KOTA MALANG, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Profauna Indonesia Foundation mendorong pengembangan kegiatan birdwatching sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan burung dan habitatnya. Kegiatan tersebut dirancang untuk memperkenalkan kekayaan satwa liar secara langsung, sekaligus menekan praktik penangkapan burung di kawasan hutan lereng Gunung Arjuno, Kabupaten Malang.
Melalui pengamatan di alam, peserta diajak mengenali berbagai jenis burung, mendengarkan suaranya, serta mempelajari perilaku alami yang ditunjukkan di habitatnya. Pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa burung bukan sekadar hewan peliharaan atau komoditas perdagangan, melainkan bagian penting dari ekosistem. Keberadaan burung membantu penyebaran biji, penyerbukan, dan pengendalian populasi serangga, sehingga kelestariannya berkaitan erat dengan kesehatan hutan.
Aktivitas tersebut memadukan unsur petualangan, edukasi, dan konservasi. Peserta menelusuri jalur hutan dengan pendampingan, menggunakan peralatan pengamatan secara bertanggung jawab, serta menjaga jarak agar tidak mengganggu satwa. Dengan cara ini, wisata minat khusus dapat memberikan pengalaman yang menarik tanpa mengorbankan kondisi alami kawasan. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan mendorong peserta untuk menolak kepemilikan burung hasil tangkapan dan mendukung perlindungan habitat.
Ekolog Profauna Indonesia Foundation, Rosek Nursahid, menjelaskan bahwa program pelestarian hutan dan satwa liar di kawasan lereng Arjuno telah dimulai sejak 2021. Upaya tersebut dijalankan melalui pendekatan perhutanan sosial serta pengembangan wisata khusus birdwatching. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam pengelolaan kawasan, karena manfaat ekonomi dari kegiatan wisata dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab konservasi.
Dengan melibatkan warga, pengelola, dan pengunjung, pengamatan burung diharapkan berkembang menjadi kegiatan yang berkelanjutan. Masyarakat memperoleh alternatif mata pencaharian, sementara hutan tetap dipertahankan sebagai ruang hidup berbagai satwa liar. Pada akhirnya, pengalaman melihat burung di habitat aslinya dapat membangun kepedulian yang lebih kuat dan mengurangi permintaan terhadap burung yang diperoleh melalui penangkapan.
Pelaksanaan birdwatching di hutan lereng Gunung Arjuno dilakukan dengan mengajak peserta menelusuri jalur tracking sepanjang enam melalui kawasan yang memiliki keragaman vegetasi. Rute tersebut melewati bagian hutan dengan pepohonan tinggi, semak, tumbuhan bawah, serta area yang lebih terbuka. Perubahan kondisi vegetasi menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengenali habitat berbagai jenis burung dan memahami hubungan keberadaan satwa dengan kondisi lingkungan sekitarnya.
Sebelum perjalanan dimulai, peserta memperoleh penjelasan mengenai tata tertib pengamatan. Mereka diarahkan untuk berjalan dalam kelompok, menjaga suara tetap rendah, tidak mengejar burung, dan tidak merusak tumbuhan selama berada di jalur. Pendekatan ini membuat kegiatan berlangsung lebih tertib sekaligus mengurangi gangguan terhadap satwa. Peserta juga dikenalkan pada cara mengidentifikasi burung melalui bentuk tubuh, warna bulu, perilaku, suara, serta lokasi kemunculannya.
Untuk membantu pengamatan, peserta menggunakan teropong binokuler yang memungkinkan burung dilihat dari jarak aman tanpa harus didekati. Sebagian peserta juga memanfaatkan kamera khusus untuk mengabadikan burung dan mendokumentasikan temuan selama perjalanan. Peralatan tersebut digunakan secara bergantian dan diarahkan dengan hati-hati, terutama ketika burung berada di dahan atau bergerak cepat. Dokumentasi dapat menjadi bahan pembelajaran sekaligus catatan keanekaragaman hayati di kawasan lereng Arjuno.
Minat masyarakat terhadap kegiatan ini terlihat dari jumlah peserta yang rata-rata mencapai sekitar 15 orang setiap bulan. Pesertanya berasal dari Malang, Surabaya, Sidoarjo, Tangerang, dan Jakarta, sehingga kegiatan tersebut mempertemukan pengunjung dengan latar belakang wilayah yang beragam. Rentang usia peserta juga luas, yakni dari tujuh sampai 72 tahun. Keberagaman ini menunjukkan bahwa pengamatan burung dapat diikuti oleh berbagai kelompok usia dan menjadi sarana edukasi lingkungan yang terbuka bagi masyarakat umum.
