kondisi lokasi dan aktivitas yang akan dilakukan. Pengelola harus menerapkan manajemen risiko melalui identifikasi potensi bahaya, pengaturan jalur, pengawasan kegiatan, dan penyediaan pertolongan pertama. Kesiapsiagaan tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan rombongan wisata edukasi, termasuk jumlah siswa, rentang usia, kondisi kesehatan, aksesibilitas, serta koordinasi darurat dengan sekolah dan pihak terkait.
Promosi wisata edukasi menjadi salah satu agenda dalam 9th Annual Convention SPK Indonesia 2026 yang berlangsung pada 30 September hingga 2 Oktober 2026 di SIS North East Jakarta. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh perkumpulan sekolah yang tergabung dalam Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) Indonesia. Mengusung tema “Rooted in Heritage, Empowered by Humanity, Driven by Leadership”, konvensi ini menjadi ruang pertemuan institusi pendidikan, pemangku kepentingan pariwisata, dan pengelola destinasi untuk memperkenalkan pilihan perjalanan pembelajaran bagi pelajar.
Dalam kesempatan itu, Kementerian Pariwisata mendorong sejumlah langkah pendukung agar kerja sama desa wisata dan sekolah dapat berjalan secara profesional. Langkah tersebut mencakup penerapan transaksi yang transparan, penyediaan penawaran harga khusus bagi rombongan sekolah, serta pilihan pembayaran non-tunai. Mekanisme ini diharapkan memberikan kepastian bagi sekolah dalam menyusun anggaran perjalanan sekaligus membantu pengelola desa wisata mengelola pemesanan dan pelayanan secara lebih tertib. Made menyampaikan bahwa promosi wisata edukasi dan pemenuhan kualifikasi destinasi merupakan dua pilar pengembangan wisata edukasi di desa wisata.
Lebih dari 460 sekolah telah terdaftar dalam perkumpulan SPK Indonesia. Jumlah tersebut membuka peluang bagi desa wisata untuk menjangkau segmen pelajar dan membangun kemitraan berkelanjutan dengan institusi pendidikan. Melalui kerja sama yang dirancang sesuai kebutuhan pembelajaran, kunjungan siswa dapat diarahkan pada pengenalan budaya, lingkungan, sejarah, keterampilan masyarakat, serta praktik kehidupan lokal. Kementerian Pariwisata berharap penguatan pasar ini mendorong perputaran ekonomi bagi masyarakat setempat, mendukung kampanye Bangga Berwisata di Indonesia, dan meningkatkan pertumbuhan perjalanan wisatawan nusantara dari kalangan pelajar.

