KOTA SOLO, JAWA TENGAH — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 October 2026, Sejumlah informasi palsu mengenai peristiwa di Solo sempat beredar dan menjadi viral di tengah masyarakat. Informasi tersebut muncul melalui berbagai saluran komunikasi digital, terutama media sosial dan aplikasi percakapan. Penyebarannya membuat sejumlah klaim tentang Solo beredar dalam bentuk video maupun artikel, dengan narasi yang mengaitkannya pada peristiwa tertentu. Materi-materi itu kemudian menjadi bagian dari percakapan yang berlangsung di ruang digital.
Rangkaian informasi yang beredar tersebut mencakup tiga klaim berbeda. Klaim pertama berupa sebuah video yang disebut menunjukkan Solo sedang dihantam rudal. Video itu dibagikan dengan keterangan yang mengarahkan penonton pada gambaran bahwa peristiwa tersebut terjadi di Solo. Klaim kedua muncul dalam bentuk artikel yang membahas demonstrasi warga Solo terkait Jokowi. Artikel tersebut beredar dengan narasi mengenai aksi warga Solo dan keterkaitannya dengan Jokowi, sehingga menjadi salah satu informasi yang tersebar di masyarakat.
Klaim ketiga berkaitan dengan sebuah video pembubaran pertunjukan band. Video itu dikaitkan dengan sikap kritis, melalui narasi yang menghubungkan pembubaran pertunjukan tersebut dengan pandangan atau sikap yang dianggap kritis. Ketiga informasi itu beredar melalui media sosial dan aplikasi percakapan dalam bentuk yang berbeda, yakni video dan artikel. Bagian berikutnya membahas satu per satu video yang disebut memperlihatkan Solo dihantam rudal, artikel tentang demonstrasi warga Solo terkait Jokowi, serta video pembubaran pertunjukan band yang dikaitkan dengan sikap kritis.
Sebuah video yang diklaim memperlihatkan Kota Solo dihantam rudal secara tiba-tiba sempat beredar di media sosial. Video tersebut diunggah di Facebook pada 2 Oktober 2026. Dalam rekaman, terlihat kepulan asap hitam membubung di belakang sebuah gedung, sementara sejumlah orang tampak berlarian untuk menyelamatkan diri. Visual tersebut kemudian digunakan untuk membangun kesan bahwa telah terjadi serangan besar di wilayah Kota Solo.
Unggahan itu disertai narasi yang menyebut Indonesia sedang berada dalam ancaman. Narasi tersebut mengklaim bahwa serangan rudal mendadak terjadi di Solo dan menimbulkan kepanikan masyarakat. Selain itu, unggahan menyatakan bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui asal rudal yang disebut menyerang kawasan tersebut. Penyertaan keterangan itu membuat video tampak seolah-olah merekam peristiwa nyata yang sedang berlangsung.
Namun, pemeriksaan fakta terhadap video dan narasi yang menyertainya menyatakan bahwa klaim tersebut tidak benar. Rekaman yang menampilkan asap hitam dan orang-orang berlarian tidak dapat dijadikan bukti bahwa Kota Solo telah dihantam rudal. Tidak terdapat dasar yang membenarkan narasi mengenai ancaman terhadap Indonesia, serangan rudal mendadak di Solo, ataupun penyelidikan TNI dan Polri terkait asal rudal sebagaimana disebutkan dalam unggahan. Dengan demikian, video yang mengklaim Kota Solo dihantam rudal secara tiba-tiba dinyatakan sebagai hoaks.
Klaim mengenai masyarakat Solo yang disebut berdemonstrasi untuk menolak Joko Widodo sebagai raja beredar di media sosial. Unggahan tersebut telah muncul sejak pekan sebelumnya dan kembali dibagikan oleh salah satu akun Facebook pada 3 Februari 2026. Narasi yang menyertainya membingkai informasi seolah-olah warga Solo secara terbuka menolak Jokowi serta menyatakan bahwa terdapat sosok lain yang lebih layak disebut sebagai raja mereka.
Unggahan itu menampilkan tangkapan layar sebuah artikel. Dalam tangkapan layar tersebut, tercantum klaim bahwa warga Solo menyatakan raja mereka adalah Gusti Purboyo, bukan Jokowi. Artikel yang ditampilkan juga memuat pernyataan bahwa Jokowi bukan keturunan darah biru. Penggunaan judul, gambar, dan kutipan dalam unggahan tersebut membuat informasi tampak seperti laporan mengenai demonstrasi yang benar-benar terjadi di Solo.
Namun, hasil pemeriksaan fakta menyatakan bahwa informasi tersebut tidak benar. Tidak terdapat dasar yang dapat membuktikan bahwa masyarakat Solo menggelar demonstrasi untuk menolak Jokowi sebagai raja atau menetapkan Gusti Purboyo sebagai raja mereka melalui aksi tersebut. Tangkapan layar yang beredar juga tidak dapat dijadikan bukti bahwa peristiwa dalam narasi benar-benar berlangsung. Dengan demikian, unggahan pada 3 Februari 2026 itu menyebarkan klaim palsu dengan mengandalkan tampilan artikel dan potongan pernyataan yang menyesatkan. Publik perlu memeriksa sumber asli, tanggal penerbitan, serta bukti pendukung sebelum mempercayai atau membagikan informasi serupa.
Pemeriksaan fakta terhadap sebuah video yang beredar di media sosial menemukan adanya klaim keliru mengenai pembubaran paksa pertunjukan band di Solo. Unggahan tersebut muncul di Facebook pada 11 November 2023. Video itu dikaitkan dengan narasi bahwa sebuah band dibubarkan karena menyampaikan sikap yang terlalu kritis.
Secara faktual, video memperlihatkan sejumlah orang berjalan di atas panggung di hadapan penonton. Setelah itu, mereka membawa seorang pemain alat musik yang sedang berada di atas panggung. Rekaman tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pertunjukan dihentikan karena isi penampilan yang kritis.
Pada video terdapat tulisan yang mengaitkan peristiwa tersebut dengan band Asap Kota Solo. Tulisan itu juga menyebut penampilan band tersebut sebagai pembuka Dewa 19 dan mencantumkan keterangan bahwa pertunjukan dihentikan secara paksa. Namun, rangkaian informasi dalam video dan unggahan tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa pembubaran benar-benar terjadi karena band itu terlalu kritis.
Keterangan unggahan menyampaikan tuduhan adanya upaya membungkam sikap kritis. Narasi tersebut bahkan menggunakan istilah “neo-Orde Baru” untuk menggambarkan dugaan pembungkaman. Meski demikian, pemeriksaan fakta menyatakan bahwa klaim mengenai pembubaran pertunjukan karena terlalu kritis adalah tidak benar. Video yang beredar hanya memperlihatkan tindakan sejumlah orang di atas panggung dan pemindahan pemain alat musik, sementara penyebab kejadian tidak dapat dipastikan berdasarkan materi tersebut.
Dengan demikian, informasi yang menghubungkan rekaman itu dengan pembubaran paksa akibat kritik politik atau sikap kritis merupakan klaim yang menyesatkan. Penilaian tersebut penting agar potongan video dan teks yang menyertainya tidak langsung dipahami sebagai bukti atas tuduhan yang belum terbukti.

