KABUPATEN BEKASI, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 October 2026, Kementerian Sosial (Kemensos) memperkuat kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mendukung penyelenggaraan Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia. Kolaborasi tersebut diarahkan pada pemanfaatan hasil riset, pengembangan inovasi, serta penerapan teknologi dalam menunjang operasional sekolah. Dengan dukungan berbasis pengetahuan dan data, pengelolaan Sekolah Rakyat diharapkan dapat berjalan secara lebih terarah, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan penyelenggara maupun peserta didik.
Kerja sama itu dituangkan melalui penandatanganan nota kesepahaman oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan Kepala BRIN Arif Satria. Penandatanganan berlangsung pada Kamis di aula Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Kesepakatan tersebut menjadi dasar bagi kedua lembaga untuk memperkuat sinergi dalam menyempurnakan sekaligus memperbaiki tata kelola penyelenggaraan Sekolah Rakyat.
Ruang kerja sama ini menempatkan riset dan inovasi dalam negeri sebagai bagian penting dari upaya membangun sistem pengelolaan sekolah yang lebih baik. Kemensos memerlukan dukungan BRIN agar berbagai kebijakan dan pelaksanaan Sekolah Rakyat dapat ditopang oleh kajian serta solusi yang relevan. Saifullah Yusuf menyampaikan bahwa Kemensos membutuhkan BRIN untuk membantu menyempurnakan dan memperbaiki tata kelola Sekolah Rakyat. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan program secara menyeluruh, termasuk dalam menjawab kebutuhan pengelolaan di berbagai daerah.
Melalui nota kesepahaman ini, Kemensos dan BRIN menegaskan pentingnya kolaborasi antarlembaga dalam memastikan Sekolah Rakyat diselenggarakan dengan tata kelola yang semakin kuat. Pemanfaatan riset serta inovasi nasional menjadi pijakan untuk mendukung operasional sekolah sekaligus meningkatkan kualitas penyelenggaraannya di seluruh Indonesia.
Dukungan BRIN terhadap penguatan tata kelola Sekolah Rakyat diwujudkan melalui pemanfaatan produk inovasi dan hasil riset buatan dalam negeri. Kerja sama dengan Kementerian Sosial tidak berhenti pada penyusunan kebijakan atau pengembangan kerangka pengelolaan, tetapi diarahkan untuk menghadirkan solusi yang dapat diterapkan langsung di lingkungan sekolah. Pendekatan ini memungkinkan kebutuhan operasional sekolah ditangani melalui pemanfaatan pengetahuan, teknologi, dan produk yang dikembangkan sesuai konteks nasional. Dengan demikian, riset berperan dalam memperkuat kualitas layanan sekaligus mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih layak bagi siswa.
Salah satu bentuk inovasi yang didukung adalah teknologi pengolahan sampah. Pemanfaatan teknologi tersebut dapat membantu sekolah menangani sampah secara lebih terarah dan mendukung kebersihan lingkungan. Selain itu, BRIN menyiapkan inovasi penyediaan air bersih yang direncanakan diterapkan di sekitar 14 titik Sekolah Rakyat. Kehadiran solusi ini menunjukkan bahwa hasil riset dapat menjawab kebutuhan dasar sekolah secara langsung, terutama dalam mendukung ketersediaan air bersih bagi kegiatan pendidikan dan keseharian warga sekolah. Penerapan inovasi tersebut menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan fasilitas yang mendukung proses belajar.
Dukungan lainnya berupa sepatu lokal berbahan dasar karet. Produk ini disiapkan untuk mendukung kegiatan siswa pada tahun ajaran baru, sekaligus memperlihatkan pemanfaatan hasil inovasi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah. Penggunaan produk lokal juga memperkuat keterhubungan riset, inovasi, dan kebutuhan nyata masyarakat. Ketiga contoh tersebut—teknologi pengolahan sampah, inovasi penyediaan air bersih, dan sepatu lokal—menggambarkan bentuk kerja sama yang bersifat praktis. BRIN dan Kementerian Sosial berupaya memastikan bahwa penguatan Sekolah Rakyat menghasilkan manfaat yang terasa dalam pengelolaan lingkungan, pemenuhan kebutuhan dasar, serta dukungan terhadap aktivitas siswa.
