JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengajak investor dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera memanfaatkan peluang investasi di Indonesia melalui tindakan nyata. Ajakan tersebut disampaikan dalam Indonesia International Sustainability Forum yang berlangsung di Jakarta pada Rabu, 7 Oktober 2026. Pesan ini menempatkan Indonesia sebagai ruang kolaborasi bagi berbagai pihak untuk mendorong perubahan ekonomi yang memberikan dampak lebih luas dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Destry mengutip pemikiran filsuf China, Lao Tzu, yang menyatakan bahwa “perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah.” Kutipan itu digunakan untuk menegaskan pentingnya keberanian memulai, terutama ketika perubahan yang hendak dicapai memiliki skala besar. Para investor, pelaku usaha, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya didorong untuk tidak menunda langkah awal dalam mengembangkan peluang yang tersedia di Indonesia.
Destry menyerukan agar setiap pihak segera memulai langkah menuju dampak yang lebih besar bagi perekonomian. Langkah tersebut dapat menjadi dasar bagi terbentuknya kerja sama dan keputusan investasi yang mendukung agenda pembangunan jangka panjang. Dalam kerangka itu, investasi, inovasi, dan pengembangan talenta dipandang sebagai fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi yang kuat, hijau, inklusif, dan berkelanjutan.
Ajakan ini juga menekankan bahwa pencapaian ekonomi berkelanjutan membutuhkan keterlibatan bersama, bukan hanya kebijakan dari satu institusi. Modal, gagasan baru, serta sumber daya manusia yang memiliki kompetensi perlu dikembangkan secara beriringan agar peluang investasi dapat menghasilkan manfaat yang lebih luas. Dengan memulai tindakan konkret, para pemangku kepentingan dapat membangun momentum untuk memperkuat daya saing Indonesia sekaligus mendukung transisi menuju perekonomian yang lebih ramah lingkungan dan inklusif.
Arus investasi memiliki peran penting dalam mempercepat transformasi menuju ekonomi yang lebih hijau dan inklusif. Menurut Destry, modal yang masuk ke berbagai sektor tidak semata-mata berfungsi sebagai sumber pembiayaan, tetapi juga membawa teknologi, keahlian, serta standar tata kelola yang dapat meningkatkan produktivitas. Karena itu, investasi perlu diarahkan pada kegiatan yang menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi dalam jangka panjang.
Salah satu bidang yang membutuhkan dukungan investasi adalah pengembangan energi bersih. Pembiayaan pada energi terbarukan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi beremisi tinggi, sekaligus membuka peluang industri baru dan lapangan kerja. Investasi juga diperlukan untuk membangun infrastruktur yang mendukung konektivitas, efisiensi logistik, dan pemerataan akses ekonomi. Di sisi lain, penguatan ekosistem digital dapat memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan, pendidikan, kesehatan, dan perdagangan. Pengembangan pertanian berkelanjutan pun penting untuk meningkatkan produktivitas, menjaga lingkungan, serta memperkuat ketahanan pangan.
Namun, peluang tersebut tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan modal. Komitmen investor sangat dipengaruhi oleh kualitas fondasi ekonomi dan kelembagaan di negara tujuan. Destry menekankan pentingnya fundamental makroekonomi yang kuat, institusi yang kredibel, serta sistem keuangan yang tangguh. Stabilitas inflasi, kesinambungan fiskal, dan ketahanan sektor eksternal memberikan kepastian bagi investor dalam menyusun rencana jangka panjang. Institusi yang dapat dipercaya, penegakan aturan yang konsisten, dan proses perizinan yang transparan juga mengurangi risiko usaha. Sementara itu, sistem keuangan yang sehat memastikan pembiayaan dapat disalurkan secara efisien dan mampu menghadapi tekanan. Destry menyatakan bahwa investor akan berkomitmen ketika ketiga kondisi tersebut terpenuhi. Dengan demikian, upaya menarik investasi perlu berjalan seiring dengan penguatan ekonomi dan pembenahan kelembagaan, bukan hanya melalui pemberian insentif.
