Empat PTKIN Menonjol dalam Peringkat Nasional Kualitas Riset 2027

Empat PTKIN Menonjol dalam Peringkat Nasional Kualitas Riset 2027

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 October 2026, Empat perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) masuk dalam 10 besar perguruan tinggi di Indonesia dengan kualitas riset terbaik berdasarkan pilar Research Quality dalam Times Higher Education World University Rankings 2027. Capaian tersebut menempatkan sejumlah PTKIN pada posisi teratas dalam daftar nasional yang mengukur kualitas riset perguruan tinggi.

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berada di peringkat pertama dengan skor 82,8. Posisi ini menjadikan UIN Sunan Kalijaga sebagai PTKIN dengan skor kualitas riset tertinggi di perguruan tinggi yang tercantum dalam daftar tersebut. Di peringkat kedua, terdapat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan skor 60,2.

Dua PTKIN lainnya juga menempati posisi 10 besar. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berada di peringkat kesembilan dengan skor 44,2. Sementara itu, UIN Sunan Gunung Djati Bandung menempati peringkat kesepuluh dengan skor 43,8. Dengan demikian, empat PTKIN yang masuk dalam daftar 10 besar tersebut adalah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Urutan dan skor itu menunjukkan posisi masing-masing kampus berdasarkan pilar Research Quality dalam Times Higher Education World University Rankings 2027. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memimpin daftar, disusul UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung melengkapi kehadiran PTKIN dalam 10 besar perguruan tinggi di Indonesia dengan kualitas riset terbaik.

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, menyambut positif pencapaian empat perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) yang berhasil masuk dalam jajaran 10 besar pemeringkatan nasional kualitas riset 2027. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan adanya peningkatan kapasitas akademik, tata kelola penelitian, serta komitmen kelembagaan dalam menghasilkan karya ilmiah yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Kamaruddin berharap keberhasilan itu tidak berhenti pada upaya mempertahankan posisi di tingkat nasional. Empat PTKIN tersebut didorong untuk berperan sebagai penggerak yang dapat membantu perguruan tinggi keagamaan Islam negeri lainnya mengembangkan kemampuan penelitian. Kolaborasi, pertukaran pengetahuan, pendampingan, dan penguatan jejaring antarperguruan tinggi dinilai penting untuk membangun ekosistem penelitian yang lebih merata dan berkelanjutan.

Ekosistem penelitian yang kuat membutuhkan dukungan dari berbagai unsur, mulai dari peningkatan kompetensi dosen dan peneliti, penyediaan fasilitas laboratorium, pengelolaan pendanaan yang transparan, hingga perluasan kerja sama dengan lembaga nasional dan internasional. Karena itu, PTKIN yang telah menunjukkan kinerja unggul diharapkan tidak berjalan sendiri, melainkan turut membuka akses dan peluang bagi institusi lain untuk tumbuh bersama.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Suyitno, menilai masuknya empat PTKIN dalam 10 besar menjadi cerminan semakin kuatnya kontribusi perguruan tinggi Islam terhadap pengembangan riset dan ilmu pengetahuan di tingkat nasional. Prestasi tersebut memperlihatkan bahwa institusi pendidikan Islam mampu bersaing melalui penelitian yang memiliki kualitas akademik sekaligus menjawab persoalan strategis di tengah masyarakat.

Kemajuan PTKIN, menurut pandangan tersebut, tidak hanya dapat diukur dari keberhasilan dalam pendidikan dan pengajaran. Kemampuan menghasilkan penelitian berkualitas juga menjadi indikator penting bagi penguatan reputasi dan relevansi perguruan tinggi. Riset yang berdampak dapat memperkaya kebijakan publik, mendorong inovasi, serta memberikan solusi atas berbagai persoalan sosial, keagamaan, ekonomi, dan kemanusiaan. Dengan penguatan kolaborasi dan budaya akademik, capaian empat PTKIN itu diharapkan menjadi pemicu peningkatan mutu riset di lingkungan PTKIN secara keseluruhan.