Peran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam penguatan tata kelola Sekolah Rakyat tidak berhenti pada dukungan terhadap infrastruktur maupun kebutuhan operasional. BRIN juga dipersiapkan untuk memberikan kontribusi melalui riset dan evaluasi terhadap proses pembelajaran yang berlangsung di satuan pendidikan tersebut. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan Sekolah Rakyat diarahkan untuk dibangun berdasarkan data, kajian, dan pemahaman yang menyeluruh mengenai kebutuhan peserta didik.
Riset tersebut dapat mencakup penelaahan terhadap pelaksanaan pembelajaran, pendekatan pendidikan, lingkungan belajar, serta berbagai faktor yang memengaruhi mutu layanan pendidikan. Evaluasi diperlukan untuk melihat kesesuaian proses belajar dengan kondisi dan karakteristik anak yang menjadi peserta didik Sekolah Rakyat. Dengan demikian, hasil kajian nantinya dapat menjadi dasar bagi perbaikan kebijakan, pengembangan metode pembelajaran, dan penyusunan dukungan yang lebih tepat. Langkah ini merupakan upaya strategis untuk mendorong pendidikan yang berkualitas sekaligus lebih inklusif, tanpa mengabaikan keragaman latar belakang sosial maupun kebutuhan setiap anak.
Penguatan melalui riset dan evaluasi juga berkaitan erat dengan tujuan utama program Sekolah Rakyat. Program ini menjadi bentuk kepedulian negara terhadap anak-anak dari keluarga tidak mampu, khususnya mereka yang berada dalam prioritas desil 1 dan 2. Selain kelompok tersebut, sasaran Sekolah Rakyat mencakup anak putus sekolah serta anak yang belum pernah memperoleh pendidikan. Kelompok-kelompok ini membutuhkan perhatian dan intervensi yang terencana agar dapat memperoleh kesempatan belajar yang layak.
Karena itu, keterlibatan BRIN memiliki posisi penting dalam memastikan proses pembelajaran tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga terus dikaji berdasarkan kebutuhan nyata peserta didik. Evaluasi terhadap pembelajaran diharapkan menjadi bagian dari tata kelola yang berkelanjutan, dengan tetap menempatkan pemerataan akses, mutu pendidikan, dan perlindungan terhadap kelompok rentan sebagai perhatian utama. Temuan dari proses riset tersebut nantinya dapat digunakan sebagai bahan pengembangan program sesuai hasil kajian yang diperoleh.
Setelah berjalan lebih dari satu tahun, program Sekolah Rakyat telah menunjukkan perkembangan dalam penyediaan layanan pendidikan bagi masyarakat. Program ini telah menampung lebih dari 44.000 siswa yang mengikuti pendidikan pada jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA). Data tersebut menggambarkan cakupan program yang mencakup beberapa jenjang pendidikan secara berkelanjutan.
Penyelenggaraan Sekolah Rakyat juga didukung oleh lebih dari 10.000 guru dan tenaga kependidikan. Kehadiran para pendidik dan tenaga kependidikan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan kegiatan pendidikan di berbagai lokasi Sekolah Rakyat. Dengan dukungan tersebut, program berjalan untuk melayani siswa pada jenjang SD, SMP, dan SMA sesuai dengan satuan pendidikan yang tersedia.
Dari sisi pembangunan sarana, gedung permanen Sekolah Rakyat saat ini telah berdiri di 93 titik. Pemerintah menargetkan penambahan lebih dari 60 titik pembangunan baru pada tahun ini. Perkembangan pembangunan tersebut menjadi bagian dari penataan fasilitas fisik untuk mendukung keberlanjutan penyelenggaraan Sekolah Rakyat di berbagai daerah.
Dalam jangka program, pemerintah menargetkan agar setiap daerah memiliki gedung Sekolah Rakyat permanen. Gedung tersebut ditargetkan memiliki kapasitas lebih dari 2.000 siswa. Dengan demikian, perkembangan program tercatat melalui jumlah siswa yang telah ditampung, dukungan guru dan tenaga kependidikan, pembangunan gedung permanen di 93 titik, serta rencana penambahan lebih dari 60 titik baru pada tahun ini. Target setiap daerah memiliki gedung permanen berkapasitas lebih dari 2.000 siswa menjadi arah jangka program yang disampaikan pemerintah.


