Pangkalpinang — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Investigasi Negara (LIN) Bangka Belitung menyoroti penanganan kasus dugaan kekerasan terhadap seorang anak berinisial G yang dinilai lamban dan sarat pencitraan. Ketua DPD LIN Babel, Ahmad Bustani, bersama jajaran Divisi LIN Babel dan DPC LIN Kota Pangkalpinang mempertanyakan kinerja pihak Kelurahan Sinar Bulan, Bhabinkamtibmas, Dinas Sosial, hingga PPA Kota Pangkalpinang.
Menurut Ahmad, berdasarkan hasil investigasi tim di lapangan, dugaan kekerasan terhadap anak tersebut telah terjadi sejak Januari 2026. Namun, korban baru mendapatkan perawatan pada 6 Mei 2026. Jeda waktu yang panjang itu dinilai sangat memprihatinkan dan menunjukkan lemahnya respons pihak terkait.
“Ini sangat kami sayangkan. Peristiwa sejak Januari, tapi penanganan baru dilakukan Mei 2026. Ini menyangkut masa depan seorang anak,” tegas Ahmad.

Ia mempertanyakan mengapa pihak kelurahan dan Bhabin yang disebut sudah mengetahui kondisi korban sejak lama tidak segera mengambil langkah konkret, termasuk memanggil dan memproses pihak orang tua yang diduga terlibat dalam tindak kekerasan tersebut.
“Jangan banyak pencitraan. Kalau perlu kita buka semua data yang kami miliki,” ujarnya.
Tim investigasi LIN Babel menyebut kondisi korban sangat memprihatinkan. Anak berusia 9 tahun itu diduga mengalami kekerasan fisik berat, mulai dari tulang punggung patah, tangan berkoreng hingga terdapat belatung, serta kaki yang membengkak. Ahmad menilai lambannya penanganan menunjukkan lemahnya kepedulian terhadap keselamatan anak.
“Viral dulu baru bertindak. Jadi kerja lurah apa? Ini soal nyawa dan masa depan anak,” katanya.
LIN Babel juga menyoroti kinerja Dinas Sosial dan PPA Kota Pangkalpinang yang dinilai lamban merespons laporan masyarakat. Ahmad bahkan menyebut pihaknya akan melayangkan surat ke BKD terkait evaluasi kinerja instansi tersebut.
“Jam istirahat sudah lewat kantor masih sepi. Jangan tunggu viral baru bergerak. Bagaimana kalau itu anak kalian sendiri?” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan hingga saat ini belum terlihat jaminan konkret terkait pembiayaan pengobatan korban. Ahmad menyebut bantuan justru datang secara pribadi dari Kepala RS DKT, dokter Yogi, yang membantu biaya pengobatan anak tersebut.
“Tapi yang membantu justru dokter Yogi secara pribadi. Itu yang patut diapresiasi,” katanya.
Sementara itu, Divisi Hukum dan HAM DPD LIN Babel, Edi Irawan, menegaskan bahwa kasus ini merupakan persoalan serius yang harus diusut tuntas. Menurutnya, keterangan korban mengenai dugaan kekerasan yang dilakukan orang tuanya sangat memilukan.
“Anak itu mengaku dilempar hingga punggungnya patah dan tangannya ditekuk sampai patah. Mendengar itu sangat menyayat hati. Ini harus menjadi perhatian serius aparat penegak hukum,” tegas Edi.

Ia juga meminta Kelurahan Sinar Bulan memberikan penjelasan terkait lambannya penanganan, mengingat kondisi korban disebut sudah mengalami cacat sejak Januari lalu.
“Kami ingin anak ini mendapatkan hak dan perlindungan sampai sembuh. Jangan semua dibebankan ke yayasan,” tambahnya.
Di sisi lain, Daniel J.L yang turut memantau kasus tersebut menjelaskan bahwa pihak kelurahan dan Bhabin telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial terkait rujukan korban ke LKSA/Panti Muara Kasih Bunda guna mendapatkan penanganan lanjutan, termasuk pengurusan identitas, BPJS PBI, layanan kesehatan, hingga pemulihan trauma psikis.

Ketua Yayasan Muara Kasih, Ayu, juga menyampaikan bahwa informasi yang diterima pihaknya menyebut dugaan kekerasan terhadap korban sudah berlangsung sejak tahun lalu.
“Dari keterangan anak, kekerasan terjadi saat ayah kandungnya masih di penjara. Setelah keluar, ayahnya terkejut melihat kondisi anak penuh luka. Artinya ini sudah terjadi sejak lama,” ungkap Ayu.
Kasus ini kini menjadi sorotan publik dan menimbulkan pertanyaan besar terkait respons pemerintah daerah serta aparat di tingkat kelurahan dalam menangani kasus perlindungan anak.
Humas : DPD LIN Babel
- PETI Tumalinting dan Gunung Bota Diduga “Kebal Hukum” GPN 08 Siap Kawal Kasus hingga Mabes Polri, ESDM, dan Kejagung
- Dugaan Kekerasan Anak 9 Tahun Gegerkan Pangkalpinang, DPD LIN Babel Soroti Lambannya Penanganan Pemkot
- TNI AL Gagalkan Penyelundupan 16 Ton Pasir Timah di PIK 2: Dari Mana Asalnya, Siapa Pemiliknya?







