KOTA PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 October 2026, Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada Kamis, 8 Oktober 2026. Kondisi tersebut terlihat sejak pagi dan masih bertahan hingga sore hari. Lapisan asap yang menutupi wilayah kota membuat suasana di luar ruangan tampak berkabut, sementara jarak pandang dilaporkan anjlok hingga sekitar 400 meter.
Situasi ini turut memengaruhi aktivitas masyarakat Palembang. Warga yang tetap berada di luar rumah terlihat mengenakan masker saat menjalankan kegiatan mereka. Penggunaan masker tampak menjadi bagian dari upaya warga menghadapi kondisi udara yang dipenuhi kabut asap selama aktivitas berlangsung dari pagi hingga sore.
Kabut asap yang menetap sepanjang hari membuat pandangan di sejumlah area kota tidak sejernih biasanya. Lingkungan sekitar terlihat tertutup asap, sehingga objek yang berada pada jarak tertentu menjadi lebih sulit terlihat. Masyarakat yang beraktivitas di luar rumah pun tampak menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut, termasuk dengan menggunakan masker ketika berada di ruang terbuka.
Hingga sore pada Kamis itu, kabut asap masih menyelimuti Palembang. Kondisi yang berlangsung berjam-jam tersebut menunjukkan bahwa gangguan jarak pandang dan perubahan suasana di luar ruangan belum berakhir sejak kemunculannya pada pagi hari. Warga yang terlihat mengenakan masker menjadi gambaran dampak kabut asap terhadap aktivitas harian masyarakat di Kota Palembang.
Asap yang cukup pekat menyelimuti sejumlah wilayah Palembang pada Kamis. Kondisi tersebut terlihat dari penurunan jarak pandang yang sempat mencapai 400 meter. Pantauan pada hari itu menunjukkan ruang pandang dari satu titik ke titik lain menjadi lebih terbatas dibandingkan kondisi normal, terutama ketika lapisan asap menutup area di sekitar permukiman dan ruas jalan. Angka 400 meter menjadi catatan jarak pandang terendah yang disebutkan dalam laporan untuk wilayah Palembang pada Kamis tersebut.
Penurunan jarak pandang itu turut memengaruhi aktivitas warga. Pengguna jalan harus bergerak dengan pandangan yang lebih terbatas ketika melintas di sejumlah ruas Palembang. Kendaraan yang melintas berada dalam ruang pandang pendek, sehingga perjalanan dan mobilitas warga berlangsung dengan perhatian lebih terhadap kondisi di depan. Situasi tersebut membuat aktivitas harian di luar rumah tidak berjalan seperti biasanya.
Sejumlah kegiatan warga yang bergantung pada perjalanan melalui jalan juga ikut terdampak oleh pekatnya asap. Pergerakan menuju tempat kerja, sekolah, pasar, dan lokasi kegiatan lain berlangsung dalam kondisi jarak pandang yang menurun. Warga yang berada di luar ruangan harus menyesuaikan aktivitas dengan keadaan sekitar, sementara arus kendaraan tetap terlihat melalui ruas-ruas jalan yang diselimuti asap.
Kondisi jarak pandang 400 meter itu tercatat pada Kamis, bersamaan dengan meningkatnya kepadatan asap di Palembang. Laporan lapangan menempatkan angka tersebut sebagai gambaran langsung mengenai terbatasnya pandangan di wilayah tersebut. Asap yang menebal terlihat menutupi area sekitar jalan dan permukiman, sehingga jarak pandang warga ketika beraktivitas menjadi lebih pendek. Dampaknya terasa pada mobilitas sehari-hari dan kegiatan masyarakat yang dilakukan di luar ruangan pada hari itu.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan turut berdampak pada aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Penurunan jarak pandang membuat kondisi di sekitar bandara tidak sebaik biasanya, sehingga pemantauan terhadap situasi atmosfer menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan penerbangan. Keadaan tersebut berpotensi mengganggu kelancaran jadwal, terutama ketika jarak pandang berada pada tingkat yang menyulitkan proses operasional penerbangan.
Sejumlah penerbangan mengalami penundaan sebagai dampak dari kondisi tersebut. Penundaan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan keselamatan, mengingat jarak pandang merupakan salah satu faktor penting dalam penerbangan. Keputusan untuk menyesuaikan jadwal tidak semata-mata berkaitan dengan kelancaran perjalanan, tetapi juga bertujuan memastikan seluruh proses penerbangan berlangsung dalam kondisi yang memungkinkan dan sesuai dengan pertimbangan keselamatan.
Gangguan terhadap jadwal penerbangan juga telah terjadi sehari sebelumnya. Pada waktu itu, tiga penerbangan sipil mengalami gangguan, baik pada jadwal keberangkatan maupun kedatangan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kabut asap dapat memengaruhi pergerakan penerbangan di bandara, khususnya ketika jarak pandang menurun secara signifikan. Penumpang dan pihak terkait perlu memperhatikan informasi terbaru mengenai jadwal penerbangan, karena kondisi cuaca dan kualitas udara dapat berubah sewaktu-waktu. Selama kabut asap masih menyelimuti wilayah Palembang, penyesuaian jadwal penerbangan dapat dilakukan untuk menjaga keselamatan seluruh pihak yang terlibat dalam perjalanan udara.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 7 Oktober 2026 mencatat kondisi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan pada tanggal tersebut, terdeteksi 354 titik panas atau hot spot dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah Sumatera Selatan. Angka itu menjadi catatan pemantauan BNPB terkait sebaran indikasi panas yang terdeteksi melalui sistem pemantauan kebakaran.
Selain titik panas, BNPB mencatat masih terdapat 92 titik api yang membakar lahan. Kebakaran tersebut tercatat mencakup area seluas 390,61 hektare. Data ini memuat jumlah titik api yang masih aktif serta luasan lahan yang terdampak pembakaran hingga pembaruan informasi pada 7 Oktober 2026.
Dengan demikian, catatan BNPB pada 7 Oktober 2026 menunjukkan terdapat 354 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Sumatera Selatan. Pada waktu yang sama, sebanyak 92 titik api masih membakar lahan dengan total luas 390,61 hektare. Seluruh angka tersebut merupakan data pemantauan yang menjadi bagian dari laporan kondisi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan.