Suyitno menegaskan bahwa penguatan ekosistem riset merupakan salah satu agenda penting dalam transformasi pendidikan tinggi keagamaan Islam. Ekosistem tersebut tidak hanya berkaitan dengan peningkatan jumlah penelitian, tetapi juga mencakup upaya membangun lingkungan akademik yang mendorong mutu, produktivitas, keterhubungan, dan kebermanfaatan riset. Dalam kerangka itu, perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) didorong untuk menempatkan penelitian sebagai bagian penting dari pengembangan institusi dan peningkatan kualitas pendidikan tinggi.

Menurut Suyitno, PTKIN perlu terus meningkatkan mutu penelitian agar karya akademik yang dihasilkan memiliki dasar metodologis yang kuat, relevan dengan kebutuhan, serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Peningkatan tersebut perlu berjalan beriringan dengan penguatan publikasi ilmiah. Publikasi menjadi sarana untuk memperluas penyebaran pengetahuan, memperkaya diskursus akademik, dan memperlihatkan kontribusi PTKIN dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Selain itu, Suyitno mendorong penguatan kolaborasi akademik. Kerja sama antarpeneliti, antarperguruan tinggi, maupun dengan berbagai pihak dapat memperluas perspektif dan kapasitas dalam menghasilkan penelitian. Kolaborasi juga menjadi bagian dari upaya agar riset tidak berjalan secara terpisah, melainkan terhubung dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan yang dihadapi bangsa.

Penekanan lain yang disampaikan Suyitno adalah pentingnya dampak riset dalam membantu menyelesaikan persoalan masyarakat. Penelitian PTKIN diharapkan tidak berhenti pada pemenuhan tuntutan akademik, tetapi mampu menghasilkan pengetahuan dan gagasan yang berguna bagi kehidupan sosial. Karena itu, capaian PTKIN dalam kualitas riset perlu menjadi motivasi untuk terus memperkuat penelitian yang relevan, berdampak, dan mampu menjawab tantangan bangsa serta kemanusiaan. Dorongan tersebut menempatkan riset sebagai unsur penting dalam proses transformasi pendidikan tinggi keagamaan Islam.

Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama, Sahiron, menyampaikan apresiasi atas capaian empat PTKIN yang menonjol dalam peringkat nasional kualitas riset 2027. Apresiasi tersebut tidak hanya ditujukan kepada pimpinan perguruan tinggi, tetapi juga kepada dosen, peneliti, tenaga kependidikan, dan mahasiswa yang berkontribusi membangun ekosistem akademik produktif. Sahiron mendorong seluruh civitas akademika PTKIN agar menjadikan pencapaian ini sebagai pemacu untuk memperkuat budaya akademik, meningkatkan integritas ilmiah, serta mengembangkan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Posisi empat PTKIN dalam pemeringkatan tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi Islam memiliki potensi besar untuk bersaing dalam ekosistem pendidikan tinggi global. UIN Sunan Kalijaga menjadi kampus dengan peringkat pertama dan mencatat skor 82,8. Capaian ini memperlihatkan bahwa institusi Islam mampu menghasilkan kinerja penelitian yang diperhitungkan, sekaligus memiliki fondasi untuk memperluas pengaruh akademiknya di tingkat nasional dan internasional.

Dalam pemeringkatan Times Higher Education (THE), indikator Research Quality mencakup sejumlah dimensi penting, yaitu dampak, kekuatan, keunggulan, dan pengaruh riset. Karena itu, penilaian kualitas penelitian tidak semata-mata didasarkan pada jumlah publikasi yang dihasilkan. Aspek yang turut menentukan meliputi mutu metodologi, kredibilitas temuan, tingkat keterpengaruhan karya ilmiah, serta kontribusinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan penyelesaian persoalan sosial. Kerangka ini mendorong PTKIN untuk menempatkan kualitas dan relevansi sebagai prioritas utama.

Ke depan, pengembangan PTKIN perlu diarahkan pada penguatan riset unggulan yang memiliki identitas dan daya saing. Kemenag juga perlu mendorong perluasan kolaborasi nasional dan internasional, baik melalui jejaring peneliti, pertukaran keahlian, maupun proyek bersama. Dengan langkah tersebut, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada publikasi, tetapi memberikan dampak nyata bagi masyarakat, kebijakan publik, pengembangan ekonomi, dan kemajuan peradaban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *