JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 October 2026, PT ITSEC Asia Tbk akan menyelenggarakan forum eksekutif AI Cybersecurity Exchange (AICX) 2026 di Bali pada 20 Oktober 2026. Agenda tersebut menjadi bagian dari rangkaian Bali Tech Week 2026, yang menempatkan perkembangan teknologi sebagai salah satu perhatian penting. Melalui forum ini, pembahasan mengenai kecerdasan buatan dan keamanan siber akan mendapat ruang dalam agenda yang ditujukan bagi kalangan eksekutif.
Penyelenggaraan AICX 2026 berlangsung ketika perhatian dunia terhadap kecerdasan buatan, atau artificial intelligence (AI), terus meningkat. Teknologi tersebut berkembang dari sekadar wacana inovasi menjadi bagian dari pembahasan strategis di berbagai organisasi. Perkembangan itu mendorong perusahaan dan institusi untuk memahami manfaat, penerapan, serta tantangan yang dapat muncul seiring penggunaan AI dalam kegiatan operasional dan pengambilan keputusan.
Di tengah meningkatnya perhatian tersebut, pelaku bisnis berlomba menghadirkan teknologi AI ke dalam organisasinya, termasuk di Indonesia. Dorongan untuk mengadopsi AI perlu berjalan seiring dengan perhatian terhadap tata kelola dan risiko keamanan siber. Semakin luas teknologi digunakan, semakin penting pula bagi organisasi untuk mempertimbangkan cara penerapannya secara bertanggung jawab dan aman. Dalam konteks inilah AICX 2026 di Bali menjadi agenda yang relevan, karena mempertemukan pembahasan mengenai perkembangan AI dengan isu keamanan siber yang menyertainya. Kehadirannya sebagai bagian dari Bali Tech Week 2026 turut menegaskan bahwa diskusi teknologi perlu mencakup bukan hanya peluang inovasi, tetapi juga kesiapan organisasi dalam mengelola dampaknya.
AICX 2026 dirancang sebagai ruang pertemuan bagi para pemimpin pemerintah, pelaku dunia usaha, dan perwakilan sektor teknologi untuk membahas arah perkembangan kecerdasan buatan secara menyeluruh. Forum ini mempertemukan pihak-pihak yang memiliki peran berbeda, tetapi saling berkaitan dalam membentuk ekosistem digital. Pemerintah berperan menetapkan kebijakan dan standar, dunia usaha mengembangkan serta menggunakan solusi berbasis AI, sedangkan sektor teknologi menyediakan infrastruktur, keahlian, dan inovasi yang mendukung penerapannya.
Pembahasan dalam forum tersebut tidak berhenti pada peluang pemanfaatan AI untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, atau kualitas layanan. Salah satu perhatian utamanya adalah tata kelola AI, termasuk kebutuhan akan aturan yang jelas, mekanisme pengawasan, transparansi pengambilan keputusan, serta pertanggungjawaban ketika teknologi digunakan dalam berbagai bidang. Kerangka pengelolaan yang baik diperlukan agar pengembangan AI tetap sejalan dengan kepentingan publik, prinsip etika, perlindungan data, dan kepastian bagi organisasi yang menerapkannya.
Selain tata kelola, strategi keamanan siber menjadi agenda penting seiring meluasnya ketergantungan pada sistem digital dan kecerdasan buatan. Forum ini membahas cara memperkuat perlindungan infrastruktur, mengantisipasi serangan, mengelola kerentanan, dan meningkatkan kemampuan pemulihan ketika insiden terjadi. Diskusi juga diarahkan pada kesiapan menghadapi teknologi masa depan, termasuk perubahan risiko yang mungkin muncul dari sistem yang semakin terhubung dan otomatis. Dengan demikian, AICX 2026 tidak hanya membicarakan bagaimana AI dapat diterapkan, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dikelola, diamankan, dan dikembangkan secara bertanggung jawab. Pertemuan lintas sektor ini diharapkan mendorong kesamaan pemahaman, memperkuat kerja sama, serta membantu membangun kesiapan menghadapi perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
President Director PT ITSEC Asia Tbk, Patrick Dannacher, menyampaikan bahwa AICX 2026 diarahkan untuk mendukung pengembangan ekosistem digital Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers AICX 2026 di Jakarta pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Menurut Patrick, forum ini menempatkan pengembangan dan pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) sebagai bagian dari pembahasan mengenai masa depan ekosistem digital. Fokusnya tidak hanya pada pemanfaatan teknologi, tetapi juga pada upaya mendorong adopsi AI yang bertanggung jawab. Pendekatan tersebut mencakup penggunaan AI dengan mempertimbangkan aspek keamanan, tata kelola, serta dampaknya terhadap berbagai pihak dalam ekosistem digital.