Pemetaan yang dilakukan tim Profauna di kawasan hutan lereng Gunung Arjuno mencatat sedikitnya 55 jenis burung. Data tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pengamatan dapat menjadi sarana untuk mengenali keragaman burung yang masih dijumpai di habitat alaminya. Pencatatan dilakukan dengan memperhatikan jenis yang terlihat atau terdengar selama penelusuran, kemudian menghubungkannya dengan identitas spesies berdasarkan ciri dan nama ilmiah yang digunakan dalam bahan sumber.
Sejumlah burung yang tercantum dalam hasil pemetaan memiliki karakteristik dan kelompok yang beragam. Di antaranya adalah elang Jawa (Nisaetus bartelsi) dan elang hitam (Ictinaetus malaiensis), yang termasuk burung pemangsa. Tim juga mencatat kadalan birah (Phaenicophaeus), paok pancawarna (Hydrornis guajanus), serta uncal loreng (Macropygia unchall). Jenis lain yang teridentifikasi ialah caladi tilik (Picoides moluccensis) dan takur tohtor (Psilopogon armillaris). Daftar tersebut memperlihatkan bahwa pengamatan di satu bentang hutan dapat menemukan burung dengan bentuk, perilaku, dan kelompok yang berbeda.
Temuan 55 jenis burung itu menempatkan kegiatan birdwatching sebagai pengalaman langsung untuk mempelajari keanekaragaman satwa di lereng Arjuno. Pengamat dapat berlatih membedakan suara, bentuk tubuh, warna bulu, serta kebiasaan setiap jenis ketika berada di lingkungan alaminya. Proses tersebut juga membantu memperkenalkan nama lokal dan nama ilmiah burung kepada masyarakat secara lebih dekat. Dengan pencatatan yang dilakukan secara teratur, pengamatan burung dapat menjadi cara untuk mendokumentasikan jenis-jenis yang ditemukan tanpa memisahkannya dari habitat tempat satwa tersebut diamati. Informasi hasil pemetaan selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pengenalan mengenai kekayaan burung di kawasan lereng Gunung Arjuno, sekaligus mendukung kegiatan edukasi yang mendorong masyarakat mengamati satwa secara bertanggung jawab.
Pengembangan birdwatching di lereng Gunung Arjuno dirancang dengan melibatkan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Keterlibatan warga dipandang penting karena mereka memiliki kedekatan dengan lingkungan setempat dan dapat mendukung pelaksanaan kegiatan secara langsung. Rosek menyampaikan bahwa masyarakat akan dilibatkan dalam berbagai kebutuhan pendukung, termasuk penyediaan makanan bagi peserta birdwatching serta survei lokasi yang sesuai untuk kegiatan pengamatan burung.
Survei bersama warga diharapkan membantu menentukan titik pengamatan yang aman, menarik, dan tetap memperhatikan kondisi kawasan hutan. Pengetahuan masyarakat mengenai akses, keadaan medan, serta lokasi yang sering menjadi habitat burung dapat menjadi pertimbangan dalam menyiapkan rute kegiatan. Dengan demikian, aktivitas birdwatching dapat berlangsung secara tertib tanpa mengabaikan perlindungan terhadap lingkungan dan satwa yang diamati.
Masyarakat sekitar juga menyampaikan keinginan untuk menyediakan homestay bagi tamu yang datang dari daerah jauh. Fasilitas tersebut memungkinkan peserta menginap lebih dekat dengan lokasi pengamatan, terutama bagi mereka yang perlu memulai kegiatan sejak pagi. Kehadiran homestay sekaligus dapat membuka peluang keterlibatan ekonomi warga dalam pengembangan wisata berbasis alam, melalui penyediaan tempat tinggal dan kebutuhan makan bagi pengunjung.
Pelibatan tersebut diharapkan memperkuat pengawasan di sekitar hutan dan membantu meminimalkan kegiatan berburu burung di lereng Gunung Arjuno. Kehadiran warga dalam pengelolaan kegiatan dapat membuat kondisi kawasan lebih terpantau, sekaligus mendorong pemanfaatan hutan secara bertanggung jawab. Upaya ini berjalan berdampingan dengan program rehabilitasi hutan lindung Profauna yang dilaksanakan bersama kelompok tani hutan dan Perhutani.

