JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Taiwan semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pusat industri kecerdasan buatan (AI) global. Perkembangan tersebut ditandai oleh meningkatnya investasi perusahaan teknologi besar, termasuk Nvidia, di wilayah tersebut. Informasi ini disampaikan Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei (TETO) di Jakarta, Bruce Hung, dalam acara peringatan hari nasional Taiwan ke-115 pada Rabu malam, 7 Oktober 2026.
Dalam kesempatan itu, Hung menyebut Nvidia berinvestasi di Taiwan dan membangun kantor pusat luar negeri pertama perusahaan tersebut di Taipei. Kehadiran kantor pusat itu menjadi salah satu penanda penting atas semakin kuatnya peran Taiwan dalam ekosistem teknologi dan industri AI dunia. Taipei dinilai menjadi lokasi strategis bagi pengembangan kegiatan perusahaan yang bergerak dalam teknologi komputasi dan kecerdasan buatan.
Hung juga menyampaikan bahwa Nvidia kembali meningkatkan pengeluaran tahunannya untuk investasi di Taiwan. Nilai investasi tersebut mencapai US$150 miliar atau sekitar Rp2.686 triliun. Peningkatan itu memperlihatkan besarnya perhatian Nvidia terhadap Taiwan sekaligus memperkuat keterkaitan perusahaan global tersebut dengan perkembangan industri teknologi di negara itu.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi informasi penting mengenai arah pertumbuhan industri AI di kawasan. Investasi perusahaan teknologi berskala global di Taiwan menunjukkan bahwa negara tersebut terus memperluas kapasitas dan perannya dalam rantai industri kecerdasan buatan. Pernyataan yang disampaikan dalam agenda resmi Taiwan di Jakarta itu turut memperkenalkan perkembangan industri tersebut kepada masyarakat dan pemangku kepentingan di Indonesia.
Dengan pembangunan kantor pusat luar negeri pertama Nvidia di Taipei serta peningkatan nilai investasi tahunan hingga US$150 miliar, Taiwan semakin terlihat sebagai pusat kegiatan strategis bagi industri AI global. Perkembangan ini menjadi bagian utama dari hubungan dan perhatian yang terus terjalin Taiwan dan Indonesia, khususnya dalam menyampaikan informasi mengenai kemajuan sektor teknologi.
Kepemimpinan Taiwan dalam industri semikonduktor dan kecerdasan artifisial (AI) berjalan beriringan dengan pertumbuhan kapitalisasi pasar sahamnya. Taiwan dikenal sebagai salah satu pusat utama produksi chip dunia, sementara pengembangan teknologi AI terus memperkuat perhatian terhadap perusahaan dan ekosistem teknologi di negara tersebut. Perkembangan pada dua sektor ini tercermin dalam peningkatan nilai pasar saham Taiwan.
Menurut Bruce Hung, Taiwan tidak hanya mampu bertahan menghadapi perubahan dan tekanan dalam industri teknologi, tetapi juga berkembang pesat. Pernyataan tersebut menggambarkan posisi Taiwan yang tetap kuat di tengah persaingan global pada sektor semikonduktor dan AI. Kinerja perusahaan teknologi serta peran Taiwan dalam rantai pasok chip menjadi bagian dari gambaran mengenai perkembangan pasar modalnya.
Total kapitalisasi pasar saham Taiwan disebut telah mencapai US$3,5 triliun, atau sekitar Rp94.938 triliun. Nilai tersebut menempatkan Taiwan sebagai pemilik pasar saham terbesar keempat di dunia. Posisi ini disebut telah melampaui India dan Inggris, dua negara yang selama ini juga memiliki pasar modal besar serta perusahaan dengan valuasi signifikan.
Data kapitalisasi tersebut menunjukkan skala pasar saham Taiwan dalam perbandingan global. Angka US$3,5 triliun mencakup keseluruhan nilai perusahaan yang tercatat di bursa Taiwan, bukan hanya perusahaan yang bergerak dalam bidang semikonduktor atau AI. Dengan demikian, kepemimpinan Taiwan pada industri chip dan pertumbuhan teknologi AI hadir bersamaan dengan meningkatnya nilai keseluruhan pasar sahamnya.
Klaim Bruce Hung menekankan bahwa perkembangan Taiwan berlangsung melampaui sekadar kemampuan untuk mempertahankan posisi yang sudah ada. Taiwan disebut mampu memperluas perannya sekaligus mencatat pertumbuhan pesat. Dalam konteks pasar modal, capaian kapitalisasi US$3,5 triliun dan peringkat keempat dunia menjadi ukuran yang digunakan untuk menggambarkan posisi Taiwan saat ini.