Ia menjelaskan bahwa penguatan ekosistem digital perlu berjalan seiring dengan peningkatan ketahanan digital. Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting di tengah meningkatnya risiko siber yang dapat memengaruhi organisasi, pelaku usaha, lembaga pemerintahan, maupun masyarakat. Karena itu, pengembangan teknologi perlu disertai kesiapan untuk mengidentifikasi, mengelola, dan merespons risiko keamanan siber.
Dalam konteks tersebut, AICX 2026 berfokus pada dua hal yang saling berkaitan, yakni mendorong pemanfaatan AI secara bertanggung jawab dan memperkuat kemampuan menghadapi ancaman digital. Forum ini membahas kebutuhan untuk membangun ekosistem yang dapat mendukung inovasi sekaligus memperhatikan prinsip keamanan dan tata kelola.
Pernyataan Patrick menegaskan posisi AICX 2026 sebagai forum yang membicarakan pengembangan ekosistem digital Indonesia secara menyeluruh. Pembahasan mengenai AI dan keamanan siber ditempatkan dalam kerangka penguatan kesiapan digital, sehingga adopsi teknologi dapat berlangsung dengan memperhatikan tanggung jawab serta ketahanan terhadap risiko yang terus berkembang.
Pembahasan AICX 2026 tidak berhenti pada tata kelola kecerdasan artifisial dan risiko keamanan siber yang dihadapi saat ini. Forum ini juga mengarahkan perhatian pada implikasi teknologi masa depan, termasuk komputasi kuantum. Perkembangan tersebut berpotensi mengubah cara organisasi memproses informasi, melindungi data, dan mengambil keputusan strategis. Karena itu, komputasi kuantum perlu dipahami bukan hanya sebagai kemajuan teknis, melainkan sebagai perkembangan yang dapat memengaruhi keamanan, dunia bisnis, dan kehidupan masyarakat.
Dalam aspek keamanan, kemampuan komputasi yang semakin maju dapat memunculkan pertanyaan baru mengenai ketahanan sistem perlindungan data dan infrastruktur digital. Dari sisi bisnis, perubahan teknologi dapat memengaruhi model operasional, kebutuhan investasi, serta kesiapan perusahaan menghadapi persaingan. Sementara itu, masyarakat akan berhadapan dengan konsekuensi yang lebih luas, terutama terkait kepercayaan, perlindungan informasi, dan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab. Perspektif lintas bidang diperlukan agar pembahasan mengenai teknologi masa depan tetap relevan dengan kebutuhan publik.
Rangkaian pembahasan tersebut berlangsung dalam konteks Bali Tech Week 2026, yang dijadwalkan pada 19-23 Oktober 2026 di Bali Beach Convention Center, Bali. Penyelenggara menyiapkan festival teknologi ini sebagai rangkaian yang mencakup 13 acara. Pelaksanaannya melibatkan organisasi lokal, perguruan tinggi, pelaku industri, serta pemerintah, sehingga penyelenggaraan dapat mempertemukan berbagai unsur yang berkepentingan terhadap perkembangan teknologi.
Bali Tech Week 2026 juga membuka ruang partisipasi bagi mahasiswa, investor, pendiri perusahaan rintisan atau founder, pembuat kebijakan, dan akademisi. Keterlibatan kelompok-kelompok tersebut memberikan kesempatan untuk memperluas pertukaran pandangan mengenai tantangan dan peluang teknologi. Dengan demikian, rangkaian ini menjadi wadah bagi berbagai pemangku kepentingan untuk mengikuti percakapan tentang keamanan, bisnis, dan dampak sosial dari inovasi yang terus berkembang.


