JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Sebuah video yang mengatasnamakan Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas Djiwandono beredar di Facebook dan menarik perhatian publik. Video tersebut diunggah oleh sebuah akun Facebook pada 30 September 2026. Dalam rekaman itu, sosok yang ditampilkan seolah-olah menyampaikan pengumuman mengenai bantuan dana hibah bagi masyarakat Indonesia. Namun, isi video tersebut masih berupa klaim yang sedang diperiksa dan belum dapat dinyatakan sebagai informasi yang terbukti benar.
Pesan yang disampaikan dalam video mengajak masyarakat untuk mendaftarkan diri sebagai penerima bantuan. Calon pendaftar diminta menyebutkan usia serta asal daerah masing-masing. Video itu juga memuat klaim bahwa dana hibah dapat dicairkan pada hari yang sama setelah proses pendaftaran dilakukan. Pernyataan tersebut disampaikan dengan gaya pengumuman resmi sehingga berpotensi membuat penonton menganggapnya sebagai program pemerintah atau kebijakan lembaga negara.
Selain narasi lisan, terdapat teks yang muncul di layar. Teks tersebut menyebutkan adanya bantuan bagi warga Indonesia berusia 27 hingga 80 tahun. Video juga menampilkan nomor WhatsApp untuk keperluan pendaftaran atau komunikasi lebih lanjut, tetapi nomor itu ditulis dalam format tersamarkan, dengan sebagian digit tidak terlihat. Keberadaan ajakan mendaftar melalui nomor pribadi atau saluran yang tidak jelas perlu diperhatikan secara hati-hati, terutama apabila disertai permintaan data pribadi.
Sampai tahap ini, informasi dalam video tidak boleh diperlakukan sebagai pengumuman resmi. Identitas tokoh, konteks rekaman, sumber program bantuan, serta keaslian pesan masih memerlukan pemeriksaan melalui kanal resmi Bank Indonesia atau instansi pemerintah terkait. Masyarakat sebaiknya tidak langsung menghubungi nomor yang tercantum, menyebarkan video, atau memberikan data sensitif sebelum memperoleh konfirmasi. Penelusuran lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah video tersebut merupakan informasi sah, hasil manipulasi, atau konten berbasis kecerdasan buatan yang menggunakan nama dan tampilan tokoh publik tanpa izin.
Penelusuran terhadap video dilakukan dengan memanfaatkan perangkat pendeteksi kecerdasan buatan yang tersedia melalui situs Hive Moderation. Pemeriksaan ini digunakan untuk melihat kemungkinan adanya keterlibatan teknologi AI pada dua unsur utama, yaitu gambar bergerak dan suara. Video yang diperiksa terlebih dahulu dimasukkan ke dalam layanan tersebut, kemudian sistem menganalisis pola visual serta karakteristik audio yang terdapat di dalamnya. Metode ini menjadi salah satu langkah pemeriksaan teknis untuk menilai keaslian materi digital yang beredar.
Berdasarkan hasil analisis Hive Moderation, unsur visual dalam video memiliki kemungkinan sebesar 68,5 persen dibuat menggunakan AI. Angka tersebut menunjukkan adanya indikasi pada tampilan gambar yang dinilai menyerupai karakteristik konten hasil generasi atau manipulasi berbasis kecerdasan buatan. Pemeriksaan visual tidak dengan sendirinya menjelaskan bagian tertentu yang mengalami perubahan, tetapi memberikan ukuran probabilitas berdasarkan pola yang dikenali oleh sistem pendeteksi. Karena itu, hasil tersebut perlu dibaca sebagai temuan analitis, bukan sebagai penetapan tunggal mengenai proses pembuatan video.
Pada unsur audio, perangkat yang sama menunjukkan kemungkinan sebesar 99,3 persen bahwa suara dalam video dihasilkan oleh AI. Nilai ini merupakan indikasi yang sangat tinggi menurut analisis sistem dan menjadi aspek penting dalam pemeriksaan terhadap keaslian rekaman. Temuan pada visual dan audio tersebut relevan untuk menguji klaim bahwa Thomas Djiwandono mengumumkan bantuan dana hibah melalui video itu. Namun, hasil pendeteksian hanya menerangkan kemungkinan keterlibatan AI pada materi yang dianalisis. Temuan ini tidak memberikan penjelasan lebih jauh mengenai siapa pembuatnya, maksud pembuatannya, ataupun kebenaran informasi yang disampaikan di dalam video. Penilaian terhadap klaim tersebut tetap memerlukan pemeriksaan tambahan terhadap sumber asli, konteks publikasi, serta bukti pendukung lainnya.
