KOTA PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 October 2026, Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mulai memberikan tekanan nyata terhadap produksi sayuran petani serta pasokan komoditas ke sejumlah pasar di Pontianak. Asap yang menyelimuti wilayah tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menghambat proses budidaya tanaman. Kondisi ini dirasakan kelompok tani yang tergabung dalam tujuh gabungan kelompok tani (gapoktan) di Pontianak Utara, salah satu kawasan yang memasok sayuran untuk kebutuhan harian masyarakat.
Dalam kondisi normal, petani di kawasan itu dapat menghasilkan sekitar 700 kilogram sayuran per hari. Namun, ketika kabut asap semakin pekat, hasil panen merosot tajam hingga hanya sekitar 30 kilogram per hari. Penurunan tersebut setara dengan sekitar 95 persen dari produksi normal. Berkurangnya hasil panen membuat ketersediaan sayuran di tingkat petani menyusut dan berpotensi memengaruhi kelancaran pasokan ke pasar Pontianak.
Minimnya paparan sinar matahari menjadi salah satu faktor utama yang menghambat pertumbuhan tanaman. Asap yang menutupi langit mengurangi intensitas cahaya yang dibutuhkan tanaman untuk menjalankan proses fotosintesis. Akibatnya, tanaman tumbuh lebih lambat, kualitasnya dapat menurun, dan sebagian hasil budidaya tidak mencapai ukuran panen yang diharapkan. Situasi tersebut semakin berat karena berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.
Cuaca kering membuat ketersediaan air bagi tanaman menjadi lebih terbatas, sementara tanaman tetap memerlukan kelembapan yang cukup untuk berkembang. Kombinasi kabut asap, berkurangnya sinar matahari, dan kemarau menyebabkan siklus produksi terganggu secara bersamaan. Bagi petani, dampaknya bukan hanya berupa penurunan volume panen, melainkan juga meningkatnya ketidakpastian dalam memenuhi permintaan pasar. Jika kondisi ini berlanjut, pasokan sayuran dari Pontianak Utara dapat tetap berada di bawah tingkat normal hingga cuaca membaik dan kualitas udara kembali mendukung kegiatan pertanian.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat kondisi tanaman sayuran di lahan petani Pontianak menurun drastis. Pakcoy, sawi manis, sawi keriting, dan kangkung tidak lagi tumbuh sebagaimana biasanya. Tanaman terlihat kerdil, daunnya mudah layu, serta tampak kurang segar ketika memasuki waktu perawatan maupun pemanenan. Berkurangnya paparan sinar matahari menjadi salah satu penyebab utama. Lapisan asap yang menyelimuti wilayah tersebut menghambat cahaya mencapai permukaan tanaman, sehingga proses pertumbuhan dan pembentukan daun tidak berlangsung optimal.
Dampaknya juga terlihat pada volume produksi kelompok tani. Satura menjelaskan, satu kelompok tani yang beranggotakan sekitar 10 hingga 20 orang biasanya mampu menghasilkan hingga 700 kilogram sayuran dalam sehari. Namun, ketika karhutla terjadi dan kabut asap semakin tebal, hasil panen merosot tajam menjadi sekitar 30 kilogram per hari. Penurunan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kualitas tanaman yang memburuk, tetapi juga banyak sayuran yang tidak berkembang hingga ukuran layak jual. Petani harus mengeluarkan waktu dan tenaga lebih besar untuk merawat tanaman yang pertumbuhannya tidak seragam.
Pengalaman serupa disampaikan Samudi melalui hasil produksi dalam satu galang tanaman. Dalam kondisi normal, satu galang biasanya dapat menghasilkan belasan hingga sekitar 20 kilogram sayuran. Kini, hasilnya hanya berada di kisaran 4 hingga 5 kilogram. Masa panen kangkung pun berubah cukup panjang. Jika sebelumnya kangkung dapat dipanen dalam 18 hingga 20 hari, selama paparan kabut asap petani harus menunggu lebih dari satu bulan. Pertumbuhan yang lambat membuat jadwal panen bergeser, sementara kebutuhan penyiraman dan pemeliharaan tetap berjalan. Situasi ini berpengaruh langsung terhadap pendapatan petani dan ketersediaan sayuran segar bagi masyarakat Pontianak.