Bank Indonesia terus memperkuat dukungan terhadap pembiayaan sektor prioritas melalui Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM). Instrumen ini dirancang untuk memberikan insentif likuiditas kepada perbankan agar kapasitas penyaluran pembiayaan meningkat, sekaligus mendorong perbankan mengarahkan dana ke kegiatan ekonomi yang memiliki dampak luas dan berkelanjutan. Dengan demikian, kebijakan makroprudensial tidak hanya berfungsi menjaga stabilitas sistem keuangan, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih seimbang.
Penyaluran insentif KLM terus diarahkan untuk mendukung berbagai sektor, termasuk sektor hijau dan sektor inklusif. Sektor hijau mencakup kegiatan ekonomi yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan, sedangkan sektor inklusif berhubungan dengan perluasan akses pembiayaan bagi kelompok masyarakat dan kegiatan usaha yang selama ini belum sepenuhnya terlayani. Arah kebijakan tersebut memperlihatkan upaya untuk menyelaraskan stabilitas keuangan dengan agenda pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Realisasi insentif likuiditas KLM telah mencapai Rp461 triliun. Nilai tersebut menunjukkan besarnya dukungan yang telah disalurkan untuk memperkuat kemampuan perbankan dalam menyediakan pembiayaan bagi sektor-sektor sasaran. Insentif ini diharapkan dapat mendorong bank untuk tidak hanya meningkatkan volume kredit, tetapi juga memperluas jangkauan pembiayaan kepada kegiatan yang berkontribusi pada transformasi ekonomi hijau dan peningkatan inklusi keuangan.
Dari total realisasi tersebut, sekitar Rp68 triliun telah menjadi kredit baru untuk sektor perumahan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Penyaluran ini menempatkan akses terhadap hunian sebagai salah satu sasaran penting kebijakan pembiayaan. Dukungan bagi sektor perumahan masyarakat berpenghasilan rendah sekaligus mencerminkan peran KLM dalam mendorong pembiayaan yang lebih inklusif. Melalui kelanjutan kebijakan ini, perbankan diharapkan semakin aktif menyalurkan kredit ke sektor prioritas, termasuk sektor hijau dan inklusif, secara terarah dan bertanggung jawab.
Pemanfaatan investasi untuk mendukung ekonomi hijau dan inklusif memerlukan inovasi yang berjalan seiring dengan penguatan sumber daya manusia. Kecerdasan buatan, digitalisasi, dan otomatisasi dapat meningkatkan produktivitas, memperbaiki efisiensi operasional, serta memperkuat rantai pasok dari hulu hingga hilir. Teknologi tersebut juga berpotensi memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan, khususnya bagi pelaku usaha kecil yang selama ini menghadapi keterbatasan modal, informasi, dan jaringan pasar.
Perkembangan ekosistem pembayaran digital menunjukkan bahwa inklusi dapat dibangun melalui infrastruktur yang mudah digunakan. Jaringan merchant QRIS telah mencapai 47,11 juta pelaku usaha, dengan 96,7 persen di antaranya merupakan UMKM. Capaian ini memperlihatkan bahwa digitalisasi bukan hanya instrumen transaksi, melainkan juga sarana untuk mencatat aktivitas usaha, memperluas basis pelanggan, dan meningkatkan peluang pelaku usaha memperoleh pembiayaan formal. Konektivitas QRIS cross-border juga terus diperluas dan saat ini telah terhubung dengan Thailand, Singapura, Malaysia, Jepang, serta Korea. Bank Indonesia siap mengembangkan konektivitas serupa dengan India dan Timor-Leste.
Namun, transformasi teknologi membutuhkan talenta yang mampu mengelola peluang sekaligus risikonya. Destry mengingatkan pentingnya sumber daya manusia dengan keahlian di bidang data, kecerdasan buatan, dan risiko iklim. Kompetensi tersebut diperlukan untuk mendukung transisi energi, menyusun penilaian risiko yang lebih akurat, serta memastikan pembiayaan berkelanjutan disalurkan kepada proyek yang memiliki dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang jelas.
Karena itu, pembangunan ekosistem investasi jangka panjang tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Sinergi pemerintah, regulator, pelaku usaha, lembaga keuangan, akademisi, dan perusahaan rintisan diperlukan untuk mendorong inovasi, menyiapkan talenta, dan memperkuat kepercayaan pasar. Sebagaimana ditegaskan Destry, “masa depan dibangun mulai sekarang, bukan sekadar ditunggu.”