Taiwan mencatat pencapaian penting dalam membangun sistem layanan kesehatan yang komprehensif, dengan cakupan yang tidak hanya ditujukan bagi warga negaranya. Dalam penjelasan Hung, sistem layanan kesehatan nasional Taiwan juga mencakup sekitar 400 ribu pekerja migran Indonesia yang tinggal dan bekerja di negara tersebut. Hal ini menunjukkan perhatian Taiwan terhadap kebutuhan warga Indonesia yang menjadi bagian dari lingkungan sosial dan dunia kerja di Taiwan.
Cakupan tersebut menempatkan pekerja migran Indonesia sebagai salah satu kelompok yang turut memperoleh perlindungan melalui sistem kesehatan nasional Taiwan. Bagi mereka yang bekerja dan menetap jauh dari negara asal, keberadaan sistem layanan kesehatan yang mencakup dirinya menjadi aspek penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dukungan ini juga memperlihatkan bahwa layanan kesehatan Taiwan memiliki jangkauan yang lebih luas daripada sekadar melayani penduduk lokal.
Hung menyampaikan bahwa cakupan sistem tersebut memberikan ketenangan yang lebih besar bagi warga Indonesia. Mereka tidak perlu terus-menerus merasa khawatir terhadap biaya pengobatan ketika menghadapi gangguan kesehatan. Rasa aman itu dapat membantu pekerja migran Indonesia menjalani aktivitasnya dengan lebih tenang, karena kebutuhan untuk memperoleh pertolongan saat sakit tidak dipandang sebagai persoalan yang harus dihadapi sendirian.
Selain mengurangi kekhawatiran mengenai biaya pengobatan, cakupan ini juga membuat warga Indonesia tidak perlu ragu untuk mendatangi dokter ketika mengalami sakit. Keberanian mencari bantuan medis menjadi lebih besar ketika mereka mengetahui bahwa sistem layanan kesehatan nasional Taiwan turut mencakup kelompok mereka. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dukungan Taiwan kepada pekerja migran Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kesempatan bekerja, tetapi juga dengan perhatian terhadap rasa aman dan kesejahteraan mereka selama tinggal di negara tersebut.
Hubungan Taiwan dan Indonesia terus berkembang melalui kerja sama yang mencakup perdagangan, investasi, pendidikan, serta pertukaran antarmasyarakat. Perkembangan ini menunjukkan bahwa kedekatan kedua pihak tidak hanya dibangun melalui hubungan ekonomi, tetapi juga melalui interaksi langsung yang memperkuat pemahaman dan kepercayaan. Berbagai bentuk kolaborasi tersebut membuka peluang baru bagi masyarakat, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan pemerintah untuk memperluas kemitraan secara berkelanjutan.
Bruce Hung menyampaikan penghargaan kepada Presiden Prabowo Subianto, pemerintah, dan rakyat Indonesia atas dukungan berkelanjutan terhadap hubungan Taiwan dan Indonesia. Menurutnya, hubungan yang terjalin selama ini memiliki dasar yang kuat dan terus mengalami pengembangan di berbagai bidang. Lebih dari 400 ribu pekerja migran Indonesia serta sekitar 18 ribu pelajar Indonesia kini menjadikan Taiwan sebagai rumah selama menjalani pekerjaan atau pendidikan. Kehadiran mereka turut mempererat hubungan antarmasyarakat, dan masyarakat Taiwan menganggap para pekerja serta pelajar Indonesia tersebut sebagai bagian dari keluarga.
Hubungan antarmasyarakat juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui kuliner dan kegiatan sosial. Dalam kesempatan tersebut, Hung mengungkapkan kesukaannya terhadap restoran Indonesia yang tersedia di Taiwan. Ia juga menyebutkan bahwa dalam perayaan hari nasional tersebut, terdapat banyak makanan Taiwan yang dapat dicicipi oleh para tamu. Ragam hidangan itu menjadi bagian dari suasana perayaan sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner Taiwan kepada pengunjung. Pertemuan semacam ini memperlihatkan bahwa hubungan kedua pihak dibangun bukan hanya melalui agenda resmi, melainkan juga melalui pengalaman bersama yang lebih dekat dan terbuka.