Penurunan produksi akibat kabut asap turut mengganggu ketersediaan sayuran di pasar Pontianak. Petani tidak dapat mengirimkan jumlah panen seperti biasanya karena sebagian tanaman mengalami gangguan pertumbuhan, sementara kualitas sayuran yang tersisa juga tidak selalu seragam. Kondisi tersebut membuat pasokan menjadi tidak stabil. Pada hari tertentu, sayuran masih tersedia, tetapi jumlahnya terbatas sehingga pedagang harus menyesuaikan pembelian dan konsumen menghadapi pilihan yang lebih sedikit.
Ketidakseimbangan pasokan dan permintaan kemudian mendorong kenaikan harga. Berdasarkan informasi yang diterima Satura, harga sawi dan sawi keriting sempat berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram. Nilai tersebut jauh di atas harga normal di tingkat petani, yang umumnya berkisar Rp8 ribu sampai Rp12 ribu per kilogram. Saat pasokan melimpah, harga bahkan dapat turun menjadi sekitar Rp3 ribu hingga Rp5 ribu per kilogram. Perubahan yang lebar ini menunjukkan bahwa harga sayuran sangat bergantung pada jumlah produksi dan kelancaran distribusi.
Meski harga jual meningkat, kondisi tersebut tidak otomatis menambah keuntungan petani. Kenaikan harga terjadi ketika volume sayuran yang dapat dipanen dan dijual justru menurun. Dengan demikian, pendapatan keseluruhan belum tentu lebih besar karena keuntungan dari harga per kilogram harus menutup kehilangan jumlah penjualan, biaya perawatan, serta risiko kerusakan tanaman. Petani juga menghadapi ketidakpastian dalam menentukan waktu panen dan jumlah pengiriman kepada pedagang.
Satura menyampaikan bahwa harga mulai turun ketika kondisi sayuran perlahan membaik. Jika tanaman kembali tumbuh dan produksi meningkat, pasokan ke pasar dapat berangsur normal sehingga tekanan harga berkurang. Namun, pemulihan tersebut tetap bergantung pada kondisi udara, keberlanjutan perawatan, dan kemampuan petani mempertahankan kualitas panen hingga sampai ke konsumen.
Selain menurunkan hasil panen, kemarau dan kabut asap menambah tekanan bagi petani sayuran di Pontianak. Ketersediaan air menjadi persoalan utama karena sumber air di sekitar kebun semakin terbatas. Padahal, tanaman membutuhkan penyiraman lebih sering untuk menjaga kelembapan tanah dan mempertahankan pertumbuhan. Dalam kondisi tersebut, petani hanya dapat menyiram ketika air tersedia. Pola penyiraman yang tidak teratur membuat tanaman lebih mudah layu, terutama saat suhu meningkat dan paparan asap mengurangi kondisi ideal bagi tanaman.
Tekanan di lahan juga datang dari serangan hama. Di tengah kondisi karhutla dan cuaca kering, petani menemukan adanya serangan ulat pada sejumlah tanaman. Hama tersebut dapat merusak daun dan menghambat perkembangan sayuran apabila tidak segera ditangani. Petani pun perlu melakukan pengawasan lebih sering serta menyiapkan pengendalian hama, sementara tenaga dan biaya yang tersedia terbatas. Situasi ini membuat perawatan kebun menjadi lebih sulit ketika hasil panen justru mengalami penurunan.
Biaya produksi tetap berjalan meskipun jumlah sayuran yang dapat dipanen berkurang. Pengeluaran untuk pupuk menjadi salah satu beban utama yang dirasakan petani. Samudi menyebut harga pupuk mahal, sehingga pembelian sarana produksi harus diatur secara cermat agar kegiatan kebun tetap berlangsung. Kebutuhan lain, seperti benih, obat tanaman, tenaga kerja, dan air, juga turut menyerap modal. Dengan demikian, penurunan produksi tidak serta-merta mengurangi tanggungan pengeluaran petani.
Pada kondisi tertentu, pendapatan dari kebun dapat mencapai lebih dari Rp1 juta per bulan. Namun, penghasilan tersebut tidak sepenuhnya menjadi keuntungan karena harus digunakan kembali untuk membiayai produksi dan memenuhi kebutuhan lainnya. Petani berharap kabut asap dan kemarau segera berakhir. Kembalinya sinar matahari yang cukup serta ketersediaan air diharapkan dapat mendukung pertumbuhan tanaman secara normal, termasuk perkembangan akar, sehingga kebun kembali menghasilkan panen yang lebih baik.




