Gowa, Sulawesi Selatan —Di tengah percepatan modernisasi sektor pertanian nasional, sebuah pemandangan berbeda justru terlihat di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku, Kabupaten Gowa. Panen padi dilakukan secara manual, meski lembaga ini dikenal sebagai pusat pelatihan mekanisasi pertanian di bawah Kementerian Pertanian.
Langkah ini sontak memunculkan pertanyaan publik. Apakah ini bentuk keterbatasan, atau justru strategi yang memiliki nilai edukasi?
Kepala BBPP Batangkaluku, Dr. Ir. Jamaluddin Al Afgani, M.P., menegaskan bahwa kegiatan panen manual tersebut bukanlah bentuk kemunduran, melainkan bagian dari metode pembelajaran langsung bagi petani dan masyarakat.
“Sebagian kecil kita panen manual untuk memberikan perbandingan nyata. Sisanya tetap menggunakan mekanisasi,” jelasnya saat ditemui di lahan praktik BBPP Batangkaluku, Jumat pagi.
BBPP Batangkaluku sendiri selama ini dikenal sebagai pusat pengembangan mekanisasi pertanian, mulai dari proses olah lahan, tanam, hingga panen menggunakan alat modern seperti combine harvester. Dalam praktiknya, mekanisasi terbukti mampu mempercepat proses panen secara signifikan.
Untuk lahan seluas dua hektare, panen dengan mesin dapat diselesaikan hanya dalam satu hari. Bandingkan dengan metode manual yang membutuhkan waktu jauh lebih lama serta tenaga kerja lebih banyak.
Namun demikian, pendekatan manual tetap dipertahankan dalam skala terbatas. Salah satu alasannya adalah untuk memperoleh jerami secara utuh, yang kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
“Jerami hasil panen manual ini kita fermentasi agar bisa digunakan sebagai pakan ternak dalam jangka waktu lama. Ini solusi di tengah keterbatasan pakan,” tambah Jamaluddin.
Langkah ini menunjukkan bahwa modernisasi pertanian tidak serta-merta meninggalkan prinsip pemanfaatan sumber daya lokal. Justru, integrasi antara teknologi dan kearifan lokal menjadi kekuatan utama dalam menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan.
Lebih jauh, BBPP Batangkaluku kini tengah menyiapkan terobosan baru melalui penerapan Advanced Agricultural System, sebuah konsep pertanian modern yang diadopsi dari praktik di Arkansas, Amerika Serikat.
Sistem ini diklaim mampu meningkatkan produktivitas hingga mencapai 10 ton per hektare. Jika berhasil diterapkan secara luas, metode ini berpotensi menjadi game changer dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional.
Program percontohan tersebut juga akan menjadi sarana pembelajaran langsung bagi petani dan penyuluh pertanian yang datang ke BBPP Batangkaluku.
Pengamat menilai, pendekatan yang dilakukan BBPP Batangkaluku mencerminkan arah baru pembangunan pertanian Indonesia—tidak hanya fokus pada teknologi, tetapi juga pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Dengan menggabungkan mekanisasi, edukasi, serta pemanfaatan sumber daya lokal, transformasi pertanian diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Di tengah tantangan global dan kebutuhan pangan yang terus meningkat, langkah seperti ini menjadi sinyal kuat bahwa pertanian Indonesia tengah bergerak menuju era baru—lebih modern, efisien, namun tetap berpijak pada kearifan lokal.

