JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 October 2026, Ia ingin Shafira merasakan realitas dunia profesional, mulai dari lembur dan pulang larut hingga tugas dinas ke luar kota. Shafira baru saja menyelesaikan pendidikan di jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Jakarta dan resmi diwisuda sehari sebelum gelaran tersebut berlangsung. Bagi sebagian orang, job fair jadi tempat berburu pekerjaan.
Keterangan yang tercatat menyebut Saya mengantar anak saya karena dia anak satu-satunya dan perempuan, biar dia ngerti juga bagaimana dunia kerja itu." ujar Khazali saat berbincang dengan di lokasi pameran.
Data lain dalam laporan menunjukkan Diterbitkan: 08 October 2026, 08:05 WIB Pemandangan riuh di area job fair biasanya didominasi deretan pencari kerja berseragam rapi yang lalu-lalang membawa tumpukan berkas CV. Namun di pameran bursa kerja yang digelar di GOR Pulo Gadung Jakarta Timur, pada Rabu (7/10), ada pemandangan lain di sela keramaian itu. Seorang ayah datang menemani putrinya mencari pekerjaan pertama, sementara tiga siswi SMK yang baru duduk di kelas 11 hadir untuk melihat dunia kerja lebih awal. Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Khazali Kadir, seorang pria berusia 58 tahun yang sehari-hari berprofesi sebagai konsultan pajak dan keuangan. Di tengah kesibukannya, dia rela meluangkan waktu untuk mendampingi putri tunggalnya, Shafira yang berusia 21 tahun.
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Namun bagi Khazali, ini adalah momen mendampingi putrinya memasuki dunia kerja, sementara tiga siswa SMK datang untuk mencari bekal sebelum lulus. Mereka punya tujuan berbeda, tetapi sama-sama ingin menyiapkan diri sebelum melangkah ke dunia profesional. Bagi Khazali, kehadirannya di pameran ini bukan sekadar menemani sang anak membagikan lembaran riwayat hidup. Lebih dari itu, kehadirannya ini adalah bentuk dukungan penuh seorang ayah untuk mengantarkan buah hatinya melangkah ke fase kehidupan yang lebih serius. Tak sendiri, Khazali bahkan memboyong sang istri untuk memberikan semangat secara langsung di lokasi pameran.
Dia juga menilai job fair sangat membantu lulusan baru yang sering kali bingung menentukan arah karier. Dengan banyak perusahaan berkumpul di satu tempat, pencari kerja tidak perlu lagi mendatangi kantor satu per satu, kemudahan yang tidak ia rasakan di masa mudanya. Sekarang ada perusahaan outsourcing, dulu mah enggak ada. Dulu harus one by one, sekarang sudah enggak. Jadi sekarang cari informasi, cari peluang. Siapa tahu ada yang pas," kenangnya. Sebagai orang tua, Khazali memandang pekerjaan sebagai ruang pembentukan karakter, bukan hanya sumber penghasilan. Ia berharap pekerjaan pertama putrinya tetap menyisakan ruang yang seimbang bagi keluarga, sekaligus menjadi bekal ketika kelak Shafira berumah tangga. Namun, Shafira memiliki pandangan yang sedikit berbeda dari sang ayah. Lulusan akuntansi ini memandang karier bukan sekadar batu loncatan atau ajang mencari pengalaman semata, melainkan target konkret untuk membangun masa depan secara mandiri. Ia pun berharap keputusannya datang ke pameran ini benar-benar membuahkan hasil berupa panggilan kerja. Dengan membawa tumpukan CV, Shafira merasakan langsung dinamika rekrutmen masa kini. Prosesnya memang makin praktis, tetapi kendala teknis seperti aplikasi lamaran online yang kadang error di lokasi masih menjadi hambatan. Bagi Shafira, kendala itu bagian dari perjuangan. Di sudut lain pameran, terdapat beberapa siswa dan siswi kelas 11 SMKN 7 Jakarta, beberapa di antaranya ada Riris, Nadia, dan Adinda yang berkeliling dari satu stan ke stan lain. Ketiga siswi jurusan Teknik Grafika ini sengaja datang ke lokasi pameran meski masa kelulusan mereka masih berjarak satu tahun lebih. Kehadiran ketiga siswi tersebut bukan untuk menebar berkas lamaran, melainkan untuk belajar dan memetakan kebutuhan industri sejak dini. Sebagai siswa SMK yang disiapkan untuk langsung bekerja, mereka menyadari pentingnya memahami kriteria perusahaan serta mengumpulkan pengalaman seperti organisasi dan seminar sebagai bekal sebelum benar-benar lulus. Kalau tahu kebutuhan perusahaan sejak kelas 11, kita bisa bersiap dari sekarang," kata mereka. Dari informasi di pameran, mereka mulai menyusun bekal, mulai dari pengalaman berorganisasi dan keikutsertaan dalam seminar hingga portofolio keterampilan. Meski datang bersamaan, ketiganya memiliki rencana masa depan yang beragam setelah lulus nanti. Nadia mantap ingin langsung bekerja setelah lulus. Adinda masih menimbang untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Riris memilih jalan tengah, yakni berkuliah sambil bekerja. Kalau bisa kuliah sambil kerja, jadi bisa membantu membiayai sekolah sendiri dan enggak terlalu membebani orang tua," ujarnya. Pada akhirnya, gelaran bursa kerja di Jakarta ini menjadi titik temu berbagai generasi dan kepentingan. Ada ayah yang mendampingi putrinya memasuki gerbang kedewasaan, ada lulusan baru yang memperjuangkan karier pertamanya, serta ada remaja sekolah yang datang untuk mencuri pandang ke masa depan. Di bawah satu atap pameran, mereka semua disatukan oleh kesadaran untuk mempersiapkan diri sebelum benar-benar melangkah ke kerasnya dunia kerja.