Penelusuran lanjutan menggunakan Google Image menemukan kecocokan cuplikan dalam video yang beredar dan dokumentasi kegiatan Thomas Djiwandono pada acara Indonesia Data and Economic (IDE) Katadata 2025: Data for Growth. Acara tersebut berlangsung di Jakarta pada Selasa, 18 Februari 2025. Kecocokan visual ini menunjukkan bahwa potongan video yang digunakan memang menampilkan Thomas, tetapi konteks penyampaiannya berbeda dari klaim yang menyertai unggahan di media sosial.
Dalam rekaman acara IDE Katadata 2025, Thomas tidak sedang mengumumkan program bantuan dana hibah kepada masyarakat. Pembahasan yang disampaikannya berkaitan dengan ketahanan ekonomi Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain serta kondisi kelompok kelas menengah. Karena video telah dipotong dan disebarkan tanpa keterangan acara secara utuh, isi pernyataan tersebut dapat disalahartikan sebagai pengumuman kebijakan atau penyaluran bantuan.
Thomas menjelaskan bahwa proporsi penduduk kelas menengah Indonesia mengalami penurunan, dari 17,24 persen pada 2014 menjadi 17,13 persen pada 2024. Data tersebut disampaikan sebagai bagian dari pembahasan mengenai tantangan perekonomian dan pentingnya memperkuat daya beli serta kapasitas kelompok kelas menengah. Tidak terdapat pernyataan dalam konteks asli video yang mengarah pada pemberian hibah sebagaimana disebutkan dalam narasi yang beredar.
Meski demikian, Thomas menyampaikan optimisme bahwa jumlah kelompok kelas menengah dapat kembali tumbuh melalui berbagai kebijakan pemerintah. Ia menyebut target agar kelompok tersebut mencakup 70 persen populasi Indonesia pada 2045. Sasaran itu dikaitkan dengan upaya mewujudkan visi Indonesia sebagai negara maju, termasuk pencapaian pendapatan per kapita sebesar US$30.300. Dengan demikian, hasil penelusuran menunjukkan bahwa cuplikan video berasal dari forum diskusi ekonomi, bukan pengumuman bantuan dana hibah.
Informasi pada situs Kementerian Keuangan memberikan konteks tambahan mengenai materi yang disampaikan Thomas Djiwandono dalam acara Katadata. Pembahasan tersebut berkaitan dengan arah program unggulan pemerintah, bukan pengumuman mengenai pemberian dana hibah kepada masyarakat. Materi yang disampaikan menempatkan penguatan daya saing dan peningkatan kesejahteraan sebagai fokus utama kebijakan.
Dalam uraian tersebut, sejumlah sektor strategis disebut sebagai bagian dari upaya mencapai tujuan itu. Sektor sumber daya manusia menjadi salah satu perhatian, termasuk penguatan kapasitas masyarakat agar mampu beradaptasi dan berkontribusi terhadap pembangunan. Selain itu, perlindungan sosial juga dibahas sebagai unsur penting untuk menjaga kesejahteraan, terutama melalui kebijakan yang mendukung kelompok masyarakat yang membutuhkan.
Ruang lingkup lainnya mencakup ketahanan pangan dan energi. Kedua sektor ini berkaitan dengan kemampuan negara menjaga ketersediaan kebutuhan dasar serta mendukung keberlanjutan kegiatan ekonomi. Pembahasan juga mencakup stabilitas ketahanan dan pertahanan, yang menjadi bagian dari agenda pemerintah dalam menjaga keamanan, ketahanan nasional, dan kesinambungan pembangunan.
Konteks tersebut berbeda dari narasi yang muncul dalam video beredar. Penelusuran terhadap materi sumber menunjukkan bahwa video tersebut menggunakan cuplikan dari kegiatan lama, sehingga pernyataan yang ditampilkan tidak dapat langsung dikaitkan dengan klaim tentang pengumuman bantuan dana hibah. Analisis lebih lanjut juga menunjukkan adanya indikasi bahwa unsur visual dan audio dalam video telah dibuat atau dimodifikasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
Dengan demikian, klaim bahwa Thomas Djiwandono mengumumkan bantuan dana hibah tidak sesuai dengan konteks sumber video dan informasi resmi yang tersedia. Cuplikan kegiatan lama serta indikasi penggunaan konten visual dan audio buatan AI membuat video tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa pengumuman tersebut benar-benar disampaikan dalam acara yang dimaksud.

