PENDANGKALAN MUARA AIR KANTUNG KIAN PARAH Nelayan & LIN Bangka Desak Aksi Nyata

BANGKA – INVESTIGASI KHUSUS

Kondisi Muara Sungai Air Kantung di Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kini berada di titik kritis. Pendangkalan yang semakin parah tidak hanya menghambat aktivitas nelayan, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa di lapangan.

 

 

Ironisnya, di tengah situasi yang memburuk, aktivitas penambangan di sekitar alur sungai justru semakin tak terkendali. Hal ini memicu kekhawatiran luas, terutama dari masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada akses muara tersebut.

Lembaga Investigasi Negara (LIN) menilai kondisi ini sebagai bentuk kelalaian serius yang tidak bisa lagi dibiarkan tanpa tindakan nyata.

APARAT DIMINTA SEGERA BERTINDAK

Desakan keras kini diarahkan kepada seluruh pihak terkait, mulai dari pemerintah daerah, instansi teknis, hingga aparat penegak hukum.

Langkah cepat dan konkret dinilai sudah sangat mendesak. Jika pembiaran terus berlangsung, bukan hanya kerugian ekonomi yang meningkat, tetapi juga potensi korban jiwa yang semakin nyata.

KETUM LIN: JANGAN KENDOR

Ketua Umum DPP LIN, Robi Irawan Wiratmoko, mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh jajaran organisasi:

“Jangan kendor. Kawal terus, kumpulkan data, dan laporkan jika ada indikasi penyimpangan. Ini menyangkut hajat hidup nelayan.”

Instruksi ini menegaskan bahwa pengawalan terhadap persoalan Muara Air Kantung kini memasuki tahap yang lebih serius dan terstruktur.

EKSAVATOR KEMBALI, POLA GAGAL DIULANG

Di lapangan, ekskavator kembali diturunkan untuk melakukan pengerukan. Namun metode ini bukan hal baru.

Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa pengerukan dengan ekskavator darat tidak menyelesaikan masalah secara menyeluruh, melainkan hanya memindahkan material pasir dari satu titik ke titik lain.

Akibatnya, endapan baru terbentuk dan justru mempersempit alur muara.

Bagi nelayan, kondisi ini bukan solusi—melainkan pengulangan kegagalan.

NELAYAN DI AMBANG RISIKO MAUT

Setiap musim gelombang tinggi, Muara Air Kantung berubah menjadi kawasan berbahaya.

Kapal-kapal nelayan kerap kandas, mengalami kerusakan, bahkan terancam hancur saat mencoba melintas.

Salah satu nelayan menyampaikan kekhawatirannya:

“Ini bukan lagi soal ekonomi, tapi soal keselamatan nyawa.”

IRONI DI TANAH KAYA TIMAH

Kabupaten Bangka dikenal sebagai wilayah kaya sumber daya timah. Namun di balik kekayaan tersebut, persoalan mendasar seperti akses muara bagi nelayan justru terabaikan.

Selama puluhan tahun eksploitasi berlangsung, solusi nyata terhadap dampak lingkungan dinilai minim.

Situasi ini memunculkan ironi besar antara kekayaan alam dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

PROYEK BARU, CARA LAMA

Informasi terbaru menyebutkan adanya keterlibatan pihak baru dalam proyek pengerukan muara.

Namun metode yang digunakan masih sama, yakni ekskavator darat dengan pola manual.

LIN dan nelayan menilai pendekatan ini tidak berbasis solusi jangka panjang dan berpotensi kembali gagal.

SOLUSI JELAS: KAPAL ISAP

Nelayan bersama LIN menegaskan bahwa solusi efektif adalah penggunaan kapal isap (MGI).

Metode ini sebelumnya terbukti mampu membuka alur muara secara optimal dan lebih berkelanjutan dibanding pengerukan darat.

Pendekatan ini dinilai sebagai langkah teknis yang lebih tepat dan berbasis hasil.

DPP LIN SIAP LAPOR KE PUSAT

Sebagai langkah lanjutan, Dewan Pimpinan Pusat LIN menyatakan siap membawa persoalan ini ke tingkat nasional.

Laporan resmi akan segera disampaikan kepada pemerintah pusat dan instansi terkait apabila tidak ada tindakan nyata dari pihak berwenang di daerah dalam waktu dekat.

INSTRUKSI TEGAS: KAWAL DAN LAPORKAN

LIN mengeluarkan instruksi kepada seluruh jajaran untuk:

  • Melakukan pengawalan langsung di lapangan
  • Mendokumentasikan seluruh aktivitas pengerukan
  • Menyusun laporan resmi jika ditemukan indikasi penyimpangan atau ketidakefektifan proyek

“Kalau ada dugaan penyimpangan, laporkan. Jangan diam,” tegas Ketua Umum LIN.

KESIMPULAN: SAATNYA BERTINDAK

Pendangkalan Muara Air Kantung bukan sekadar persoalan teknis, melainkan ujian nyata keberpihakan terhadap masyarakat kecil.

Aparat tidak boleh lagi diam.
Pemerintah tidak boleh lagi menunda.

Tekanan publik kini semakin menguat:

Bertindak sekarang, atau bersiap menghadapi laporan ke pusat.

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *