JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 October 2026, Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan menggelar pelatihan diversifikasi olahan hasil pertanian bagi warga. Kegiatan tersebut berlangsung di Agro Edukasi Wisata Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Melalui pelatihan ini, warga diarahkan untuk mengenali potensi komoditas pangan lokal dan mengolahnya menjadi berbagai produk pangan yang memiliki nilai ekonomi.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan pangan lokal melalui pengolahan yang lebih beragam. Komoditas hasil pertanian tidak hanya dipandang sebagai bahan pangan untuk konsumsi sehari-hari, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi olahan yang bernilai ekonomi. Warga memperoleh ruang untuk mempelajari proses diversifikasi secara langsung dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Suku Dinas KPKP Jakarta Selatan.
Kepala Suku Dinas KPKP Jakarta Selatan, Ridho Sosro, mengatakan bahwa kegiatan itu ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, kreativitas, dan kemandirian ekonomi masyarakat melalui pengolahan pangan lokal. Menurutnya, pemahaman mengenai cara mengolah hasil pertanian menjadi produk yang beragam menjadi bagian penting dalam pelatihan tersebut. Dengan demikian, kegiatan di Agro Edukasi Wisata Ragunan berfokus pada penguatan kemampuan warga dalam mengembangkan olahan pangan lokal sebagai sumber pendapatan.
Pelatihan olahan pangan lokal tersebut diikuti oleh 105 peserta dari berbagai unsur masyarakat. Peserta berasal dari kalangan binaan Jakpreneur, anggota TP PKK, penggiat urban farming, serta kelompok yang memiliki perhatian terhadap isu gizi. Keberagaman latar belakang ini menunjukkan bahwa kegiatan pengolahan pangan tidak hanya relevan bagi pelaku usaha, tetapi juga bagi kelompok masyarakat yang berperan dalam pemberdayaan keluarga, pemanfaatan lahan, dan peningkatan kepedulian terhadap konsumsi pangan.
Selama pelatihan, peserta memperoleh materi dalam dua bentuk, yaitu teori dan praktik langsung. Materi teori memberikan pemahaman mengenai pengolahan bahan pangan lokal, sedangkan sesi praktik digunakan untuk menerapkan pengetahuan tersebut melalui pembuatan berbagai jenis kue dan produk olahan. Kegiatan ini diarahkan pada pengembangan pangan bernilai tambah tinggi, sehingga bahan yang semula tersedia dalam bentuk hasil pertanian dapat diolah menjadi produk yang lebih beragam dan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai usaha.
Bahan utama yang digunakan dalam pembelajaran meliputi nanas, ubi ungu, dan jagung manis. Ketiga bahan tersebut diolah menjadi aneka produk melalui tahapan praktik yang diikuti peserta secara langsung. Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga dapat memahami proses pembuatan secara lebih konkret, mulai dari pemanfaatan bahan hingga menghasilkan olahan pangan yang dapat disajikan dan dikembangkan.
Seluruh materi dan praktik dalam pelatihan dipandu oleh Francisca Patricia Kusumaratna, pemilik Warung Mami Sisca. Pendampingan ini memberikan kesempatan kepada 105 peserta untuk mengikuti proses belajar secara terarah saat membuat berbagai jenis kue dan produk olahan berbahan nanas, ubi ungu, serta jagung manis. Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bersama bagi peserta dari berbagai unsur untuk mengenal cara mengolah pangan lokal menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Penyerahan bantuan sarana pengolahan menjadi bagian penting dari komitmen Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (Sudin KPKP) Jakarta Selatan dalam mendukung keberlanjutan usaha warga. Bantuan tersebut diberikan kepada peserta pelatihan sebagai tindak lanjut dari pengetahuan yang telah diperoleh selama kegiatan. Dengan tersedianya peralatan yang sesuai, peserta memiliki kesempatan lebih besar untuk mempraktikkan teknik pengolahan pangan lokal secara mandiri, teratur, dan berkelanjutan di rumah masing-masing.
Sarana yang disalurkan meliputi oven listrik, loyang, dan timbangan digital. Ketiga peralatan ini memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam proses produksi makanan. Oven listrik dapat membantu proses pemanggangan berlangsung lebih praktis dan konsisten, sedangkan loyang mendukung pembentukan serta pengolahan berbagai jenis produk. Timbangan digital juga diperlukan untuk memastikan ketepatan takaran bahan, sehingga mutu, rasa, dan ukuran produk dapat dipertahankan ketika dibuat berulang kali.
Ridho berharap bantuan tersebut dimanfaatkan secara optimal dan tidak hanya disimpan setelah kegiatan berakhir. Peralatan itu dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sekaligus menjadi modal awal dalam mengembangkan rintisan usaha baru. Peserta dapat memulai produksi dalam skala kecil, menguji penerimaan produk di lingkungan terdekat, kemudian memperbaiki resep, kemasan, serta cara pemasaran berdasarkan pengalaman. Langkah bertahap ini memungkinkan warga membangun usaha sesuai kemampuan dan sumber daya yang tersedia.
Selain meningkatkan keterampilan pribadi, peserta diharapkan bersedia menyebarkan pengetahuan yang diperoleh kepada keluarga, tetangga, atau kelompok masyarakat di lingkungan masing-masing. Berbagi pengalaman mengenai pemilihan bahan, pengolahan yang higienis, penggunaan alat, dan penghitungan biaya produksi dapat memperluas manfaat pelatihan. Pengetahuan tersebut berpotensi mendorong lebih banyak warga memanfaatkan pangan lokal dan menciptakan kegiatan ekonomi produktif. Pada akhirnya, dukungan peralatan dan penguatan kapasitas warga diharapkan turut memperkuat kemandirian ekonomi keluarga di Jakarta Selatan.
Ketua TP PKK Jakarta Selatan, Azizah Syafrin, berharap pelatihan olahan pangan lokal dapat menjadi pijakan bagi para ibu peserta untuk terus berinovasi. Menurutnya, keterampilan yang diperoleh tidak berhenti pada kemampuan mengolah bahan pangan, tetapi perlu dikembangkan menjadi produk unggulan yang memiliki cita rasa, kemasan, dan nilai jual yang mampu bersaing. Kreativitas dalam memilih bahan baku lokal juga dapat membuka peluang lahirnya beragam produk rumahan sesuai kebutuhan dan selera masyarakat.
Azizah mendorong peserta untuk menjaga kualitas serta melakukan pengembangan secara bertahap, mulai dari penyempurnaan resep, peningkatan kebersihan proses produksi, hingga pemanfaatan pemasaran digital. Dengan langkah tersebut, usaha yang dirintis dari rumah berpotensi menjangkau konsumen yang lebih luas. Pengembangan usaha rumahan dinilai dapat ikut menggerakkan perekonomian masyarakat karena menciptakan aktivitas produktif, menambah penghasilan keluarga, dan membuka peluang kerja di lingkungan sekitar.
Ia juga berharap pelatihan serupa dapat kembali diadakan pada waktu mendatang dengan materi yang semakin beragam dan sesuai kebutuhan pelaku usaha. Keberlanjutan pembinaan penting agar peserta memperoleh pendampingan dalam pengelolaan usaha, pengemasan, pemasaran, serta pengurusan berbagai kebutuhan pendukung produksi. Terlebih, para peserta telah menerima bantuan peralatan yang dapat menunjang kegiatan produksi sekaligus mengurangi beban modal awal. Bantuan tersebut membuat mereka tidak perlu memikirkan pengadaan peralatan produksi secara mandiri, sehingga biaya yang tersedia dapat dialihkan untuk membeli bahan baku, memperbaiki kemasan, dan mengembangkan pemasaran. Dukungan berkelanjutan diharapkan memperkuat kemandirian warga serta menjadikan produk pangan lokal sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi Jakarta Selatan.

